RADARSITUBONDO.ID - Nama Nil Maizar kembali muncul dalam pembicaraan mengenai masa depan John Herdman di Timnas Indonesia. Presiden klub Semen Padang Andre Rosiade sempat melontarkan candaan agar Herdman digantikan Nil Maizar apabila Skuad Garuda gagal memenuhi target pada FIFA ASEAN Cup 2026.
Pernyataan itu muncul setelah Indonesia gagal melaju ke semifinal ASEAN Hyundai Cup atau Piala AFF 2026. Andre menilai peluang Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 seharusnya terbuka lebar karena turnamen tersebut digelar di Indonesia dan berlangsung dalam periode FIFA Matchday.
"Ya, FIFA ASEAN harusnya wajib menang dong. Masa lawan Bangladesh kita tidak juara, gitu lho. Kalau tidak juara, ya John Herdman lebih baik ganti sama Nilmaizar sajalah," kata Andre.
Namun, pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks candaan, bukan pengumuman atau keputusan resmi mengenai pergantian pelatih Timnas Indonesia.
Indonesia gagal di Piala AFF 2026
Sorotan terhadap Herdman menguat setelah Indonesia gagal mencapai semifinal ASEAN Hyundai Cup 2026.
Indonesia menelan kekalahan 0-3 dari Vietnam pada pertandingan Grup A di Stadion Pakansari, Bogor, 3 Agustus 2026. Pada laga terakhir grup, Indonesia hanya bermain imbang 1-1 melawan Singapura di Stadion Jalan Besar, 7 Agustus.
Hasil tersebut membuat Indonesia mengakhiri fase grup di posisi ketiga dengan tujuh poin. Vietnam menjadi juara grup dengan 10 poin, sedangkan Singapura menempati posisi kedua dengan delapan poin dan berhak melaju ke semifinal.
Indonesia sebenarnya membutuhkan kemenangan atas Singapura untuk memastikan tempat di semifinal. Ragnar Oratmangoen sempat membawa Garuda unggul pada menit ke-47, tetapi Ilhan Fandi menyamakan kedudukan pada menit ke-66. Hasil 1-1 memastikan Singapura lolos ke babak berikutnya.
Kegagalan tersebut kemudian memunculkan evaluasi terhadap kinerja Herdman. Namun, masa depan pelatih tetap menjadi kewenangan PSSI.
Kurniawan Dwi Yulianto minta keputusan diserahkan kepada PSSI
Legenda Timnas Indonesia Kurniawan Dwi Yulianto tidak ingin terburu-buru menyimpulkan masa depan Herdman hanya berdasarkan hasil satu turnamen.
Menurut Kurniawan, setiap pelatih seharusnya memberikan laporan setelah sebuah turnamen selesai, baik ketika tim mencapai target maupun ketika hasilnya tidak sesuai harapan. Laporan tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi federasi.
"Jadi masing-masing pelatih itu kan setiap event itu harus ada report. Mau berhasil atau enggak itu harus menyampaikan report-nya dan dari federasi yang akan mengevaluasi," ujar Kurniawan dalam podcast Ruang Bola, dikutip Kamis, 27 Agustus 2026.
Ia menilai keputusan mengenai kontrak dan masa depan Herdman merupakan kewenangan PSSI. Karena itu, proses tersebut harus mengikuti ketentuan yang berlaku.
"Jadi kita serahkan semua ke federasi, karena semua kan ada aturannya, enggak bisa juga kita memaksa. Ya kalau ngikutin emosi kan pasti iya," katanya.
Kurniawan juga menegaskan bahwa jika PSSI akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan Herdman, prosesnya harus mengikuti ketentuan dalam kontrak.
"Kalaupun memang harus diberhentikan ya harus ikut cara yang sesuai dengan kontraknya," kata dia.
Meski demikian, Kurniawan berharap Herdman tetap mampu membawa Indonesia meraih hasil terbaik pada agenda berikutnya.
"Tapi ya saya coba positive thinking aja lah. Dengan skuad yang ada, ya mudah-mudahan insya Allah juara," ujar Kurniawan.
Rekam jejak Nil Maizar di Timnas Indonesia
Nil Maizar bukan sosok asing dalam sepak bola nasional. Pelatih kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat, 2 Januari 1970, itu pernah menjadi pemain Semen Padang sebelum beralih ke dunia kepelatihan.
Sebagai pemain, Nil pernah memperkuat Semen Padang dan menjadi bagian dari tim yang menjuarai Piala Galatama 1992 setelah mengalahkan Arema Malang 1-0 pada pertandingan final. Ia kemudian memperkuat PSP Padang sebelum mengakhiri karier sebagai pemain pada 1999.
Nil juga sempat menjalani pengalaman di Eropa. Pada 1990, ia disebut menjalani masa magang selama sekitar enam bulan di AC Sparta Praha, Republik Ceko.
Karier kepelatihannya berkembang bersama Semen Padang. Ia kemudian dipercaya menangani Timnas Indonesia pada 2012. Dalam periode tersebut, Nil menghadapi situasi sulit karena dualisme kompetisi sepak bola Indonesia turut memengaruhi ketersediaan pemain untuk tim nasional.
Salah satu turnamen yang dijalaninya adalah Piala AFF 2012. Indonesia gagal lolos dari fase grup setelah mengakhiri Grup B di posisi ketiga.
Pada 2013, PSSI kemudian mengakhiri masa kerja Nil sebagai pelatih tim nasional setelah Luis Manuel Blanco masuk dalam struktur kepelatihan.
Setelah meninggalkan tim nasional, Nil sempat terjun ke politik. Ia maju sebagai calon anggota DPR RI dari Partai NasDem pada Pemilu 2014 untuk daerah pemilihan Sumatera Barat II. Setelah itu, ia kembali menekuni karier kepelatihan di level klub.
FIFA ASEAN Cup menjadi tantangan berikutnya
Kegagalan di Piala AFF 2026 tidak berarti Indonesia langsung memasuki agenda FIFA ASEAN Cup dalam kondisi tanpa target.
FIFA ASEAN Cup 2026 merupakan turnamen berbeda dari ASEAN Hyundai Cup 2026. Indonesia menjadi tuan rumah Premier Division dan tergabung di Grup A bersama Malaysia, Singapura, serta Bangladesh. Turnamen dijadwalkan berlangsung mulai 24 September hingga awal Oktober 2026.
Indonesia akan menghadapi Singapura pada 25 September, Malaysia pada 28 September, dan Bangladesh pada 1 Oktober. Jika menjadi juara grup, Indonesia akan tampil di final Premier Division pada 5 Oktober 2026.
Situasi tersebut membuat FIFA ASEAN Cup menjadi ujian berikutnya bagi Herdman. Namun, apakah pelatih asal Inggris itu tetap menangani Timnas Indonesia atau tidak merupakan keputusan yang berada di tangan PSSI.
Untuk saat ini, nama Nil Maizar baru muncul dalam konteks candaan Andre Rosiade. Belum ada keputusan resmi PSSI yang menyatakan Herdman akan diganti atau Nil Maizar ditunjuk sebagai pelatih baru.
Editor : Agung Sedana