RADARSITUBONDO.ID - Jose Mourinho kembali berada di posisi yang cukup emosional ketika Real Madrid harus berhadapan dengan Inter Milan di Liga Champions.
Namun, kenangan panjang bersama Nerazzurri tidak membuat Mourinho menganggap pertandingan tersebut sebagai laga yang berbeda dari pertandingan lainnya.
Mourinho memang memiliki hubungan erat dengan Inter. Dua musim menangani klub asal Italia tersebut menjadi salah satu periode paling berkesan dalam perjalanan kariernya sebagai pelatih.
Baca Juga: Tiga Bandara Kembali Layani Penerbangan Setelah Terdampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Namun, ketika pertandingan dimulai, semua hubungan masa lalu itu harus ditempatkan di luar lapangan.
Mourinho kini datang dengan status sebagai pelatih Real Madrid. Karena itu, Inter Milan yang pernah menjadi bagian penting dalam kariernya harus diperlakukan sebagai lawan.
"Di Inter, mereka melihat saya sebagai teman, tidak diragukan lagi," kata Mourinho dalam laman Real Madrid pada Senin (7/9).
Pernyataan tersebut menggambarkan hubungan yang masih terjaga antara Mourinho dan Inter. Meski sudah lama meninggalkan klub, pria asal Portugal itu tetap memiliki ikatan emosional dengan lingkungan Nerazzurri.
Akan tetapi, Mourinho memahami bahwa situasinya berbeda ketika pertandingan berlangsung. Identitasnya sebagai pelatih Real Madrid membuatnya harus sepenuhnya fokus terhadap kepentingan tim yang kini ditanganinya.
"Selama pertandingan, saya tidak berpikir mereka akan melihat saya sebagai teman ketika saya menjadi pelatih Real Madrid," ujarnya.
Mourinho pun tidak menutup kemungkinan menunjukkan sisi personalnya kepada sejumlah orang di kubu Inter. Salah satunya Cristian Chivu, sosok yang pernah menjadi anak asuhnya ketika Mourinho masih menangani Inter Milan.
Baca Juga: Tiga Bulan Tak Pulang, Siswi Selomukti Diduga Dibawa Lari Mantan Tunangan
Kini, Chivu justru berdiri di sisi berlawanan. Mantan bek Inter tersebut telah melanjutkan karier kepelatihannya dan menjadi nahkoda Nerazzurri.
Pertemuan Mourinho dengan Chivu menjadi salah satu sisi menarik dari duel Real Madrid kontra Inter Milan. Keduanya memiliki sejarah bersama, tetapi harus mengesampingkannya ketika pertandingan sudah dimulai.
"Chivu adalah salah satu mantan pemain saya, Inter juga salah satu yang saya latih dan akan selalu begitu. Saya sangat menyayangi Chivu dan senang melihat semuanya berjalan baik untuknya," tutur Mourinho.
Mourinho bahkan mengaku tidak keberatan menunjukkan rasa hormat kepada Chivu sebelum dan setelah pertandingan. Namun, ia memberikan batas yang jelas mengenai kapan hubungan personal tersebut harus dihentikan sementara.
"Saya akan senang memeluknya sebelum pertandingan dan sesudah pertandingan, tetapi tidak selama pertandingan," lanjutnya.
Baca Juga: Antrean BBM Kembali Mengular, Pertamina Alihkan Pasokan Lewat Tiga Wilayah
Pernyataan itu sekaligus menunjukkan bagaimana Mourinho memandang pertandingan tersebut. Hubungan personal tetap ada, tetapi profesionalisme sebagai pelatih harus menjadi prioritas selama 90 menit pertandingan.
Bagi Mourinho, Inter Milan bukan sekadar klub yang pernah dilatih. Nerazzurri menjadi salah satu bagian terbesar dalam perjalanan kariernya dan memberikan salah satu pencapaian paling bersejarah dalam karier kepelatihannya.
Mourinho menangani Inter Milan sejak 2008 hingga 2010. Puncak keberhasilannya bersama klub tersebut terjadi pada musim 2009/2010.
Pada musim tersebut, Mourinho membawa Inter mencatatkan sejarah dengan meraih treble. Inter berhasil menyapu tiga gelar utama, yakni Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions.
Prestasi itu membuat nama Mourinho semakin melekat dalam sejarah Inter. Kesuksesan tersebut tidak hanya memberikan trofi, tetapi juga membangun hubungan emosional yang kuat antara Mourinho dan para pendukung klub.
Momen terbesar terjadi pada final Liga Champions 2010. Bermain di Santiago Bernabeu, Inter Milan menghadapi Bayern Muenchen dalam pertandingan yang kemudian menjadi salah satu laga paling bersejarah bagi klub Italia tersebut.
Inter keluar sebagai pemenang dengan skor 2-0. Dua gol Diego Milito memastikan trofi Liga Champions menjadi milik Nerazzurri sekaligus melengkapi pencapaian treble mereka pada musim tersebut.
Kemenangan itu juga membuat Mourinho semakin dicintai pendukung Inter. Sosoknya dikenang sebagai pelatih yang membawa klub meraih pencapaian tertinggi di kompetisi Eropa.
Tidak lama setelah keberhasilan tersebut, Mourinho meninggalkan Inter pada 2010. Ia kemudian melanjutkan karier dengan menangani Real Madrid.
Editor : Bayu ShaputraSumber : berbagai sumber