RadarSitubondo.id - Aktifitasnya seolah sangat sederhana. Hanya berkeliling di sekitar rumah meninjau bibit cabai yang baru disemai. Kemudian menyiram dan merawat yang sudah tumbuh.
Tapi, keuntungannya cukup menggiurkan. Dalam satu bulan bisa mendapatkan Rp 10 juta dari hasil penjulan bibit tersebut.
Rebus Susanto warga Desa Juglangan, Kecamatan Panji, mengaku tidak dibebani dengan pekerjaannya.
Sebab, apa yang dilakukannya adalah hobi. Yang menggiurkan, dari aktifitasnya tersebut dia bisa mendapatkan omzet lumayan besar.
“Saya tidak mau ditekan pekerjaan, jadi saya ini bebas, kalau mau jalan-jalan ya bisa. Prinsip saya tidak mau bekerja jika sifatnya merusak alam. Siklus alam ini tidak akan bohong, mau tidak mau kita pasti kena dampak,” kata Rebus.
Menurut Rebus, sudah belasan tahun dia berjualan bibit cabai. Dari apa yang dilakukannya itu, dia bisa mendapatkan untung lumayan besar. Yakni Rp 50 ribu dari setiap seribu bibit cabai yang dijual.
“Untuk kapasitas lahan saya itu 800 ribu bibit cabai. Dalam satu bulan bisa dapat Rp 10 juta dalam satu bulan. Itu sudah hasil bersih,” tegas Rebus.
Kata rebus, untuk berjualan bibit cabai hanya butuh modal sedikit dan resikonya juga sedikit. Tetapi keuntungannya cukup besar. Bahkan, dia tidak menggunakan pupuk kimia dalam merawat bibit yang ditanam di sekitar rumahnya.
“Dari penyemaian bibit cabai, hingga bibit cabai siap tanam, tidak saya obat bakai bahan kimia. Saya gunakan full pupuk kandang yang saya racik sendiri. Dulu, sebelum ada pupuk non subsidi sudah banyak petani tanam cabai dan buahnya banyak. Saya juga buktikan sendiri, tanam cabai hingga tanam tanpa pupuk kimia, hasilnya lebat dan batangnya tinggi,” tegas Rebus.
Dikatakan Rebus, dirinya juga memiliki delapan pekerja yang harus digaji tiap hari. Dia membayar setiap pekerja Rp 70 ribu dalam satu hari kerja.
“Pekerja saya ada 12 orang. Untuk saat ini sudah tinggal delapan orang. Sisanya sudah banyak membuka bisnis sendiri,” katanya.
Keadaan itu tidak membut Rebus sakit hati. Dia malah senang, karena ilmunya sudah diserap dan diaplikasikan. Bahkan pekerja tersebut membuka usaha di sebelah rumahnya.
“Target saya setiap pekerja jangan sampai bekerja lama-lama di tempat saya. Kalau sudah dapat ilmunya silhakan buka secara pribadi. Meskipun sudah membuka sendiri mereka tetap saling bertemu dengan saya. malah bisa saling menguntungkan,” tegas Rebus.
Sumianto, 48, warga setempat mengatakan, sebelum membuka bisnis sendiri sempat menjadi anak buah Rebus selama empat tahun.
Kini, dia sudah bisa meraup untung dalam satu hari Rp 700 dari penjualan bibit cabai.
“Dulu empat tahun lebih juga kerja sama pak Rebus. Habis itu saya pamit ingin buka usaha sendiri diizinkan. Alhamdulillah saat ini bisa dapat untung Rp 700 ribu dalam sehari, ini sudah penghasilan bersih,” tegas Sumianto salah satu warga yang hanya jarak satu pagar dengan Rebus. (pri)
Editor : Salis Ali Muhyidin