Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Kontroversi IGRS di Steam, Gamer Bandingkan dengan ESRB dan PEGI

Bayu Shaputra • Senin, 6 April 2026 | 16:32 WIB
Ilustrasi bermain game online di PC. (AI)
Ilustrasi bermain game online di PC. (AI)

 

RADARSITUBONDO.ID - Perdebatan mengenai Indonesia Game Rating System (IGRS) terus bergulir di kalangan gamer. Kritik yang ramai di media sosial memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana posisi IGRS jika dibandingkan dengan sistem rating global seperti ESRB dan PEGI.

Keraguan ini muncul bukan tanpa alasan. Sejumlah kejanggalan dalam penentuan rating banyak ditemukan, terutama pada platform distribusi game digital seperti Steam. Gamer menilai, untuk memahami persoalan ini secara utuh, perlu melihat bagaimana sistem klasifikasi serupa diterapkan di negara lain.

IGRS sendiri merupakan sistem klasifikasi usia yang dikembangkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan mulai diwajibkan pada 2026. Secara konsep, sistem ini mengelompokkan game berdasarkan usia, mulai dari 3+ hingga 18+. Tujuannya adalah membantu pemain, khususnya orang tua, memahami konten yang akan diakses.

Baca Juga: Sahroni Minta Kejagung Telusuri Tahanan Lain di Kejari Karo Usai Polemik Amsal Sitepu

Namun dalam praktiknya, sejumlah perbedaan mencolok mulai terlihat. Salah satu sorotan utama adalah mekanisme klasifikasi yang masih bergantung pada penilaian mandiri dari pengembang game. Developer diminta mengisi sendiri detail konten sebelum dilakukan verifikasi oleh pemerintah.

Permasalahannya, proses verifikasi tersebut belum sepenuhnya berjalan. Akibatnya, banyak rating yang muncul belum bersifat final dan dalam beberapa kasus justru membingungkan pengguna.

Jika dibandingkan, sistem ESRB yang digunakan di Amerika Utara sejak 1994 memiliki pendekatan yang lebih komprehensif. Selain memberikan label usia seperti “Everyone” atau “Mature 17+”, ESRB juga menyertakan penjelasan rinci mengenai alasan di balik rating tersebut, mulai dari tingkat kekerasan, penggunaan bahasa kasar, hingga unsur seksual.

Baca Juga: AS Minta Perusahaan Satelit Hentikan Rilis Gambar Perang Iran

Proses penilaiannya pun tidak sederhana. Pengembang wajib mengirimkan kuesioner detail beserta cuplikan gameplay yang merepresentasikan konten paling ekstrem.

Materi tersebut kemudian dinilai oleh sejumlah evaluator independen sebelum keputusan akhir diambil. Bahkan setelah game dirilis, ESRB tetap dapat melakukan evaluasi ulang untuk memastikan tidak ada informasi yang disembunyikan.

Pendekatan ini membuat sistem ESRB dinilai lebih transparan karena tidak hanya menampilkan kategori usia, tetapi juga memberikan konteks yang jelas bagi pemain.

Sementara itu di Eropa, sistem PEGI juga menerapkan pendekatan serupa. Digunakan di lebih dari 40 negara, PEGI membagi klasifikasi usia dari 3 hingga 18 tahun. Keunggulan utamanya terletak pada penggunaan ikon deskripsi konten yang informatif.

Melalui ikon tersebut, pemain dapat langsung memahami apakah sebuah game mengandung unsur kekerasan, bahasa kasar, perjudian, hingga diskriminasi. Informasi ini disajikan secara visual sehingga lebih mudah dipahami, termasuk oleh orang tua yang tidak akrab dengan dunia game.

PEGI juga terus menyesuaikan diri dengan perkembangan industri. Mulai 2026, sistem ini memasukkan indikator baru seperti keberadaan loot box, pembelian dalam game, serta risiko interaksi online tanpa moderasi. Artinya, yang dinilai bukan hanya isi game, tetapi juga mekanisme permainan secara keseluruhan.

Baca Juga: Kode Redeem ML 6 April 2026 Terbaru, Klaim Hadiah Gratis Tanpa Diamond Hari Ini

Di tengah kritik terhadap implementasi IGRS, Komdigi akhirnya memberikan klarifikasi. Melalui laman resmi IGRS pada Minggu (5/4), pemerintah menegaskan bahwa klasifikasi yang beredar saat ini belum bersifat final karena proses verifikasi belum dilakukan sepenuhnya.

"Komdigi akan meminta klarifikasi resmi dari Steam dan melakukan pembahasan lebih lanjut mengenai dasar hukum implementasi rating, mekanisme pemantauan, prosedur penyesuaian, dan cara tata pelaporan IGRS untuk layanan tersebut," jelas Komdigi.

Di sisi lain, Valve selaku pengelola Steam sebenarnya telah memberikan penjelasan terkait implementasi awal IGRS sejak Maret lalu. Dalam tahap awal, sistem rating diterapkan secara otomatis berdasarkan data yang sudah tersedia.

Baca Juga: Iran Peringatkan Ancaman Jalur Pelayaran Global, Bab el-Mandeb Disebut Sepenting Hormuz

Namun demikian, pengembang dan distributor tetap diwajibkan mengisi klasifikasi mandiri IGRS. Valve juga menegaskan bahwa data tersebut menjadi dasar sementara untuk memenuhi persyaratan distribusi di Indonesia.

"Selama beberapa minggu kedepan kami akan mengeluarkan rating sesuai survei pengembang yang sebelumnya telah diisi, dan kami rasa data survei yang ada telah memenuhi persyaratan peredaran di Indonesia. Namun bagi mereka yang belum mengisi survei atau belum melakukan pembaruan survei, kami berhak meminta informasi dan data tambahan agar produk Anda dapat diedarkan," bunyi pernyataan Valve.

Editor : Bayu Shaputra
#Komdigi #IGRS #rating game Indonesia #ESRB #PEGI