RADARSITUBONDO.ID - Raksasa teknologi Meta melaporkan tengah mempertimbangkan langkah pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala besar yang berpotensi mempengaruhi hingga 20 persen dari total tenaga kerja.
Kebijakan tersebut disebut sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk mengimbangi investasi masif pada infrastruktur kecerdasan buatan (AI) serta meningkatkan efisiensi operasional di era otomatisasi digital.
Informasi ini pertama kali diungkapkan oleh sejumlah sumber yang mengetahui rencana internal perusahaan kepada Reuters. Menurut mereka, hingga kini belum ada keputusan final terkait jumlah pasti karyawan yang akan terdampak maupun jadwal resmi pelaksanaan pengurangan tenaga kerja tersebut.
Baca Juga: Persib Bandung Punya Peluang Lebarkan Jarak Poin Jika Tumbangkan Borneo FC
Beberapa sumber menyebutkan bahwa jajaran eksekutif puncak Meta telah mulai memberikan sinyal kepada para pemimpin senior perusahaan mengenai rencana tersebut.
Para pemimpin tim bahkan diminta mulai memikirkan skenario rekonstruksi dan langkah-langkah yang perlu disiapkan apabila pengurangan karyawan benar-benar dilakukan.
Para narasumber memilih untuk tidak menyebutkan identitasnya karena tidak memiliki kewenangan untuk mengungkapkan detail rencana internal perusahaan ke publik. Sementara itu, pihak Meta hingga saat ini belum memberikan komentar resmi terkait kabar tersebut.
Baca Juga: Two Guns Lerena Kembali Hadapi Merhy, Pertaruhkan Gelar WBC
Jika rencana pengurangan energi kerja mencapai angka 20 persen, langkah ini akan menjadi salah satu PHK terbesar dalam sejarah perusahaan sejak restrukturisasi besar yang dilakukan pada akhir 2022 hingga awal 2023. Pada masa itu, CEO Mark Zuckerberg menyebut periode tersebut sebagai “tahun efisiensi” bagi perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, Meta memiliki hampir 79.000 karyawan per 31 Desember tahun lalu. Artinya, jika pengurangan tenaga kerja mencapai 20 persen, potensi karyawan yang terdampak bisa mencapai belasan ribu orang di berbagai divisi.
Sebelumnya, Meta telah melakukan PHK besar pada November 2022 dengan memberhentikan sekitar 11.000 karyawan atau sekitar 13 persen dari total tenaga kerja saat itu. Beberapa bulan kemudian, perusahaan kembali mengumumkan pemangkasan sekitar 10.000 posisi tambahan sebagai bagian dari program penataan besar.
Langkah-langkah efisiensi tersebut tidak terlepas dari perubahan strategi bisnis perusahaan yang semakin fokus pada pengembangan kecerdasan buatan generatif.
Dalam beberapa tahun terakhir, Meta secara agresif memperkuat investasi di sektor AI guna bersaing dengan perusahaan teknologi lain yang juga berlomba membangun sistem kecerdasan buatan yang lebih canggih.
Mark Zuckerberg sendiri dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa masa depan perusahaan sangat bergantung pada kemajuan teknologi AI.
Bahkan, Meta melaporkan menawarkan paket kompensasi yang sangat besar untuk menarik peneliti dan ilmuwan AI terbaik dunia ke dalam tim pengembangan teknologi baru perusahaan.
Beberapa paket gaji yang ditawarkan mencapai ratusan juta dolar untuk kontrak kerja selama empat tahun. Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat tim superintelijen yang dibentuk Meta guna mempercepat pengembangan teknologi AI generatif dan sistem kecerdasan buatan lanjutan.
Baca Juga: Catat Tanggalnya! Oscar 2026 Berlangsung pertengahan Maret
Selain perekrutan talenta, Meta juga menggelontorkan investasi besar untuk membangun infrastruktur pendukung AI. Perusahaan tersebut menyatakan berencana menginvestasikan sekitar 600 miliar dolar AS hingga tahun 2028 untuk pembangunan pusat data skala besar yang dirancang khusus untuk komputasi AI.
Investasi tersebut juga diiringi langkah ekspansi melalui akuisisi perusahaan teknologi. Awal pekan ini, Meta dilaporkan mengakuisisi Moltbook, sebuah platform jejaring sosial yang dikembangkan khusus untuk agen AI.
Tak hanya itu, perusahaan juga disebut mengeluarkan dana setidaknya 2 miliar dolar AS untuk mengakuisisi startup kecerdasan buatan asal Tiongkok bernama Manus. Akuisisi tersebut menjadi bagian dari strategi Meta memperkuat ekosistem teknologi AI globalnya.
Zuckerberg sebelumnya sempat menyinggung bagaimana investasi AI dapat meningkatkan efisiensi operasional perusahaan. Pada Januari lalu, ia menyatakan bahwa sejumlah proyek teknologi yang sebelumnya membutuhkan tim besar kini bisa diselesaikan oleh satu orang dengan kemampuan teknis yang sangat tinggi.
Pernyataan tersebut dianggap sebagai sinyal kuat bahwa otomatisasi berbasis AI akan semakin mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia dalam beberapa bidang pekerjaan teknologi.
Rencana Meta ini juga mencerminkan tren yang lebih luas di industri teknologi Amerika Serikat. Sejumlah perusahaan teknologi besar mulai melakukan restrukturisasi tenaga kerja seiring meningkatnya penggunaan AI dan otomatisasi dalam proses bisnis mereka.
Amazon, misalnya, pada Januari lalu mengonfirmasi rencana pemangkasan sekitar 16.000 pekerjaan atau hampir 10 persen dari total tenaga kerjanya. Perusahaan menyebut perubahan strategi teknologi dan efisiensi operasional sebagai alasan utama langkah tersebut.
Sementara itu, perusahaan fintech Block juga melakukan pengurangan hampir setengah dari jumlah karyawannya bulan lalu. CEO perusahaan, Jack Dorsey, secara terbuka menyebut perkembangan pesat teknologi AI sebagai salah satu faktor yang memungkinkan perusahaan bekerja lebih efisien dengan tim yang lebih kecil.
Di sisi lain, investasi besar Meta pada AI juga datang setelah beberapa tantangan dalam pengembangan model kecerdasan buatan internalnya. Tahun lalu, model Llama 4 milik perusahaan sempat menuai kritik karena dinilai menghasilkan performa yang menyesatkan pada beberapa tolok ukur pengujian.
Meta bahkan sempat membatalkan peluncuran model terbesar dalam seri tersebut yang diberi nama Behemoth. Model itu awalnya direncanakan meluncur pada musim panas, tetapi akhirnya ditunda karena berbagai kendala teknis.
Sebagai upaya memperbaiki posisi perusahaan di persaingan AI global, tim superintelijen Meta kini tengah mengembangkan model baru bernama Avocado.
Model tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan teknologi AI Meta agar mampu bersaing dengan sistem kecerdasan buatan dari perusahaan teknologi lain.
Namun, menurut sejumlah laporan internal, performa awal model tersebut masih belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi para pengembangnya.
Baca Juga: Adu Banteng di Kendit Situbondo, Dua Motor Tabrakan Maut, Empat Orang Tewas Seketika
Dengan berbagai tantangan tersebut, langkah penyelesaian dan efisiensi yang sedang dipertimbangkan Meta diperkirakan akan menjadi salah satu keputusan strategi perusahaan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Keputusan akhir mengenai rencana PHK tersebut diperkirakan akan sangat menentukan arah perkembangan Meta di tengah persaingan ketat industri kecerdasan buatan global.
Editor : Agung Sedana