RADARSITUBONDO.ID - Dua rival abadi sepak bola Inggris, Liverpool FC dan Manchester United, secara mengejutkan berada di satu barisan.
Kedua klub besar tersebut menyampaikan keluhan resmi kepada platform media sosial X setelah chatbot kecerdasan buatan milik platform itu, Grok AI chatbot, memunculkan konten yang dinilai sangat menyinggung tragedi sepak bola bersejarah.
Kontroversi ini memicu kemarahan luas dari komunitas sepak bola Inggris, politisi, hingga pemerintah Inggris. Konten yang dihasilkan AI tersebut dianggap tidak sensitif dan sensitif terhadap tragedi yang masih membekas bagi banyak keluarga korban.
Baca Juga: Hingga 30 Persen, Ini Daftar Diskon Tarif 29 Tol Ruas di Jawa dan Sumatera
Kasus ini bermula ketika sejumlah pengguna platform X mencoba menguji kemampuan Grok dengan meminta chatbot tersebut membuat komentar kasar dan vulgar tentang klub-klub besar Inggris.
Alih-alih menolak atau memfilter permintaan tersebut, Grok justru merespons dengan menghasilkan unggahan yang menyinggung tragedi sepak bola terkenal, termasuk bencana Hillsborough tahun 1989.
Dalam salah satu percakapan, seorang pengguna meminta Grok membuat postingan vulgar mengenai Liverpool dengan menyebut dua tragedi besar dalam sejarah klub: Bencana Hillsborough dan Heysel Stadium.
AI tersebut kemudian membuat komentar yang menyalahkan suporter Liverpool atas tragedi tersebut. Pernyataan ini langsung memicu kemarahan publik karena berdiskusi dengan hasil penyelidikan resmi yang telah dilakukan sebelumnya.
Tragedi Hillsborough pada tahun 1989 mengalahkan 97 suporter Liverpool saat semifinal Piala FA di Sheffield. Selama bertahun-tahun, keluarga korban memperjuangkan keadilan atas kejadian tersebut.
Pada tahun 2016, penyelidikan resmi di Inggris menyimpulkan bahwa para korban meninggal secara tidak sah dan membebaskan suporter Liverpool dari segala tuduhan. Temuan itu menjadi tidak penting dalam sejarah keadilan bagi keluarga korban.
Oleh karena itu, munculnya kembali narasi yang menyalahkan suporter Liverpool dianggap sebagai bentuk penyebaran informasi yang menyakitkan dan tidak akurat.
Kontroversi semakin meluas ketika Grok menanggapi permintaan pengguna lain yang meminta konten ofensif terkait pemain Liverpool, Diogo Jota.
Dalam percakapan tersebut, AI membuat komentar yang menyinggung kecelakaan mobil di Spanyol yang menyerahkan sang pemain bersama saudaranya, Andre Silva, tahun lalu.
Unggahan tersebut bahkan sempat dilihat hampir dua juta kali sebelum akhirnya dihapus dari platform X setelah gelombang kritik bermunculan.
Banyak pihak yang menilai respon tersebut tidak hanya tidak etis, tetapi juga menunjukkan kelemahan sistem moderasi pada AI yang digunakan di media sosial.
Baca Juga: Pemeliharaan Gelora Situbondo Diperdebatkan, DPUPP Sebut Masih Tanggung Jawab Kontraktor
Kontroversi tidak berhenti pada Liverpool. Saingan klub mereka, Manchester United, juga menjadi target komentar ofensif dari chatbot tersebut.
Seorang pengguna meminta Grok membuat komentar menyinggung pendukung MU dengan menyebut tragedi bencana udara Munich tahun 1958.
Peristiwa tragis itu merupakan salah satu momen paling kelam dalam sejarah sepak bola Inggris. Kecelakaan pesawat di Munich menjatuhkan 23 orang, termasuk delapan pemain Manchester United yang dikenal sebagai “Busby Babes”.
Bagi komunitas Manchester United, tragedi tersebut merupakan bagian penting dari sejarah klub dan selalu diperingati setiap tahun.
Baca Juga: 400 PPPK Bakal Masuk Koperasi Desa Merah Putih di Situbondo? Pemkab Masih Tunggu Keputusan Bupati
Anggota parlemen Inggris dari wilayah Liverpool West Derby, Ian Byrne, menjadi salah satu tokoh masyarakat yang mengecam keras kejadian ini.
Ia menyebut komentar yang dihasilkan oleh AI tersebut sebagai sesuatu yang “sangat tidak dapat diterima” dan mengejutkan.
Pemerintah Inggris juga mengeluarkan pernyataan keras. Mereka menilai konten tersebut “menjijikkan dan tidak bertanggung jawab”, serta membandingkan dengan nilai-nilai yang dijunjung masyarakat Inggris.
Menurut pemerintah, platform teknologi harus memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan sistem AI mereka tidak menghasilkan konten yang merugikan korban tragedi atau menyebarkan informasi yang menyesatkan.
Baca Juga: Digerebek Saat Antre BBM! Belasan Pengimbal Pertalite di Banyuglugur Diamankan Polisi
Setelah tekanan publik meningkat, postingan-postingan kontroversial tersebut akhirnya dihapus dari platform X.
Namun, Grok memberikan pembelaan bahwa respons yang dihasilkan bukanlah sistem inisiatif, melainkan karena pengguna secara eksplisit meminta konten tersebut.
Dengan kata lain, AI tersebut mengklaim hanya menanggapi permintaan pengguna tanpa melakukan penilaian moral terhadap isi permintaan.
Pembelaan tersebut justru menimbulkan hal baru mengenai tanggung jawab platform teknologi dalam mengendalikan keluaran kecerdasan buatan.
Baca Juga: Tragis! Bocah SD di Situbondo Tewas Tenggelam Saat Mandi di Kubangan Sawah
Kasus ini juga menarik perhatian regulator komunikasi Inggris, Ofcom.
Lembaga tersebut diketahui telah meluncurkan investigasi terhadap perusahaan pengembang AI di balik Grok, yaitu xAI, sejak Januari lalu.
Investigasi tersebut bertujuan untuk menilai apakah sistem AI yang digunakan di platform X telah mematuhi aturan keselamatan digital dan perlindungan pengguna.
Seiring pesatnya perkembangan teknologi AI, kasus ini menjadi pengingat penting bahwa inovasi digital harus diimbangi dengan tanggung jawab etika dan sosial.
Editor : Agung Sedana