RADARSITUBONDO.ID - Aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur kembali meningkat. Gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut tercatat mengalami empat kali letusan dalam kurun waktu Kamis (12/3) dini hari hingga pagi.
Letusan dengan kolom abu tertinggi teramati mencapai sekitar 600 meter di atas puncak. Aktivitas tersebut terpantau oleh petugas di Pos Pengamatan Gunung Api Semeru.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto mengatakan letusan pertama terjadi pada pukul 00.27 WIB. Namun secara visual letusan tidak dapat teramati karena kondisi gelap dan tertutup kabut.
“Hanya beberapa menit kemudian, tepatnya pukul 00.31 WIB, Gunung Semeru kembali mengalami erupsi. Visual letusannya juga tidak teramati,” ujar Liswanto dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang, Kamis.
Aktivitas erupsi kembali terjadi pada pagi hari. Pada pukul 05.28 WIB, letusan terlihat jelas dengan tinggi kolom abu mencapai sekitar 600 meter di puncak puncak.
Jika dihitung dari permukaan laut, ketinggian kolom letusan tersebut mencapai sekitar 4.276 meter di atas permukaan laut (mdpl).
“Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang yang mengarah ke utara,” jelas Liswanto.
Tidak lama berselang, gunung dengan ketinggian 3.676 mdpl itu kembali mengalami erupsi keempat pada pukul 05.46 WIB.
Pada letusan tersebut, tinggi kolom abu teramati sekitar 300 meter di atas puncak atau sekitar 3.976 mdpl. Warna kolom abu masih sama, yakni putih hingga kelabu dengan intensitas sedang dan bergerak ke arah utara.
Hingga saat ini aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih berada pada status Level III atau Siaga yang ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Dengan status tersebut, PVMBG mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting bagi masyarakat di sekitar kawasan gunung.
Salah satu di antaranya adalah larangan melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan.
“Masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat letusan,” tegas Liswanto.
Baca Juga: 4 Hari Hilang Terseret Banjir, Warga Jatibanteng Ditemukan Tewas Membusuk Nyangkut di Pohon Sungai
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan. Hal ini karena kawasan tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
PVMBG juga mengingatkan masyarakat agar tidak beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Area tersebut dinilai rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar saat terjadi letusan.
Warga yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru juga diminta meningkatkan kewaspadaan.
Potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi awan panas guguran, aliran lava, hingga lahar yang dapat mengalir melalui sejumlah lembah dan sungai.
Beberapa aliran sungai yang perlu diwaspadai di antaranya Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Selain itu, lahar juga berpotensi mengalir melalui sungai anak-anak yang terhubung dengan Besuk Kobokan.
PVMBG mengimbau masyarakat untuk terus mengumpulkan informasi resmi dari petugas dan tidak mendekati kawasan berbahaya di sekitar Gunung Semeru.
Aktivitas vulkanik gunung tersebut hingga kini masih terus dipantau secara intensif oleh petugas pos pengamatan guna mengantisipasi potensi peningkatan aktivitas lebih lanjut.
Editor : Agung Sedana