RADARSITUBONDO.ID - Raksasa aksesori elektronik Logitech dengan resmi mengonfirmasi bahwa mereka baru saja mengalami masalah peretasan data setelah kelompok penjahat siber Clop mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
Perusahaan mengirimkan Formulir 8-K kepada Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) AS untuk menunjukkan kejujuran mengenai masalah keamanan yang telah terjadi.
Dalam pernyataan resminya, Logitech menegaskan bahwa peretasan ini tidak memengaruhi produk, kegiatan bisnis, atau pabrik mereka.
Mereka segera memulai penyelidikan serius dengan bantuan firma keselamatan siber yang terkenal untuk menangani masalah pelanggaran data ini.
Baca Juga: Norwegia di Ambang Sejarah, Italia Terancam Gagal ke Piala Dunia Lagi
Kelompok Clop menambahkan nama Logitech ke daftar bocoran data mereka minggu lalu, mengklaim telah membocorkan hampir 1,8 TB data yang mereka curi dari perusahaan tersebut.
Data yang dicuri termasuk informasi tentang pelanggan, pemasok, dan karyawan dalam serangan yang diduga memanfaatkan celah keamanan di Oracle E-Business Suite.
Peretasan terjadi melalui celah keamanan yang belum diketahui sebelumnya dari pihak ketiga, yang langsung diperbaiki setelah ada pembaruan perangkat lunak.
Meskipun Logitech tidak menyebut nama vendor secara spesifik, insiden ini berkaitan dengan kampanye pemerasan Clop yang menargetkan perusahaan yang menggunakan celah keamanan Oracle bernama CVE-2025-61882, yang sudah dikonfirmasi oleh Oracle dan telah diperbaiki melalui pembaruan darurat.
Baca Juga: Ukraina Amankan Tiket Playoff Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Islandia 2-0
Kelompok Clop memiliki sejarah panjang dalam memanfaatkan celah keamanan untuk mencuri data dalam jumlah besar. Di tahun 2020, mereka menyerang Accellion FTA yang berdampak pada hampir 100 organisasi.
Pada tahun 2023, serangan mereka terhadap MOVEit Transfer mempengaruhi 2.773 organisasi di seluruh dunia, dan di tahun 2024 mereka menargetkan dua celah keamanan di Cleo.
Organisasi lain yang juga terkena serangan serupa termasuk Universitas Harvard, Envoy Air, dan The Washington Post.
Insiden ini mengingatkan kita bahwa tidak ada perusahaan yang bebas dari serangan siber, bahkan perusahaan besar yang memiliki sistem keamanan yang sangat baik.
Editor : Ali Sodiqin