Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Industri Teknologi Bergejolak, 92.000 Karyawan Kena PHK Sejak Awal 2026

Bayu Shaputra • Minggu, 26 April 2026 | 20:54 WIB
Ilustrasi pekerja kantoran.
Ilustrasi pekerja kantoran.

 

RADARSITUBONDO.ID - Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali mengguncang industri teknologi global. Kali ini, dua raksasa teknologi, Meta dan Microsoft, mengungkapkan potensi pengurangan tenaga kerja hingga 20.000 orang pada Kamis (24/4/2026).

Langkah ini menambah panjang daftar PHK di sektor teknologi setelah sebelumnya Amazon lebih dulu memangkas 16.000 karyawan pada awal tahun ini.

Meta menjadi salah satu perusahaan yang secara terbuka mengumumkan kebijakan tersebut melalui memo internal. Dalam keterangannya, perusahaan berencana memangkas sekitar 10 persen dari total karyawan atau setara dengan 8.000 pekerjaan.

Pemangkasan itu dijadwalkan mulai berlaku pada 20 Mei mendatang. Tidak hanya itu, Meta juga membatalkan rencana perekrutan 6.000 karyawan baru sebagai bagian dari strategi efisiensi.

Baca Juga: Pep Guardiola Redam Ambisi Treble Domestik Meski City Lolos ke Final Piala FA

“Semua bagian dari upaya berkelanjutan kami untuk menjalankan perusahaan secara lebih efisien dan untuk memungkinkan kami mengimbangi investasi lain yang kami lakukan,” bunyi memo tersebut.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Sejumlah perusahaan teknologi besar saat ini tengah menggelontorkan investasi besar, mencapai ratusan miliar dollar AS setiap tahun, untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Lonjakan permintaan terhadap layanan berbasis AI mendorong percepatan produksi dan pengembangan teknologi. Namun di sisi lain, penggunaan AI justru berujung pada pengurangan tenaga kerja manusia sebagai bagian dari langkah efisiensi operasional.

Baca Juga: Veda Ega Pratama Finis Keenam Moto3 Spanyol, Start dari Posisi 17

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran di kalangan ekonom dan pengamat industri. Mereka menilai dunia tengah menghadapi tekanan serius di sektor ketenagakerjaan akibat otomatisasi berbasis AI.

Data dari Layoffs.fyi menunjukkan, sejak awal 2026 hingga pekan ini, lebih dari 92.000 pekerja di sektor teknologi telah kehilangan pekerjaan. Angka itu memperpanjang tren PHK sejak 2020 yang totalnya telah mencapai sekitar 900.000 kasus.

Sejumlah perusahaan lain juga mengikuti langkah serupa. Snap, misalnya, memangkas sekitar 16 persen tenaga kerjanya atau setara 1.000 karyawan pada Maret lalu. CEO Snap, Evan Spiegel, menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak lepas dari pemanfaatan AI dalam operasional perusahaan.

Hal senada juga terjadi di Salesforce. Perusahaan perangkat lunak itu mengumumkan PHK terhadap 4.000 karyawan pada September tahun lalu. CEO Salesforce, Marc Benioff, menyatakan keputusan tersebut dilandasi kebutuhan efisiensi. “Saya butuh lebih sedikit orang,” ujarnya.

Baca Juga: Oxford United Resmi Degradasi, Analisis Media Inggris Soroti Tur Indonesia

Oracle turut terdampak gelombang perubahan ini. Perusahaan tersebut telah memangkas ribuan karyawan pada Maret lalu, di tengah upaya bersaing dalam industri AI.

Analis dari TD Cowen menyebutkan bahwa langkah PHK antara 20.000 hingga 30.000 karyawan di Oracle mampu meningkatkan arus kas hingga 8 miliar sampai 10 miliar dollar AS, atau setara sekitar Rp 138 triliun hingga Rp 172,5 triliun.

Pengamat kepemimpinan, Anthony Tuggle, menilai fenomena ini bukan sekadar tren sementara. Ia melihat adanya perubahan mendasar dalam cara kerja di berbagai industri. “Kita sedang menyaksikan awal dari transformasi permanen dalam cara kerja diorganisasikan dan dieksekusi di berbagai industri,” ujarnya.

Baca Juga: Timnas U17 Indonesia Uji Coba Lawan Arab Saudi Jelang Piala Asia U17 2026

Sejak peluncuran ChatGPT oleh OpenAI pada akhir 2022, kemampuan AI berkembang pesat dan mulai menggantikan berbagai fungsi kerja.

Kekhawatiran meningkat ketika teknologi AI semakin canggih, termasuk munculnya sistem yang mampu menjalankan fungsi bisnis secara menyeluruh. Meski ada anggapan bahwa AI akan membuka peluang kerja baru, bentuk pekerjaan tersebut hingga kini belum sepenuhnya jelas.

Data dari Motion Recruitment tahun 2026 menunjukkan bahwa rekrutmen di bidang teknologi informasi mengalami penurunan. Selain itu, pertumbuhan gaji di sektor teknologi cenderung stagnan dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, posisi yang berkaitan langsung dengan pengembangan AI justru mengalami kenaikan gaji.

CO Chief Robotics, Rajat Bhageria, mengakui bahwa AI berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, namun bentuknya masih belum pasti. “Kita baru mulai memahami seberapa banyak pekerjaan harian kita yang dapat ditangani AI untuk kita di berbagai jenis pekerjaan,” katanya.

Editor : Bayu Shaputra
#Microsoft #phk #teknologi #Meta #ai