Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Harga Tiket Pesawat Naik Drastis, Ini Daftar Maskapainya

Agung Sedana • Senin, 13 April 2026 | 14:15 WIB
Ilustrasi petugas tengah mengisi avtur sebuah pesawat.
Ilustrasi petugas tengah mengisi avtur sebuah pesawat.

RADARSITUBONDO - Gejolak geopolitik global mulai berdampak langsung pada industri penerbangan, ditandai dengan lonjakan tajam harga bahan bakar pesawat yang memaksa maskapai di berbagai negara menaikkan tarif tiket hingga menyesuaikan jadwal penerbangan.

Kenaikan biaya operasional ini dipicu oleh melonjaknya harga minyak dunia yang berkaitan erat dengan konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ketegangan kawasan tersebut mendorong harga energi global naik signifikan dalam waktu singkat.

Berdasarkan data dari International Air Transport Association, harga rata-rata bahan bakar jet (jet fuel) global melonjak hingga US$197 per barel pada pekan yang berakhir 20 Maret. Angka ini meningkat tajam dibandingkan US$157,41 dua pekan sebelumnya, bahkan hampir dua kali lipat dari posisi US$95,95 pada 20 Februari.

Sementara itu, harga minyak mentah acuan global Brent sempat menyentuh US$119 per barel, mendekati level tertinggi sejak konflik berlangsung. Lonjakan ini menjadi tekanan besar bagi maskapai yang sangat bergantung pada biaya bahan bakar sebagai komponen utama operasional.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik 8 Persen Usai Ancaman Blokade Selat Hormuz oleh Donald Trump

Sejumlah maskapai internasional mulai merespons kondisi ini dengan menaikkan harga tiket, meskipun kebijakan yang diambil berbeda-beda tergantung rute dan strategi masing-masing perusahaan.

Cathay Pacific menjadi salah satu yang lebih dulu mengumumkan penyesuaian tarif melalui penerapan fuel surcharge untuk pembelian tiket mulai 1 April.

"Situasi yang terus bergejolak di Timur Tengah terus berdampak signifikan pada harga bahan bakar jet dan ini memberikan tekanan yang cukup besar pada maskapai penerbangan di seluruh dunia," kata maskapai tersebut dikutip Newsweek, Minggu (12/4/2026).

Kebijakan ini berlaku untuk sejumlah rute jarak jauh, termasuk penerbangan dari Hong Kong menuju Amerika Utara, Eropa, Timur Tengah, hingga Afrika.

Maskapai lain juga mengambil langkah serupa. Air New Zealand menaikkan tarif sebesar NZ$10 untuk rute domestik, NZ$20 untuk penerbangan jarak pendek, dan NZ$90 untuk rute jarak jauh.

Kemudian, grup Air France-KLM memberlakukan biaya tambahan sebesar 50 euro untuk perjalanan pulang-pergi pada rute jarak jauh. Dari kawasan Australia, Qantas juga mengonfirmasi kenaikan tarif pada jaringan penerbangan internasionalnya.

Di Asia Tenggara, Thai Airways bahkan menaikkan harga tiket hingga 10% sampai 15% untuk menutup lonjakan biaya bahan bakar, terutama di tengah tingginya permintaan perjalanan ke Eropa.

Sementara itu, maskapai berbiaya rendah AirAsia mengakui bahwa kenaikan harga tiket menjadi langkah yang tidak terhindarkan dalam kondisi saat ini. Meski demikian, perusahaan berupaya menjaga tarif tetap kompetitif di tengah tekanan biaya.

"Kami tidak akan membatalkan penerbangan karena permintaan bagus. Kami melakukan yang terbaik untuk menjaga harga tiket serendah mungkin, tetapi kami membutuhkan dukungan dari bagian lain dari ekosistem penerbangan," kata Tony Fernandes.

"Harga tiket harus naik; tidak ada cara lain, tetapi harga tiket kami akan naik jauh lebih sedikit daripada yang lain," imbuhnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa industri penerbangan global masih sangat rentan terhadap dinamika geopolitik, terutama yang berdampak langsung pada harga energi. Jika ketegangan terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga tiket pesawat akan kembali mengalami kenaikan dalam waktu dekat.

Editor : Agung Sedana
#tiket maskapai penerbangan #bbm naik #harga tiket pesawat naik