RADARSITUBONDO.ID - Dua kapal Angkatan Laut Meksiko bersandar di Pelabuhan Havana, Kuba, Kamis (12/2), dengan membawa lebih dari 800 ton bantuan kemanusiaan. Pengiriman ini dilakukan di tengah meningkatnya tekanan diplomatik Amerika Serikat terhadap negara Karibia tersebut.
Kapal Papaloapan dan Isla Holbox mengangkut berbagai kebutuhan pokok, mulai dari susu, beras, kacang-kacangan, sarden, produk daging, minyak sayur, tuna kaleng, hingga perlengkapan kebersihan pribadi.
Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, mengumumkan langsung pengiriman bantuan itu dalam konferensi pers pagi hari. Ia menegaskan dukungan negaranya kepada Kuba tidak akan berhenti pada pengiriman kali ini.
“Kami mengirim berbagai bentuk bantuan dan dukungan. Hari ini kapal tiba, dan saat mereka kembali, kami akan mengirim lebih banyak bantuan jenis lain,” ujarnya.
Baca Juga: Bahar bin Smith Dapat Penangguhan Penahanan, Ajukan Penyelesaian Damai
Langkah tersebut diambil di tengah situasi diplomatik yang sensitif. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara mana pun yang menjual atau memasok minyak ke Kuba. Ancaman itu memicu krisis energi di pulau tersebut, hingga pemerintah setempat melakukan rasionalisasi ketat.
Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, menyebut kebijakan tersebut sebagai “blokade energi” yang berdampak luas pada sektor transportasi, rumah sakit, sekolah, pariwisata, hingga produksi pangan.
Pejabat Kuba menyatakan sejak awal 2026 tidak ada lagi pasokan minyak yang masuk ke negara itu.
Dampaknya mulai terasa di sektor penerbangan. Maskapai asal Kanada, Air Canada, bahkan menghentikan penerbangan ke Kuba karena tidak tersedianya bahan bakar untuk pengisian ulang.
Baca Juga: Tarique Rahman Janji Politik Bersih di Pemilu Pertama Pasca Hasina
Di sisi lain, Meksiko menghadapi dilema besar. Sekitar 80 persen ekspor negara itu ditujukan ke Amerika Serikat sebagai mitra dagang utama. Meski demikian, Sheinbaum tetap mengkritik keras kebijakan blokade minyak terhadap Kuba yang ia sebut “sangat tidak adil”.
Warga Havana menyambut hangat kedatangan kapal bantuan tersebut. Yohandri Espinosa (34), seorang insinyur yang datang bersama putrinya ke pelabuhan, mengaku bantuan itu sangat berarti di tengah situasi sulit yang dihadapi masyarakat.
“Ini adalah bantuan yang sangat penting bagi rakyat Kuba saat ini. Kami hidup dalam masa sulit penuh kebutuhan dan ketidakpastian,” katanya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodríguez Parrilla, menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Meksiko melalui media sosial. Ia menyebut bantuan lebih dari 800 ton itu dikirim di tengah intensifikasi blokade menyusul perintah eksekutif terbaru dari pemerintah AS.
Pemerintah Kuba mengklaim sanksi Amerika Serikat telah menyebabkan kerugian lebih dari 7,5 miliar dolar AS dalam periode Maret 2024 hingga Februari 2025.
Meski perusahaan minyak milik negara Meksiko, Pemex, menghentikan pengiriman minyak mentah ke Kuba sejak Januari tanpa penjelasan resmi, Sheinbaum menegaskan pihaknya akan terus melakukan upaya diplomatik dengan Washington agar Kuba tetap dapat memperoleh minyak dan produk turunannya demi operasional harian.
Editor : Ali Sodiqin