radarsitubondo.id - Tak salah, cukup waktu 3 jam atau 3,5 jam saja bagi warga Surabaya untuk mencapai Pelabuhan Ketapang di Kabupaten Banyuwangi.
Tentu saja, hal itu bisa terlaksana dengan catatan apabila proyek jalan tol Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi) sudah selsai sepenuhnya.
Maka bila itu terjadi, saat fajar masih bersembunyi di balik cakrawala, dan dalam waktu kurang dari empat jam, warga Kota Pahlawan Surabaya sudah berdiri di tepi Selat Bali, menyaksikan matahari menyinari langit hingga berwarna merah secara perlahan terbit di ufuk timur pegunungan sekitar Gilimnauk.
Pemandangan eksotis yang dulunya terasa jauh dari ibukota Provinsi Jawa Timur itu, sebentar lagi akan terasa kian dekat, berkat proyek tol Probowangi yang beberapa tahun lagi akan tuntas hingga pintu keluat (exit tol) di Banyuwangi yakni dekat Pelabuhan Ketapang.
Proyek jalan tol Probowangi yang ditargetkan rampung beberapa tahun ke lagi itu diprediksi akan memangkas waktu tempuh dari Surabaya ke Banyuwangi menjadi sekitar 3 jam 30 menit, jika mobil dipacu dengan kecepatan minimal dalam jalan tol yakni 80 km per jam.
Dengan begitu, apabila dibandingkan dengan perjalanan lintas provinsi yang saat ini melintasi jalur arteri utama di Pantai Utara Jawa (Pantura) waktu tempuhnya sangat lama yakni tujuh jam hingga delapan jam dari Surabaya ke Banyuwangi.
Fenomena ini bahkan memunculkan istilah baru di kalangan warga Surabaya pencinta petualangan, yakni “Sunrise instan.”
Dengan jadwal keberangkatan pukul 02.00 dini hari, mereka bisa tiba di Ketapang sebelum pukul 06.00, tepat saat semburat jingga mulai merekah di atas Selat Bali yang menghubungkan Pulau Bali dengan tanah Jawa.
“Sebelumnya kami harus bermalam dulu atau naik kereta semalaman. Tapi begitu tol ini selesai, melihat sunrise di Selat Bali bukan lagi wacana, tapi bisa dilakukan kapan saja setiap,” kata Randi Hasan, mahasiswa sebuah Universitas di Surabaya. (*)
Editor : Bayu Saksono