RADARSITUBONDO.ID - Indonesia mencatat ada sekitar 13,7 juta serangan siber setiap hari, yang berarti kurang lebih 158 serangan setiap detik.
Dengan lebih dari 72 persen orang di negara ini menggunakan internet lewat ponsel, bahaya peretasan smartphone menjadi masalah yang serius dan perlu diwaspadai.
Baca Juga: Demokrat Bergerak, Optimistis Kembali Berjaya
Phishing
Phishing adalah trik yang digunakan penipu dengan mengirim pesan yang terlihat datang dari sumber yang bisa dipercaya. Mereka berusaha menipu orang agar memberikan informasi penting seperti kata sandi atau nomor rekening melalui link palsu yang tampak resmi. Sekitar 94 persen perangkat lunak berbahaya disebarkan melalui email dengan cara manipulative.
Baca Juga: Kapan Puncak Musim Hujan 2025 di Indonesia? Prediksi BMKG
SIM Swap
Teknik SIM swap terjadi ketika penipu mengubah kartu SIM orang lain untuk menguasai nomor telepon itu. Untuk melakukannya, mereka mengumpulkan data pribadi melalui phishing dan berpura-pura menjadi pemilik asli di toko penyedia layanan.
Dengan nomor itu, mereka bisa melewati verifikasi dua langkah dan masuk ke rekening bank. Kasus wartawan Indonesia, Ilham Bintang, pada tahun 2020 menunjukkan risiko ini, di mana penipu menguras saldo rekeningnya ke berbagai rekening yang berbeda.
Baca Juga: Mengapa Musim Hujan 2025 Berlangsung Lebih Panjang? BMKG Ungkap Penyebabnya
Malware dan Spyware
Aplikasi berbahaya yang berpura-pura menjadi permainan atau aplikasi produktif bisa masuk ke ponsel kita. Spyware bisa merekam aktivitas online, informasi pribadi, bahkan bisa beroperasi saat perangkat dimatikan.
Trojan, jenis malware lainnya, berpura-pura menjadi file yang aman untuk dapat mengakses data pengguna tanpa sepengetahuan mereka.
Juice Jacking
Serangan juice jacking menyasar orang yang sedang mengisi daya di tempat pengisian umum. Penipu bisa menginfeksi port USB dengan perangkat lunak berbahaya yang bisa memantau kegiatan, mengumpulkan informasi pribadi, dan bahkan menarik uang dari rekening bank saat perangkat terhubung.
Baca Juga: Waspada! Puncak Musim Hujan 2025 Berlangsung 4 Bulan, Ini Persiapan Penting untuk Rumah
eSIM Hijacking
Penipu sekarang mulai mengubah taktik dengan membajak nomor telepon ke dalam kartu eSIM baru. Mereka bisa menggunakan kode QR palsu atau masuk ke akun penyedia layanan untuk memindahkan nomor secara jarak jauh, sehingga mereka bisa mengakses semua data dan akun orang yang menjadi korban.
Baca Juga: Berapa Kadar SPF Ideal untuk Anak? Ini Rekomendasi dari IDAI
Cara Melindungi Diri
Waspadalah terhadap email yang mencurigakan, gunakan aplikasi autentikasi bukannya SMS untuk verifikasi dua langkah, dan pastikan akun penyedia layanan kamu aman dengan PIN yang unik.
Jika sinyal tiba-tiba hilang tanpa alasan, segera hubungi penyedia layanan untuk mencegah pembajakan SIM. Hindari mengisi daya di tempat umum yang tidak terpercaya, dan selalu periksa keaslian aplikasi sebelum mengunduh.
Editor : Ali Sodiqin