Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Sejarah Singkat Stasiun Telawa Boyolali, Masih Aktif Layani Penumpang Kereta Api Meski Sudah Berusia 144 Tahun

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 29 Mei 2024 - 16:13 WIB
Stasiun Telawa pada tahun 1990.
Stasiun Telawa pada tahun 1990.

RadarSitubondo.id – Berusia 144 tahun, Stasiun Telawa di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menjadi salah satu saksi sejarah pembangunan jalur kereta api oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Bahkan di era modern sekarang, stasiun ini masih menggunakan arsitektur khas buatan Belanda pada masa itu.

Mengutip Jawa Pos Radar Solo, Stasiun Telawa ini dulunya dikenal dengan nama Stasiun Juwangi yaitu nama kecamatan tempat stasiun kereta api itu berada.

Kecamatan Juwangi sendiri terletak di ujung utara Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Pembangunan Stasiun Telawa dilakukan oleh operator kereta api swasta, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappiij (NIS) sekitar tahun 1880-an.

Stasiun yang kini berada di wilayah PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 4 Semarang itu dulunya masih satu paket pembangunan jalur Semarang-Voorstenlanden.

Voorstenlanden atau jika diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai tanah para raja mengacu pada wilayah Kerajaan Mataram atau daerah Solo dan Yogyakarta masa kini.

Pembangunan jalur yang melintas di Stasiun Telawa awalnya, diperuntukan bagi kereta uap untuk pengangkut hasil bumi seperti palawija, tebu, kayu jati hingga kapur bakar dari Telawa.

Kecamatan Juwangi merupakan penghasil kayu jati, bahan bakar terbaik bagi lokomotif uap di masa itu, sehingga menjadi titik vital untuk dibangun jalur kereta api.

Tak jauh dari Stasiun Telawa, terdapat sebuah bangunan Belanda atau dikenal dengan Loji Papak untuk rumah administratur perkebunan.

Loji Papak semacam ini di Jawa Tengah cukup langka karena hanya ada di Gundih, Telawa, dan Salatiga.

Berada di ketinggian 63 meter di atas permukaan laut, Stasiun Telawa juga masih mempertahankan bentuk asli dari arsitekturnya dan hanya mengalami renovasi minor.

Pintu masuk menuju peron cukup tinggi, dinding bangunan tebal dan ditambah ornamen penghias.

Di era PT KAI, Stasiun Telawa hanya melayani aktivitas naik turun penumpang Kereta Api Joglosemarkerto.

Baru pada Sabtu (1/6) mendatang, PT KAI mulai memberlakukan Kereta Api Banyubiru (Semarang Tawang Bank Jateng-Solobalapan PP) untuk berhenti di stasiun bersejarah ini. (*)

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Telawa #boyolali #stasiun #sejarah #kereta api #penumpang