RadarSitubondo.id - Transformasi digital saat ini menuntut dunia pendidikan untuk beradaptasi dengan cepat. Inovasi tidak lagi bersifat opsional, melainkan sebuah kebutuhan untuk membekali generasi muda dengan keterampilan.
Dosen Universitas Abdurachman Saleh (UNARS) Situbondo Ahmad Yusuf Firdaus, S.S., M.Hum, mengatakan, bahwa Unars menghadirkan program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk 'Digitalisasi Keanekaragaman Hayati melalui QR Code: Integrasi Inventarisasi Tanaman dan Video Edukasi Berbahasa Inggris' di SD Integral Luqman Alhakim Situbondo.
Program tersebut diprakarsai oleh tim dosen Unars yang terdiri dari Muhammad Thoifur Ibnu Fajar, S.Pd., M.Sc., Rahajeng Hauwwa Khissoga, S.S., M.A., dan Ahmad Yusuf Firdaus, S.S., M.Hum. "Tim dosen ini hadir dengan latar belakang keilmuan yang berbeda. Namun saling melengkapi : pendidikan biologi, dan bahasa Inggris," ujar Dosen Bahasa Inggris Fakultas Sastra tersebut, kepada koran Jawa Pos Radar Situbondo, Minggu kemarin (21/9).
Pria yang akrab disapa Yusuf tersebut menjelaskan, bahwa pendekatan interdisipliner kepada siswa menjadikan program lebih komprehensif. Karena, program tersebut tidak hanya fokus pada aspek inventarisasi dan sains lingkungan, tetapi juga mengintegrasikan teknologi digital serta literasi bahasa internasional dalam proses pembelajaran.
Setiap tanaman yang diinventarisasi di lingkungan sekolah diberi label berupa QR Code. Dengan cara ini, pembelajaran tidak lagi terbatas pada buku teks, melainkan diperluas melalui media digital yang interaktif.
"Melalui perangkat gawai, siswa dapat memindai kode tersebut dan mengakses video edukasi berbahasa Inggris yang berisi penjelasan sederhana mengenai nama, manfaat, dan karakteristik tanaman," terangnya
Selain itu, kegiatan ini juga memberikan pelatihan khusus bagi guru SD setempat. Para guru dibimbing untuk menggunakan QR Code sebagai media pembelajaran, sekaligus memanfaatkan aplikasi digital dalam mengidentifikasi keanekaragaman hayati.
Dengan begitu, mereka tidak hanya berperan sebagai fasilitator, tetapi juga mampu mengembangkan bahan ajar berbasis teknologi secara mandiri. "Pelatihan ini memperkuat kapasitas guru agar lebih siap menghadirkan strategi pengajaran yang inovatif dan relevan dengan perkembangan zaman," tandasnya.
Menurut salah satu dosen pelaksana, Rahajeng Hauwwa Khissoga,S.S.,M.A menyebutkan, program ini lahir dari keyakinan bahwa pendidikan lingkungan dapat dikemas dengan cara sederhana, namun berdampak besar.
"Dengan memanfaatkan QR Code, siswa dapat belajar mengenal tanaman sekaligus mengasah keterampilan bahasa Inggris dan literasi digital," ujar Rahajeng
Sedangkan program tersebut juga dapat dirasakan oleh siswa dan guru. Di mana, kegiatan ini menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, meningkatkan rasa ingin tahu, serta memperkaya keterampilan bahasa Inggris dan literasi digital.
"Bagi guru, program ini memperluas wawasan pedagogis, memberikan keterampilan baru dalam pemanfaatan teknologi, dan membuka peluang penerapan metode pembelajaran yang lebih adaptif," ucapnya.
Lebih lanjut, Rahajeng menuturkan, sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah dasar sangat dibutuhkan dalam mewujudkan pendidikan yang kreatif, kontekstual, dan berkelanjutan.
Melalui program ini, memperlihatkan peran strategis lembaga akademik yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menerjemahkan menjadi solusi konkret di tengah masyarakat.
"Sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak dan gerakan kewirausahaan. Digitalisasi keanekaragaman hayati melalui QR Code, diharapkan dapat direplikasi di sekolah-sekolah lain di Situbondo maupun wilayah sekitarnya," pungkasnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono