RADARSITUBONDO.ID - Perusahaan satelit yang dimiliki oleh Elon Musk, Starlink, bekerja sama dengan perusahaan besar teknologi bernama Samsung Electronics.
Kerja sama ini memiliki tujuan untuk menciptakan chip yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan, sehingga alat seperti smartphone bisa terhubung langsung ke satelit tanpa perlu menara BTS.
Baca Juga: Cara Cek Status Tunggakan BPJS Kesehatan Anda dan Peluang Pemutihan
Menurut laporan dari The Korea Economic Daily, para pemimpin senior dari bagian semikonduktor Samsung sudah bertemu dengan orang-orang dari SpaceX untuk membahas rincian teknis cara mengembangkan chip ini.
"Pembicaraan sedang berjalan tentang Samsung yang ingin ikut dalam penyediaan komponen untuk jaringan 6G non-terestrial milik SpaceX," kata sumber yang tahu tentang percakapan tersebut.
Baca Juga: Jadwal Timnas Indonesia U-17 di Piala Dunia U-17, Brasil Jadi Lawan Terberat!
Proyek ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang Starlink untuk mengembangkan jaringan 6G Non-Terrestrial Network (NTN).
Jaringan ini adalah cara komunikasi yang tidak sepenuhnya mengandalkan infrastruktur yang ada di darat. Dengan teknologi ini, alat yang ada di daerah yang jauh dapat terhubung langsung ke satelit Starlink.
Bagian System LSI dari Samsung sedang mengerjakan chip Exynos terbaru yang memiliki akselerator kecerdasan buatan, yang disebut Neural Processing Unit atau NPU. Chip ini dibuat untuk memprediksi gerakan satelit dan meningkatkan sinyal secara langsung.
Baca Juga: Keringat Sendiri, Bukan Undangan! Timnas U17 Indonesia Ukir Sejarah Lolos Piala Dunia 2025
Data pengujian internal menunjukkan bahwa modem Exynos yang baru ini bisa meningkatkan kemampuan untuk mengenali sinyal hingga 55 kali lebih baik dan bisa memprediksi saluran sinyal 42 kali lebih baik dibanding teknologi sebelumnya.
Kemampuan ini sangat penting karena satelit Starlink bergerak dengan kecepatan sangat tinggi di orbit rendah bumi.
Starlink kabarnya sudah menyiapkan investasi sangat besar sekitar 17 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp257 triliun, untuk mengembangkan spektrum dan frekuensi jaringan 6G NTN di masa mendatang.
Para ahli di industri ini memperkirakan bahwa pasar jaringan non-terestrial di seluruh dunia bisa mencapai nilai hingga 530 miliar dolar AS, atau sekitar Rp8.798 triliun pada tahun 2040.
Namun, masih ada tantangan teknis yang harus dihadapi. Salah satu fokus dalam pengembangan ini adalah menjaga agar modem berbasis AI sangat efisien dalam penggunaan daya, agar tetap hemat energi dan mudah digunakan pada alat portabel seperti smartphone.
Editor : Ali Sodiqin