RADARSITUBONDO.ID - Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) terus mematangkan strategi penyediaan energi bagi misi eksplorasi Bulan di masa depan.
Salah satu teknologi yang diproyeksikan menjadi tulang punggung pasokan listrik adalah reaktor nuklir yang ditempatkan langsung di permukaan Bulan.
Program Eksekutif NASA untuk Basis Bulan, Carlos Garcia-Galan, mengatakan pengembangan sumber energi berbasis nuklir menjadi langkah penting untuk mendukung keberlangsungan aktivitas manusia di satelit alami Bumi tersebut.
Menurutnya, kebutuhan daya listrik dalam skala besar tidak dapat sepenuhnya dipenuhi oleh energi surya, terutama di wilayah Bulan yang memiliki banyak area bayangan dan mengalami periode malam yang sangat panjang.
“Kami ingin mencapai tahap di mana kami menghasilkan puluhan kilowatt listrik, dan reaktor nuklir di permukaan Bulan adalah jalan yang harus ditempuh. Jadi kami akan melakukan eksperimen dan pada akhirnya membangun kemampuan itu,” kata Garcia-Galan.
Baca Juga: Tak Masuk Skuad Timnas Indonesia Juni 2026, Eliano dan Jordi Diproyeksikan Tampil di Piala AFF 2026
Ia menjelaskan bahwa tenaga surya tetap menjadi bagian dari sistem energi yang akan digunakan dalam berbagai misi. Namun, kondisi lingkungan Bulan yang ekstrem membuat NASA membutuhkan sumber daya alternatif yang mampu bekerja secara konsisten tanpa bergantung pada paparan sinar Matahari.
Beberapa wilayah di Bulan diketahui memiliki area yang jarang mendapatkan cahaya Matahari secara langsung. Kondisi tersebut berpotensi menghambat operasional peralatan, sistem komunikasi, penelitian ilmiah, hingga fasilitas pendukung kehidupan apabila hanya mengandalkan panel surya.
Karena itu, teknologi nuklir dinilai sebagai solusi yang dapat menyediakan pasokan energi stabil untuk mendukung keberadaan manusia dalam jangka panjang. Teknologi tersebut juga dianggap mampu menjaga keberlangsungan operasi selama periode malam Bulan yang berlangsung jauh lebih lama dibandingkan malam di Bumi.
“Jadi nuklir adalah langkah berikutnya, dimulai dari unit pemanas radioisotop pada aset awal agar bisa bertahan melewati malam,” tambahnya.
NASA berencana mengembangkan kemampuan tersebut secara bertahap melalui serangkaian eksperimen teknologi.
Pengujian akan dilakukan untuk memastikan sistem pembangkit energi nuklir dapat beroperasi dengan aman dan andal dalam lingkungan Bulan yang memiliki tantangan berbeda dibandingkan Bumi.
Upaya tersebut menjadi bagian dari rencana jangka panjang NASA dalam membangun kehadiran manusia secara berkelanjutan di Bulan.
Pada Maret lalu, badan antariksa Amerika Serikat itu mengumumkan skenario pembangunan basis permanen yang akan dilaksanakan secara bertahap.
Baca Juga: Mees Hilgers Tetap Ikut Latihan Timnas Indonesia Meski Absen Lawan Oman dan Mozambik, Ini Alasannya
Tahap awal akan difokuskan pada pengiriman kargo serta berbagai peralatan yang diperlukan untuk membangun infrastruktur dasar. Infrastruktur tersebut mencakup sistem energi, fasilitas penelitian ilmiah, dan jaringan komunikasi yang menjadi fondasi utama bagi aktivitas eksplorasi.
Setelah infrastruktur dasar tersedia, NASA akan memasuki tahap berikutnya yang berorientasi pada pengembangan lingkungan layak huni.
Pada fase ini, berbagai fasilitas pendukung kehidupan akan dibangun agar dapat menyerupai kondisi yang lebih nyaman bagi manusia. Selain itu, sistem logistik juga akan diperkuat dengan melibatkan kontribusi dari sejumlah badan antariksa internasional dan mitra global.
Tahap terakhir dari proyek ambisius tersebut adalah menciptakan kondisi yang memungkinkan manusia tinggal dan bekerja di Bulan dalam jangka panjang.
Kehadiran sumber energi yang stabil menjadi salah satu faktor paling krusial untuk mewujudkan target tersebut karena hampir seluruh aktivitas operasional akan bergantung pada ketersediaan listrik yang berkelanjutan.
Editor : Bayu Shaputra