Radarsitubondo.id— Sekitar 8 Km arah utara dari pertigaan Karangtekok, terdapat Kantor Resort Pengelolaan Wilayah Bilik Sijile dalam kawasan Taman Nasional Baluran Situbondo.
Kantor tersebut berbentuk gedung mungil yang rapi dengan dominasi cat warna hijau army, mirip warna hijau daun-daun tanaman di sekitarnya.
Namun berbeda dari sabana kering di Bekol atau padang gersang Batangan, Bilik Sijile justru menyuguhkan lanskap tepi pantai yang alami — nyaris belum terjamah modernisasi.
Saat matahari masih malu-malu terbit di ufuk timur, suara burung pantai dan desir ombak berpadu dengan aroma tanah lembab dan daun laut yang terbawa angin.
Pagi di Bilik Sijile bukan hanya tentang keindahan, tetapi tentang harmoni.
Rimbunan pohon membentuk koridor alami menuju bibir pantai, tempat air laut jernih menyentuh pasir putih yang lembut.
“Sini suasananya tenang sekali. Kalau pagi, kadang kita bisa lihat burung bangau dan elang laut bertengger di pohon,” ujar Wawan, aktivis penanam pandan laut yang dulu pernah pernah berdinas sebagai petugas di Taman Nasional Baluran.
Berbeda dengan destinasi wisata populer, pantai Bilik dan pantai Sijile dulu pernah tak ramai pengunjung.
Bukan karena tak menarik, tetapi karena akses menuju lokasi memang terbatas dan medannya cukup menantang pada saat itu.
Namun seiring perbaikan akses jalan, kawasan ini semakin populer dikunjungi namun tetap terjaga dalam bentuk alaminya — nyaris seperti lukisan hidup dari masa silam.
Apalagi beberapa tahun mendatang, dengan berjalannya proyek jalan tol Probolinggo - Banyuwangi (Tol Probowangi) tentu akan mempermudah masyarakat menjangkau kawasan pantai tersembunyi ini.
Sementara itu, kawasan ini menjadi habitat penting bagi berbagai spesies, dari kepiting hutan bakau hingga rusa yang sesekali ‘’nyasar’’ ke tepian pantai.
Selain itu, kawasan sekitar kantor resort juga telah menjadi titik pengamatan konservasi mangrove dan tumbuhan pantai.
Beberapa jenis bakau, seperti Rhizophora mucronata dan Avicennia marina, tumbuh subur dan menjadi benteng alami terhadap abrasi laut.
Hutan dan pantai di kawasan ini seolah seperti sedang berbisik.
Kita hanya perlu diam, lalu mendengarkan untuk menikmati keaslian alam pesisir dengan kekayaan flora dan fauna alaminya.
Kawasan resort wilayah Bilik Sijile bukan hanya tempat kerja para penjaga hutan.
Ia adalah bagian dari denyut alami Taman Nasional Baluran yang sunyi, asri, dan sakral — seakan menjadi saksi bisu hari ini tentang pertemuan antara laut, daratan, dan semangat konservasi yang tak pernah padam.(*)
Editor : Bayu Saksono