RADARSITUBONDO.ID - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, menegaskan siap membalas serangan Israel yang terus berlanjut meski telah ada kesepakatan gencatan senjata.
Pernyataan keras itu disampaikan pejabat senior Hizbullah, Mahmoud Qmati, yang menegaskan bahwa era kesabaran telah berakhir.
“Kalau Israel mau perang terbuka, biarlah ini menjadi perang terbuka,” tegas Qmati seperti dilansir Al Jazeera.
Pernyataan tersebut muncul setelah Israel melancarkan serangan ke berbagai wilayah Lebanon, termasuk ibu kota Beirut.
Hizbullah menilai Israel menginginkan perang tanpa akhir yang disebut belum benar-benar berhenti sejak kesepakatan gencatan senjata diteken pada November 2024. Menurut para pemimpin kelompok itu, serangan udara dan operasi drone Israel terus berlangsung di wilayah Lebanon selatan.
Mereka mengklaim kesabaran telah habis dan menyatakan kesiapan memulai pengoperasian tempur secara terbuka. Hizbullah juga meminta pemerintah Lebanon untuk tidak menghalangi langkah perlawanan terhadap Israel.
Situasi ini menampilkan kembali stabilitas yang sempat tercipta melalui kesepakatan gencatan senjata. Pelanggaran berulang disebut menjadi pemicu utama kelompok tersebut kembali mengangkat senjata.
Baca Juga: Tol Pintu Besuki Dibuka Fungsional Mulai 13 Maret 2026, Siap Urai Lonjakan Arus Mudik Lebaran!
Konflik kali ini merupakan lanjutan dari ketegangan regional yang meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Hizbullah, yang dikenal sebagai sekutu kuat Teheran, merespons dengan meluncurkan roket ke wilayah Israel.
Serangan itu disebut sebagai balasan atas serangannya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Aksi balasan tersebut langsung memicu respons keras dari pemerintah Israel.
Baca Juga: Pemenang Lelang SPBU Landangan Tak Bisa Kuasai Aset, KPRI Raung Ancam Bongkar Bangunan!
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memberi otorisasi kepada militer untuk maju dan menguasai posisi tambahan di wilayah Lebanon.
Pasukan tambahan dikerahkan ke perbatasan utara Israel. Langkah ini disebut sebagai upaya memperkuat posisi pertahanan guna melindungi warga sipil dari ancaman roket dan drone.
Juru bicara militer Israel, Letnan Kolonel Nadav Shoshani, menyatakan bahwa pasukan hanya berada di daerah perbatasan dalam posisi defensif.
“Kami Ditempatkan untuk mencegah serangan terhadap warga sipil dan titik-titik strategis,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Meski demikian, Hizbullah menilai langkah tersebut sebagai bentuk eskalasi militer yang dapat memicu perang terbuka.
Baca Juga: Elpiji 3 Kg Langka di Situbondo, Harga Tembus Rp 25 Ribu Jelang Ramadan!
Di tengah situasi yang memanas, Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa keputusan kabinet yang melarang aktivitas militer Hizbullah bersifat final.
Pihak yang berwenang diperintahkan mencegah setiap aksi militer yang dapat menyeret Lebanon ke dalam konflik yang lebih luas. Sikap pemerintah ini menampilkan dilema Beirut yang berada di antara tekanan domestik dan ancaman eksternal.
Namun, efektivitas kebijakan tersebut dibahas mengingat pengaruh dan kekuatan militer Hizbullah yang signifikan di Lebanon selatan.
Baca Juga: THR 2026 Tetap Kena Pajak PPh 21, Menaker Yassierli Tegaskan Belum Ada Perubahan Aturan
Sebagai respons atas serangan Israel, Hizbullah meluncurkan balasan serangan berupa drone dan roket ke tiga pangkalan militer Israel. Terjadinya terdengar di sejumlah wilayah perbatasan, meningkatkan kewaspadaan di kedua sisi.
Sejak gencatan senjata November 2024, Israel disebut masih kerap melakukan serangan drone yang menyasar anggota Hizbullah. Siklus serangan dan balasan ini memperkuat ketakutan akan perang berkepanjangan.
Eskalasi konflik antara Hizbullah dan Israel menimbulkan kekhawatiran akan perang besar baru di kawasan Timur Tengah. Situasi semakin kompleks dengan keterlibatan aktor regional dan internasional.
Pengamat menilai konflik ini berpotensi meluas jika tidak ada intervensi diplomatik yang efektif. Ketegangan yang terus meningkat bukan hanya mengancam stabilitas Lebanon dan Israel, tetapi juga keamanan kawasan secara keseluruhan.
Dengan pernyataan bahwa “era kesabaran telah berakhir,” Hizbullah kini membuka kemungkinan perang terbuka yang dapat mengubah peta konflik regional secara signifikan.
Dunia internasional pun menanti apakah eskalasi ini akan berhenti di meja diplomasi atau justru meledak menjadi konflik berskala lebih besar.
Editor : Agung Sedana