Liga Indonesia Disebut Punya Level Persaingan Tertinggi di Asia Tenggara

Bayu Shaputra • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:19 WIB
Persib Bandung berhasil keluar menjadi juara BRI Super League musim 2025/2026. (Instagram/persib)
Persib Bandung berhasil keluar menjadi juara BRI Super League musim 2025/2026. (Instagram/persib)

 

RADARSITUBONDO.ID - Liga Indonesia disebut memiliki level persaingan tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Tingginya kompetisi menjadi salah satu indikator yang membuat sepak bola Indonesia dinilai semakin menarik.

Direktur Komersial I.League Sadikin Aksa mengungkapkan penilaian tersebut mengacu pada data Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).

Menurut dia, aspek competitiveness atau tingkat persaingan menjadi salah satu ukuran penting dalam melihat kualitas sebuah kompetisi.

Sadikin menilai Liga Indonesia memiliki persaingan yang cukup tinggi karena perebutan gelar juara tidak hanya ditentukan sejak jauh-jauh hari. Salah satu gambaran paling jelas terlihat pada persaingan musim lalu antara Persib Bandung dan Borneo FC Samarinda.

Baca Juga: Chelsea Bayar Rp800 Miliar untuk Bek Muda Honest Ahanor, Tapi Malah Dikirim ke Klub Lain

Persib dan Borneo FC terlibat dalam perebutan posisi teratas hingga pekan-pekan terakhir kompetisi. Persaingan tersebut akhirnya dimenangkan Persib yang sukses mengamankan gelar juara sekaligus mencatatkan trofi ketiganya secara beruntun.

Meski Persib kembali keluar sebagai kampiun, Sadikin menilai dominasi sebuah klub tidak serta-merta membuat kompetisi kehilangan daya saing. Justru, proses menuju gelar juara menunjukkan adanya persaingan ketat antarklub.

”Kalau kita melihat competitiveness level kita, biarpun Persib juara tiga kali berturut-turut, tetapi pada saat Persib mau juara, itu ada kompetitif yang cukup tinggi, apalagi tahun lalu sampai minggu terakhir," kata Sadikin Aksa kepada awak media dalam diskusi Water Break PSSI Pers, dikutip dari JawaPos.

Baca Juga: Ramon Tanque Resmi Dipinjamkan Persib ke Klub India Chennaiyin FC

Menurut Sadikin, kondisi tersebut menjadi pembeda ketika Liga Indonesia dibandingkan dengan sejumlah kompetisi di Asia Tenggara.

Dia kemudian mengambil contoh kompetisi di Malaysia yang dalam beberapa tahun terakhir banyak didominasi Johor Darul Ta'zim (JDT).

JDT diketahui menjadi kekuatan dominan di kompetisi sepak bola Malaysia. Dominasi tersebut menjadi salah satu alasan Sadikin menilai tingkat persaingan di Negeri Jiran berbeda dengan yang terjadi di Indonesia.

”Tetapi, kalau kita bandingkan Malaysia, Malaysia itu yang namanya JDT sudah berapa tahun, lebih dari sepuluh tahun juara berturut-turut. Sebelas kali juara, ada persaingan tidak di situ? Begitulah cara penilaiannya,” tutur Sadikin.

Baca Juga: Igor Tolic Tak Mau Larut dalam Euforia, Persib Bandung Bersiap Hadapi PSM Makassar

Dia juga membandingkan kondisi tersebut dengan kompetisi di Thailand. Menurut Sadikin, persaingan perebutan gelar di Thailand dalam kurun waktu tertentu juga lebih banyak melibatkan klub-klub yang sama.

”Di Thailand, kalau tidak salah empat tim, Buriram United, Port FC, Bangkok United, sama satu lagi, sepuluh tahun yang bersaing cuma itu saja. Sedangkan kita di Indonesia ini, kalau dilihat competitiveness level-nya tinggi,” tambah Sadikin.

Penilaian mengenai tingginya competitiveness Liga Indonesia tersebut dinilai tidak hanya berdampak terhadap persaingan di dalam lapangan. Menurut Sadikin, kompetisi yang ketat juga menjadi salah satu daya tarik bagi sponsor.

Klub-klub di Indonesia memiliki peluang mendapatkan perhatian lebih besar ketika persaingan kompetisi berlangsung terbuka. Kondisi itu membuat Liga Indonesia memiliki nilai jual tersendiri di mata pihak yang ingin terlibat dalam industri sepak bola.

Sadikin menyebut level persaingan yang tinggi juga mulai berkaitan dengan ketertarikan pemain dari berbagai level kompetisi sepak bola dunia untuk berkarier di Indonesia.

”Di situlah sebenarnya sponsor melihat. Wah, Indonesia ini competitiveness level-nya tinggi, dan itu datang dari AFC, bukan dari kami, data itu dari AFC,” ujar Sadikin.

Baca Juga: Drama Striker Anyar Juventus: Zirkzee Tersendat, Woltemade Jadi Pilihan Baru

Menurut dia, keberadaan pemain dengan pengalaman dari kompetisi yang lebih tinggi turut menjadi gambaran meningkatnya perhatian terhadap sepak bola Indonesia. Hal tersebut menjadi salah satu dampak yang menurutnya mulai terlihat dari semakin kompetitifnya Liga Indonesia.

”Buktinya banyak sekarang, banyak dibilang pemain-pemain yang main di sini ter-tier, dulunya, ya. Sekarang second tier atau first tier saja sudah ada yang melihat,” tutur Sadikin.

Editor : Bayu Shaputra
Sumber : Jawa Pos
I League asean Super League