RadarSitubondo.id - Konversi mobil konvensional berbahan bakar minyak (BBM) ke tenaga listrik, sejatinya sudah pernah digaungkan sejak tahun 2005 silam.
Namun, beragam kendala dihadapi terhadap program mobil listrik nasional tersebut. Mulai minimnya investor, hingga infrakstruktur yang masih belum memadai menjadi kendala.
Hingga sampai akhirnya, keseriusan ini mulai muncul kembali saat Dahlan Iskan menjabat sebagai Menteri BUMN pada tahun 2011 silam. Mobil listrik ini kemudian lahir dengan nama Selo.
Mobil listrik Selo adalah mobil listrik sport generasi kedua yang digagas oleh Menteri Negara BUMN yang saat itu dijabat Dahlan Iskan, bersama tim Putra Petir.
Dahlan Iskan mengumpulkan lima pemuda yang disebutnya sebagai putera petir. Mereka adalah Dasep Ahmadi, Danet Suryatama, Ravi Desai, Ricky Elson, dan Mario Rivaldi.
Electric Supercar Selo memiliki beberapa fitur utama. Seperti bertenaga listrik penuh. Mobil ini menggunakan baterai sebagai sumber tenaga utama.
Sehingga tidak memerlukan bahan bakar fosil sama sekali. Selain itu, Selo juga memiliki desain aerodinamis. Kendaraan ini didesain dengan tampilan sporty dan aerodinamis yang diharapkan mampu mengurangi hambatan angin, sekaligus meningkatkan efisiensi energi.
Hebatnya lagi, teknologi yang digunakan bisa dikategorikan lokal. Ini disebabkan sebagian besar teknologi dan komponen dalam mobil ini dikembangkan di dalam negeri. Ini menjadikannya simbol inovasi teknologi lokal.
Bahkan mobil ini sempat heboh pada era Dahlan Iskan. Sebab kehadirannya dijadwalkan untuk dipertunjukkan di KTT APEC di Bali pada tahun 2013 silam.
Namun, pengembangan mobil listrik Selo harus dihentikan. Banyak faktor yang menyebabkan mandeknya pengembangan electric supercar tersebut.
Mobil listrik Selo tidak lulus uji emisi pada Juni 2015. Selain itu mobil ini dinilai tidak layak produksi. Ini dikarenakan mesinnya akan mengalami overheat pada kecepatan lebih dari 80 Km per jam.
Meskipun memiliki potensi besar. Selo sendiri menghadapi berbagai tantangan dalam hal produksi massal dan regulasi.
Pada masa itu, mobil listrik ini belum mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah, juga berbagai pihak yang masih keberatan dengan kehadiran teknologi moblis.
Hal ini membuat pengembangan lanjutannya sempat terhambat. Meski begitu, Selo setidaknya menjadi bukti kemampuan Indonesia dalam mengembangkan teknologi kendaraan listrik. (nic/bay)
Editor : Ali Sodiqin