RADARSITUBONDO.ID - Pasar memori komputer di seluruh dunia telah mengalami ketidakstabilan yang signifikan sejak pertengahan tahun 2025, dengan lonjakan harga yang mencapai angka yang belum pernah terjadi sebelumnya.
RAM DDR5-6000 32GB yang dulunya dihargai sekitar Rp 1,6 juta sekarang telah melesat menjadi Rp 3,3 juta, sementara DDR4-3600 32GB sudah dua kali lipat dari harga Rp 1,3 juta naik menjadi Rp 2,4 juta.
Faktor utama yang menyebabkan kenaikan ini adalah pertumbuhan pesat industri kecerdasan buatan yang menyerap jumlah besar kapasitas produksi chip DRAM dan NAND.
Perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti OpenAI, AWS, dan Microsoft memerlukan memori dengan kapasitas terabyte untuk melatih model AI generatif, yang menciptakan permintaan besar untuk chip memori berkualitas tinggi.
Baca Juga: Balas Dendam! Manchester United Siap Akhiri Tren Buruk vs West Ham di Old Trafford
Produsen besar seperti Samsung dan SK Hynix telah memfokuskan ulang produksi mereka pada High Bandwidth Memory untuk server AI, yang menyebabkan persediaan memori untuk konsumen berkurang drastis.
Situasi ini semakin diperburuk oleh keputusan dari produsen yang sebelumnya mengurangi produksi akibat kelebihan pasokan di tahun 2023, sehingga mereka tidak bisa cepat mengatasi lonjakan permintaan.
Baca Juga: Prediksi Liverpool vs Sunderland, The Reds Dipaksa Bangkit di Anfield
Kesan ini dirasakan di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, beberapa toko komponen bahkan harus menghapus label harga karena ketidakstabilan pasar yang ekstrem. Para produsen memori meningkatkan harga kontrak hingga 30% untuk kuartal empat tahun 2025.
Analis memperkirakan bahwa kekurangan akan terus berlanjut sampai tahun 2026, menjadikan upgrade PC semakin mahal bagi konsumen di seluruh dunia.
Editor : Ali Sodiqin