radarsitubondo.id - Proyek Jalan Tol Probolinggo–Banyuwangi (Tol Probowangi), terutama pada segmen Asembagus–Bajulmati, nantinya bakal menghadirkan kisah kompleks antara kemajuan dan keberlanjutan.
Di tanah yang dilukis oleh ombak dan dijaga oleh satwa liar, pembangunan tidak bisa sekadar menembus , proyek tersebut harus mengetuk, menghormati, dan menyeimbangkan.
Untuk diketahui, segmen Asembagus–Bajulmati sepanjang kurang lebih 31 kilometer ini tak sekadar menghubungkan dua titik administratif, tetapi menapaki tanah yang menyimpan harta karun ekowisata: Pantai Sijile yang tersembunyi, dan Taman Nasional Baluran yang dijuluki "Africa van Java."
Pantai Sijile, yang selama ini hanya dapat dijangkau melalui jalur macadam atau perahu nelayan, kini berada dalam sorotan karena trase tol dirancang melintasi kawasan perbukitan yang hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer dari garis pantainya.
Pemandangan laut lepas yang berpadu dengan kontur hijau kawasan konservasi ini menghadirkan dinamika yang belum pernah dihadapi tim konstruksi sebelumnya.
Sementara itu Situbondo hari ini, trase jalan tol Probowangi dirancang dengan pendekatan eco-sensitive, terutama saat memasuki wilayah Banyuputih dan mendekati Baluran.
Salah satu langkah konkret adalah menggeser trase awal sejauh 200 meter ke utara untuk menghindari mata air dan jalur migrasi satwa liar dari kawasan savana Baluran menuju hutan bakau di sisi timur.
Di beberapa titik yang berada dalam zona transisi satwa, proyek ini akan menggunakan teknologi sunken road — konstruksi jalan yang sedikit diturunkan dari kontur alami tanah — untuk mereduksi kebisingan dan menciptakan koridor satwa melintasi bagian atasnya.
Meski tidak dilewati langsung oleh trase, keberadaan tol ini diperkirakan akan membuka akses legal dan terstruktur menuju Pantai Sijile, pantai yang masih perawan dengan ombak kecil yang cocok untuk berkemah dan memancing di wisata terdekat.
Apalagi pada latar belakang Pantai Sijile ini di sebelah selatan terlihat panorama Gunung Baluran.
Menariknya, tol Probowangi tidak semata-mata membangun jalan bagi kendaraan, tetapi membuka jalur menuju masa depan yang mempertemukan konektivitas dan konservasi.
Trase yang bersisian dengan kawasan Baluran dan dekat dengan Pantai Sijile berpotensi menjadi model nasional bagaimana infrastruktur besar dapat tumbuh berdampingan dengan kawasan ekowisata dan konservasi.
Masyarakat lokal pun menyambut dengan penuh harapan, asalkan akses jalan ini tidak berarti "jalan pintas" bagi eksploitasi alam.“Kalau bisa jaga alam dan bawa wisatawan tertib, kami ikut senang,” ujar MK Rizal, pemuda yang tinggal di sekitar Asembagus, Situbondo.(*)
Editor : Bayu Saksono