RADARSITUBONDO.ID - Meta memperkenalkan dua model kecerdasan artifisial (AI) terbaru, Muse Wonder dan Muse Wonder Full.
Keduanya menjadi model AI kelas atas (frontier model) pertama yang dikembangkan perusahaan untuk menangani tugas-tugas kompleks, termasuk pemrograman dan pengolahan informasi dalam jangka panjang.
Kedua model tersebut dikembangkan oleh Superintelligence Lab milik Meta. Berdasarkan laporan TechCrunch pada Senin (12/10) waktu setempat, Muse Wonder dan Muse Wonder Full dirancang untuk menghadirkan kemampuan lebih tinggi dibandingkan Muse Spark, model AI ringan yang sebelumnya dikembangkan untuk memberikan respons dengan latensi rendah.
Baca Juga: FFWS Indonesia 2027 Segera Hadir, Tim Tanah Air Berebut Tiket ke Turnamen Internasional
Peluncuran dua model baru ini menandai perubahan arah pengembangan AI Meta. Perusahaan tidak hanya berfokus pada kecepatan respons, tetapi juga meningkatkan kemampuan model dalam menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan penalaran lebih kompleks.
“Bersama-sama, keduanya menandai langkah berikutnya dalam peningkatan skala model kami dan lompatan besar menuju kecerdasan super personal,” tulis Meta dalam pengumuman resminya.
Meta mengklaim Muse Wonder dan Muse Wonder Full memiliki skala lebih besar, skor pengujian lebih tinggi, serta kemampuan yang lebih baik dalam menangani berbagai tugas kompleks.
Salah satu kemampuan yang menjadi perhatian adalah pemrograman, yang membutuhkan pemahaman instruksi, penalaran, dan penyelesaian masalah secara bertahap.
Berdasarkan hasil pengujian internal Meta, kedua model tersebut mencatat skor tolok ukur yang sebanding dengan Fable 5.1 dari Anthropic dan GPT-6 Astra dari OpenAI.
Hasil tersebut menjadi salah satu indikator peningkatan kemampuan model AI yang dikembangkan Meta.
Meski demikian, hasil pengujian tersebut merupakan klaim berdasarkan evaluasi Meta. Perbandingan kemampuan antarmodel AI tetap perlu mempertimbangkan jenis tolok ukur, metode pengujian, serta tugas yang digunakan dalam evaluasi.
Baca Juga: Viral Pria Tinggal Sendirian di Hutan Tampora, Bupati Situbondo Turun Tangan
Harga Muse Wonder Tembus 20 Dolar AS per Juta Token Output
Peningkatan kemampuan Muse Wonder dan Muse Wonder Full turut diikuti struktur biaya penggunaan yang lebih tinggi. Melalui Meta Model API, Muse Wonder dibanderol 4 dolar AS untuk setiap satu juta token input dan 20 dolar AS untuk setiap satu juta token output.
Token input merupakan unit teks atau data yang diproses model ketika menerima instruksi dari pengguna. Sementara itu, token output merupakan unit yang dihasilkan model dalam bentuk jawaban atau keluaran lainnya.
Struktur harga tersebut menempatkan Muse Wonder pada kisaran biaya yang sebanding dengan GPT-6 Sol milik OpenAI dan Opus 5.5 dari Anthropic.
Harga ini menjadi salah satu pertimbangan bagi pengembang yang ingin menggunakan model AI dengan kemampuan lebih tinggi untuk membangun aplikasi maupun mengotomatiskan pekerjaan.
Sementara itu, Muse Wonder Full memiliki akses yang lebih terbatas. Meta hanya menyediakan model tersebut bagi pelanggan Muse Code dan tidak menghadirkannya melalui API.
Kedua model juga akan digunakan untuk mendukung kemampuan Muse, agen AI milik Meta. Integrasi ini memungkinkan teknologi dari model terbaru perusahaan dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan agen AI dalam menjalankan tugas yang lebih kompleks.
Perbedaan akses tersebut menunjukkan bahwa Meta menyediakan jalur penggunaan yang berbeda untuk kedua modelnya. Muse Wonder dapat diakses melalui API, sedangkan Muse Wonder Full ditujukan bagi pelanggan Muse Code.
Baca Juga: Satu Napi Rutan Situbondo Dapat Cuti Bersyarat, Keluar Wajib Lapor ke Bapas
Active Memory Jadi Andalan AI Personal Meta
Selain meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan tugas kompleks, Muse Wonder dan Muse Wonder Full dibekali kemampuan yang disebut active memory.
Fitur ini dirancang agar model dapat menyimpan dan menyatukan informasi yang diberikan pengguna dalam jangka waktu panjang.
Melalui kemampuan tersebut, model AI diharapkan mampu mengingat informasi penting mengenai pengguna selama berhari-hari, berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan.
Informasi dari interaksi sebelumnya kemudian dapat digunakan untuk menyesuaikan respons ketika pengguna kembali memberikan instruksi.
Fitur memori jangka panjang menjadi bagian penting dalam pengembangan asisten AI personal.
Dengan kemampuan mengingat konteks sebelumnya, model tidak harus selalu memulai interaksi dari awal setiap kali pengguna mengajukan pertanyaan atau meminta bantuan.
Kemampuan ini juga berpotensi mendukung pekerjaan yang membutuhkan proses berkelanjutan.
Misalnya, asisten AI dapat membantu pengguna mengelola proyek dalam beberapa tahap dengan memanfaatkan informasi yang telah diberikan pada interaksi sebelumnya.
Namun, efektivitas fitur tersebut tidak hanya bergantung pada banyaknya informasi yang dapat disimpan.
Kemampuan memilih informasi yang relevan, menghubungkan konteks, dan menggunakan kembali informasi secara tepat juga menjadi faktor penting dalam menghasilkan respons yang sesuai kebutuhan pengguna.
Untuk mengukur kemampuan mengingat informasi, Meta menggunakan MemoryBench. Tolok ukur tersebut menguji kemampuan model dalam pembelajaran berkelanjutan dan pembentukan memori.
Menurut hasil pengujian internal perusahaan, Muse Wonder mencatat skor MemoryBench lebih tinggi dibandingkan Fable, Opus, dan Astra. Hasil itu menunjukkan bahwa Meta menempatkan kemampuan mengingat informasi sebagai salah satu aspek utama dalam pengembangan model terbarunya.
Peneliti Meta, Kavya Kopparapu, mengatakan perusahaan memberikan perhatian besar terhadap kemampuan model dalam mempertahankan informasi penting mengenai pengguna.
“Kami mencurahkan upaya yang sangat besar untuk memastikan model dapat mengingat hal-hal penting tentang Anda selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan seterusnya,” kata peneliti Meta Kavya Kopparapu.
Kemampuan memori jangka panjang tersebut sejalan dengan pengembangan AI yang tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk menjawab pertanyaan, tetapi juga sebagai asisten yang dapat mendukung aktivitas pengguna secara berkelanjutan.
Baca Juga: Macan Baluran Amankan Enam Motor Diduga Hasil Curanmor, Lima Orang Diciduk
Meta Perkuat Pengembangan AI Setelah Restrukturisasi
Muse Wonder dan Muse Wonder Full menjadi model AI kelas atas pertama Meta sejak Kepala Superintelligence Lab, Alexandr Wang, merombak upaya pengembangan AI perusahaan pada Agustus 2025.
Setelah restrukturisasi tersebut, Meta memperkenalkan Muse Spark sebagai model AI ringan dan Muse sebagai agen AI.
Namun, perusahaan belum merilis model dengan kemampuan mutakhir yang diposisikan sebagai pesaing langsung model andalan dari OpenAI dan Anthropic.
Kehadiran Muse Wonder dan Muse Wonder Full menjadi langkah lanjutan Meta untuk memperluas kemampuan teknologi AI yang dikembangkan secara internal.
Selain meningkatkan performa pada tugas kompleks, perusahaan juga berupaya mengembangkan model yang mampu memahami kebutuhan pengguna melalui informasi dari interaksi sebelumnya.
Meta menyebut kedua model tersebut dilatih menggunakan pusat data Prometheus yang berlokasi di Ohio, Amerika Serikat. Pusat data itu mulai beroperasi pada 2026.
Penggunaan infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya Meta untuk mendukung pengembangan model AI dengan skala lebih besar.
Pelatihan model kelas atas membutuhkan sumber daya komputasi yang besar, terutama untuk memproses data dan mengembangkan kemampuan dalam menjalankan tugas yang kompleks.
Editor : Bayu ShaputraSumber : berbagai sumber