RADARSITUBONDO.ID - Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei 2026 diprediksi menjadi salah satu agenda diplomatik paling penting tahun ini.
Selain membahas hubungan bilateral kedua negara, pertemuan tersebut juga disebut akan menyoroti isu geopolitik global, perdagangan, Taiwan, hingga perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Lawatan Trump ke China kali ini turut menarik perhatian karena dikabarkan akan melibatkan sejumlah tokoh besar industri teknologi Amerika Serikat. CEO Apple Tim Cook, CEO Nvidia Jensen Huang, dan CEO Qualcomm Cristiano Amon disebut masuk dalam daftar figur yang diundang untuk mendampingi kunjungan tersebut.
Baca Juga: Spesifikasi iQOO 15T Bocor, Dimensity 9500 dan Fast Charging 100W Jadi Andalan
Tidak hanya sektor teknologi, beberapa pimpinan perusahaan besar lain juga disebut akan turut diundang. Nama-nama seperti Exxon, Boeing, Blackstone, Citigroup, hingga Visa dikabarkan masuk dalam rombongan yang dipersiapkan untuk lawatan tersebut.
Keterlibatan para CEO teknologi dinilai berkaitan erat dengan agenda pembahasan AI yang kini menjadi perhatian utama Washington dan Beijing.
Dalam beberapa tahun terakhir, persaingan pengembangan AI antara Amerika Serikat dan China terus meningkat dan mulai dianggap sebagai bagian dari perebutan pengaruh strategis global.
Laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa kedua negara tengah mempertimbangkan pembicaraan resmi terkait persaingan AI. Langkah itu dilakukan untuk mencegah rivalitas teknologi berkembang menjadi perlombaan senjata digital yang dapat memperbesar ketegangan internasional.
Trump sebelumnya juga beberapa kali membawa tokoh bisnis dan teknologi dalam kunjungan luar negeri. Saat berkunjung ke Inggris dan Uni Emirat Arab, sejumlah CEO perusahaan besar turut dilibatkan dalam agenda diplomatik maupun bisnis.
Namun, hubungan Trump dengan CEO Apple Tim Cook sempat menjadi sorotan setelah Cook dikabarkan menolak undangan untuk ikut dalam lawatan ke Riyadh, Arab Saudi. Penolakan tersebut disebut membuat hubungan keduanya sempat merenggang.
Dalam sebuah pidato yang ditujukan kepada CEO Nvidia Jensen Huang, Trump bahkan sempat menyinggung absennya Cook. “Tim Cook tidak ada di sini, tapi Anda ada,” kata Trump kepada Huang.
Situasi tersebut kemudian berkembang menjadi polemik yang lebih luas. Trump sempat mengancam akan mengenakan tarif sebesar 25 persen terhadap iPhone yang tidak diproduksi di Amerika Serikat. Ancaman itu dinilai sebagai bentuk tekanan politik sekaligus respons atas ketidakhadiran Cook dalam agenda kunjungan sebelumnya.
Posisi Apple sendiri masih sangat bergantung pada China, baik dari sisi rantai pasok maupun pasar penjualan. Karena itu, keputusan Cook untuk hadir atau kembali menolak undangan Trump ke Beijing dipandang memiliki makna strategis.
Baca Juga: UPDATE Dolar Hari Ini: Rupiah Melemah, USD Tembus Level Baru di Mei 2026, TKI Hongkong Bersorak
Di tengah pemulihan penjualan iPhone di China, ketidakhadiran Cook berpotensi menimbulkan tafsir politik baik dari Washington maupun Beijing.
Sebaliknya, jika hadir, langkah tersebut dapat menjadi sinyal bahwa hubungan Apple dengan kedua negara tetap terjaga di tengah dinamika politik dan ekonomi global.
Situasi ini juga bertepatan dengan transisi kepemimpinan di Apple. Setelah mengumumkan John Ternus sebagai suksesor CEO Apple, Tim Cook nantinya akan menempati posisi Executive Chairman yang lebih berfokus pada urusan eksternal perusahaan, termasuk hubungan dengan pembuat kebijakan dan pemimpin dunia.
Karena itu, keterlibatan Cook dalam lawatan Trump ke Beijing dipandang dapat memperlihatkan kesinambungan hubungan Apple dengan pemerintah Amerika Serikat maupun China setelah perubahan struktur kepemimpinan perusahaan.
Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Hari Ini 11 Mei 2026: K24 Tembus Rp 2,5 Juta, Ini Daftar Lengkap Semua Kadar
Berbeda dengan Cook yang belum memberikan kepastian, CEO Nvidia Jensen Huang sudah memberikan sinyal positif terkait kemungkinan ikut dalam kunjungan tersebut. Huang menyebut dirinya akan merasa terhormat apabila mendapat undangan resmi dari Presiden Trump.
“Jika diundang, itu akan menjadi sebuah kehormatan besar, suatu kehormatan untuk mewakili Amerika Serikat dan pergi ke China bersama Presiden Trump,” kata Huang kepada CNBC.
Ia juga menegaskan bahwa keputusan resmi terkait agenda tersebut tetap berada di tangan Presiden Trump. “Kita biarkan presiden yang mengumumkan apa pun yang ingin ia umumkan,” lanjutnya.
Editor : Bayu Shaputra