RADARSITUBONDO.ID - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mencatatkan sejarah baru setelah meraih kemenangan telak dalam pemilihan umum mendadak yang digelar pada Minggu, 8 Februari 2026.
Takaichi menjadi perempuan pertama yang memimpin Jepang, sekaligus membawa Partai Demokrat Liberal (LDP) meraih 316 dari total 465 kursi di Majelis Rendah. Capaian ini menandai pertama kalinya sejak Perang Dunia II satu partai tunggal berhasil menguasai mayoritas dua pertiga parlemen.
Langkah berani Takaichi membubarkan parlemen dan menggelar pemilu cepat terbukti membuahkan hasil. Koalisi LDP bersama Partai Inovasi Jepang (Ishin) mengamankan lebih dari 340 kursi, jauh melampaui ambang batas 233 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan mayoritas.
Dukungan pemilih muda yang dikenal dengan fenomena “Sanamania” disebut menjadi salah satu faktor utama kemenangan besar ini.
Meski cuaca ekstrem melanda sejumlah wilayah dengan suhu di bawah nol dan hujan salju, partisipasi pemilih tetap tinggi. Jutaan warga Jepang terlihat mendatangi tempat pemungutan suara. Dalam wawancara dengan NHK, Takaichi menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang tetap datang memilih meski harus menembus dingin dan jalanan bersalju.
Baca Juga: Trump Desak Perjanjian Nuklir Baru Setelah New START Berakhir
Kemenangan tersebut memberi legitimasi kuat bagi Takaichi untuk merealisasikan agenda kebijakan konservatifnya.
Sejumlah prioritas yang akan dijalankan antara lain penguatan kapasitas pertahanan nasional serta penangguhan sementara pajak penjualan sebesar 8 persen untuk bahan makanan selama dua tahun, guna meringankan beban rumah tangga akibat lonjakan harga.
Sosok Takaichi yang dikenal gemar mengendarai sepeda motor dan bermain drum musik heavy metal dinilai membawa warna baru dalam panggung politik Jepang yang selama ini didominasi kaum pria.
Dukungan juga datang dari luar negeri. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan ucapan selamat melalui media sosial dan menyebut Takaichi sebagai pemimpin yang populer dan disegani. Keduanya dijadwalkan bertemu di Washington pada Maret 2026.
Editor : Ali Sodiqin