RADARSITUBONDO.ID - Bentrokan antara Thailand dan Kamboja masih terjadi meskipun Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata pada Jumat lalu.
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, pada Sabtu (14/12) menegaskan bahwa negaranya belum mencapai kesepakatan tersebut dan operasi militer akan terus berjalan.
Baca Juga: Huawei Mate X7 Resmi Meluncur di Pasar Global, Usung Chipset Kirin 9030 Pro
Kamboja menuduh Thailand melakukan serangan udara lagi dengan pesawat tempur F-16 yang menjatuhkan tujuh bom di Provinsi Pursat pada Jumat malam, beberapa jam setelah pengumuman dari Trump.
Menteri Pertahanan Thailand, Jenderal Nattaphon Narkphanit, mengatakan pemerintah belum mengeluarkan perintah gencatan senjata untuk angkatan bersenjata mereka.
Konflik yang dimulai akhir pekan lalu telah menyebabkan lebih dari 20 orang meninggal dan hampir 200 orang terluka di kedua negara.
Sekitar 600.000 warga sipil terpaksa mengungsi dari perbatasan yang panjangnya 800 kilometer dan menjadi sengketa, terutama di area yang memiliki kuil-kuil bersejarah.
Baca Juga: Amerika Serikat Luncurkan Aliansi Teknologi Pax Silica Bersama Jepang dan Korea Selatan
Anutin menggambarkan situasi saat ini sebagai "kemungkinan kesalahpahaman" dan menegaskan Thailand tidak akan mengabaikan ketika roket BM-21 dari Kamboja menghantam daerah sipil.
Ia menambahkan, untuk gencatan senjata yang sebenarnya, dibutuhkan proposal resmi dari Kamboja dengan penghentian total serangan militer.
Trump sebelumnya menyatakan bahwa ia telah membantu menengahi gencatan senjata pada bulan Juli yang kemudian diperkuat lagi dalam pertemuan bulan Oktober di Kuala Lumpur.
Namun Thailand kemudian menangguhkan kesepakatan itu pada bulan November setelah dua tentaranya terluka karena ranjau darat.
Editor : Ali Sodiqin