radarsitubondo.id - Ungkapan "tetangga sebelah" untuk Taman Nasional Baluran bukan sekadar candaan lokal, melainkan mencerminkan dinamika sosial, rasa memiliki, serta tantangan dalam narasi identitas daerah.
Bagi warga Situbondo, Baluran bukan sekadar taman nasional—ia adalah bagian dari harga diri dan warisan alam yang perlu dijaga dan dipromosikan dengan bangga.
Ke depan, sinergi antarwilayah dan upaya penguatan identitas lokal menjadi kunci agar "tetangga sebelah" ini tetap menjadi hubungan yang harmonis, bukan kompetisi yang merugikan.
Namun di balik ketenaran Taman Nasional Baluran di Situbondo, Jawa Timur, dengan julukan Africa van Java, muncul ungkapan menarik dari masyarakat maupun pelaku pariwisata: "tetangga sebelah."
Ungkapan ini memuat makna sosial, kultural, sekaligus sindiran halus terhadap dinamika keberadaan Baluran di antara dua daerah: Situbondo dan Banyuwangi.
Istilah "tetangga sebelah" biasanya digunakan untuk menggambarkan hubungan yang dekat namun tidak sepenuhnya terikat.
Dalam konteks Taman Nasional Baluran, ungkapan ini merujuk pada posisi geografis dan administrasi taman nasional yang walaupun terletak di Situbondo, lebih sering "diperkenalkan" secara tidak resmi oleh sebagian warga atau agen wisata, terutama dalam promosi pariwisata.
Faktor-Faktor yang Melatarbelakangi antara lain Letak Geografis.
Dalam pencatatan wilayah dalam peta pemerintahan, kawasan Baluran masuk wilayah Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur.
Namun, banyak wisatawan yang mengunjungi Baluran setelah atau sebelum berkunjung ke destinasi terkenal Banyuwangi, seperti Alas Purwo, Marina Boom, Grand Watu Dodol, kawasan sekitar lereng Kawah Ijen, dan Pantai Pulau Merah.
Banyuwangi dalam beberapa tahun terakhir agresif dalam mempromosikan wisata daerahnya, termasuk destinasi di sekitar perbatasan, seperti Baluran.
Dalam paket yang dipasarkan agen-agen wisata, Baluran kerap "dibungkus" bersama destinasi-destinasi lain di Banyuwangi, sehingga kesan yang terbentuk di benak wisatawan adalah bahwa Baluran bagian dari Banyuwangi.
Sementara promosi resmi dari pihak Situbondo terkesan kurang masif.
Akibat promosi dan narasi tersebut, banyak wisatawan nasional maupun mancanegara yang lebih mengasosiasikan Baluran dengan Banyuwangi ketimbang Situbondo.
Ini menimbulkan rasa keprihatinan di kalangan warga dan pegiat pariwisata Situbondo, sehingga muncullah istilah dimanfaatkan oleh "tetangga sebelah."
Sementara itu, warga Situbondo merasa Baluran adalah bagian dari identitas daerah mereka.
Namun, dengan kuatnya branding para agen wisata terhadap Baluran, muncul perasaan "terpinggirkan."
Istilah "tetangga sebelah" menjadi refleksi dari ketidakpuasan sekaligus keinginan untuk lebih diakui.
Karena itu, Situbondo akhirnya didorong untuk lebih aktif memperkenalkan aset wisatanya, termasuk Baluran, agar tidak persepsi pengunjung dari luar daerah itu memaknai Baluran merupakan bagian wilayah tetangga.
Ini memicu tumbuhnya semangat baru dalam sektor pariwisata lokal.
Di satu sisi, persinggungan ini bisa menjadi peluang untuk kerja sama antarwilayah dalam pengembangan pariwisata berbasis kawasan.
Menyadari kondisi ini, pemerintah daerah Situbondo dan pengelola Taman Nasional Baluran diharapkan meningkatkan branding lokal, serta menggandeng beragam platform media, sehingga menekankan bahwa Baluran adalah bagian dari Situbondo.
Mengembangkan paket wisata terintegrasi yang menghubungkan Baluran dengan destinasi lain di Situbondo, seperti Pantai Pasir Putih dan Kampung Kerapu.
Membangun aksesibilitas dan infrastruktur pendukung dari arah Situbondo agar wisatawan memiliki opsi rute yang lebih beragam.
Mengedukasi wisatawan tentang asal-usul, budaya, dan keunikan lokal Situbondo melalui pemandu wisata, papan informasi, media sosial, serta tentu saja menggandeng media massa untuk promosi wisata. (*)
Editor : Bayu Saksono