radarsitubondo.id - Para pencinta surfing dari Kota Pahlawan Surabaya sedang menantikan tuntasnya proyek jalan tol Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi). Lho kok bisa, apa hubungannya?
Rupanya, para pecinta ombak ekstrem dari Surabaya banyak yang memimpikan bisa menjajal gulungan ombak legendaris di Pantai Plengkung, yang lebih dikenal di kalangan internasional sebagai G-Land.
Kawasan G-Land yang berada di Taman Nasional Alas Purwo di Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, itu dikenal memiliki ombak terbesar kedua di dunia yang merupakan surganya pencinta olahraga ekstrem surfing.
Karena itu, surfer Surabaya menunggu adanya percepatan pembangunan Jalan Tol Probowangi, yang beberapa tahun lagi akan tersambung penuh dari Gending, Kabupaten Probolinggo, hingga ke sekitar Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.
Ruas jalan tol ini disebut sebagai tiket emas bagi para surfer dari Surabaya yang ingin menjangkau G-Land dalam waktu tempuh yang lebih singkat.
G-Land dengan ombak raksasanya yang mencapai 6 hingga 8 meter, yang menggulung mengarah ke arah kaki kiri surfer sepanjang hampir 2 kilometer, menjadikannya salah satu destinasi selancar terbaik di dunia.
Plengkung disebut punya ombak terbesar kedua setelah Hawaii di tengah Samudera Pasifik yang masih menjadi negara bagian Amerika Serikat.
Karena itu, tidak mengherankan apabila para peselancar internasional menyebut G-Land sebagai hidden gem di ujung timur Pulau Jawa.
Selama ini, para surfer asal Surabaya harus rela menghabiskan waktu tempuh perjalanan yang lama yakni sekitar 8jam hingga 10 jam perjalanan darat.
Baik melewati jalur pantai utara (lewat Situbondo) maupaun jalur selatan (lewat Jember) yang berliku dan naik turun.
Namun apabila jalan Tol Probowangi nanti akan rampung, waktu tempuh dari Surabaya diperkirakan akan terpotong drastis menjadi sekitar 5 jam saja sudah sampai G-Land.
Tentu saja, kabar ini adalah angin segar bagi komunitas selancar di Jawa Timur khususnya di Kota Pahlawan.
Jalan Tol Probowangi sendiri merupakan bagian dari jaringan tol Trans Jawa yang ditargetkan selesai sepenuhnya pada akhir 2025. Jika sesuai rencana, lonjakan wisatawan ke kawasan timur Jawa, khususnya Banyuwangi, diprediksi akan meningkat tajam.
Dengan semakin dekatnya Pantai Plengkung ke jangkauan warga Surabaya, bukan mustahil akan banyak lahir peselancar andal yang bisa bersaing di level internasional.
Siapa sangka, Pantai Plengkung di masa depan tak hanya dikenal sebagai surganya wave surfing, tapi juga sebagai tempat lahirnya legenda selancar Indonesia.(*)
Editor : Bayu Saksono