RADARSITUBONDO.ID — Kreativitas dalam menjaga lingkungan terus dikembangkan oleh SMP Negeri 1 Panji melalui inovasi Solusi Eco Enzym untuk Lestari Lingkungan atau 'Si Comel'. Program ini memanfaatkan limbah kulit buah dari kegiatan makan bergizi gratis (MBG) dan mengolahnya menjadi ekoenzim yang memiliki berbagai manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Ekoenzim “Si Comel” dibuat dari sisa kulit buah yang setiap hari dihasilkan siswa, terutama kulit buah bertekstur lunak seperti pisang dan jeruk. Limbah tersebut kemudian difermentasi selama tiga bulan dengan tambahan bahan seperti gula merah hingga menghasilkan cairan serbaguna.
“Kulit buah yang sering dianggap sampah ternyata bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” kata Kepala SMP Negeri 1 Panji, Sri Rahaju Supandi, M.Pd.
Perempuan yang akrab disapa Yuyun itu menjelaskan, cairan ekoenzim memiliki banyak kegunaan. Selain dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman, hasil program “Si Comel” juga dapat diolah menjadi sabun cuci piring, sabun cuci pakaian, hingga sabun mandi dalam bentuk cair maupun padat. Tak hanya itu, cairan ini juga efektif untuk membersihkan kerak pada peralatan dapur.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa ekoenzim juga berpotensi digunakan sebagai alternatif pengobatan tradisional untuk mengatasi keluhan ringan pada kulit, seperti luka bakar ringan dan masalah kulit lainnya, berdasarkan pengalaman penggunaan.
“Pemanfaatan alami dari program ini sangat berguna, bukan hanya untuk tanaman, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dapat menjadi alternatif perawatan sederhana,” ujarnya.
Program “Si Comel” juga terintegrasi dengan kegiatan kokurikuler siswa. Para siswa diajak menanam berbagai jenis sayuran seperti sawi, kangkung, dan pakcoy dengan memanfaatkan pupuk dari ekoenzim tersebut. Hasilnya pun sudah mulai dipanen dan dimanfaatkan.
Inovasi ini telah berjalan selama kurang lebih tiga tahun dan menjadi bagian dari upaya sekolah dalam membentuk karakter siswa peduli terhadap lingkungan.
“Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar mengolah limbah, tetapi juga memahami manfaatnya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Nama “Si Comel” dipilih agar lebih menarik dan mudah diingat oleh siswa. Selain itu, nama tersebut juga terinspirasi dari kebiasaan guru yang sering mengingatkan siswa agar tidak membuang kulit buah sembarangan.
Dengan adanya program ini, diharapkan kesadaran siswa terhadap pentingnya pengelolaan sampah organik semakin meningkat, sekaligus menciptakan generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan.
“Semoga anak-anak semakin berkembang dan tidak lagi membuang sampah sembarangan karena sudah diajarkan bagaimana memanfaatkan sesuatu yang dianggap tidak berguna,” jelasnya.
Yuyun berharap inovasi ini mampu mengubah pola pikir siswa dan orang tua agar lebih bijak dalam mengelolah limbah rumah tangga, khususnya sisa buah-buahan.
“Harapannya, anak-anak bisa menjadi agen edukasi di rumah. Mereka dapat mengajarkan bahwa limbah kulit buah tidak harus dibuang, tetapi bisa dimanfaatkan kembali,” pungkasnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono