RADARSITUBONDO.ID - Dampak perang di kawasan Timur Tengah kian meluas. Badan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumpulkan bahwa sepuluh hari konflik bersenjata telah menghasilkan kehidupan masyarakat di berbagai negara di kawasan tersebut.
Selain memicu gelombang pengungsian besar-besaran, konflik juga menimbulkan fenomena lingkungan berbahaya berupa “hujan hitam” beracun setelah serangan terhadap depot minyak di Iran. Situasi itu diperparah dengan terganggunya rantai pasokan kemanusiaan dan perdagangan global.
Peringatan tersebut disampaikan sejumlah pejabat badan PBB dalam konferensi pers di Jenewa pada Selasa (10/3).
Juru bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB, Ravina Shamdasani, mengungkapkan kekhawatiran serius terkait dampak kesehatan dan lingkungan dari serangan terhadap fasilitas minyak di Iran.
Menurutnya, serangan yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap depot minyak memicu pelepasan polutan beracun yang menyebar melalui udara.
“Asap hitam dan partikel berbahaya yang terlepas dari fasilitas minyak yang terbakar dapat menimbulkan dampak kesehatan jangka pendek maupun panjang bagi masyarakat,” ujarnya.
Shamdasani menegaskan, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan serius mengenai kepatuhan terhadap hukum kemanusiaan internasional, khususnya terkait prinsip proporsionalitas dan kehati-hatian dalam operasi militer.
Ia juga menyoroti bahwa sejumlah lokasi yang diserang tampaknya tidak digunakan secara eksklusif untuk kepentingan militer.
“Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah kewajiban hukum internasional benar-benar telah dipenuhi dalam operasi tersebut,” tambahnya.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Juru bicara WHO, Christian Lindmeier, mengatakan fenomena hujan hitam dan hujan asam yang dilaporkan terjadi di Teheran setelah serangan merupakan ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat.
Menurutnya, fenomena tersebut terjadi ketika partikel karbon dan polutan dari kebakaran minyak bercampur dengan awan hujan.
“Kami terus berkoordinasi dengan rumah sakit dan otoritas kesehatan setempat,” ujar Lindmeier.
Pemerintah Iran bahkan telah mengeluarkan peringatan kepada warga agar tetap berada di dalam rumah guna mengurangi paparan polusi.
Langkah tersebut terutama dilakukan karena kebakaran pada fasilitas minyak masih menimbulkan asap beracun yang berpotensi mencemari udara dalam radius luas.
WHO juga mencatat laporan serangan terhadap infrastruktur minyak di Bahrain dan Arab Saudi. Kondisi ini meningkatkan risiko paparan polusi negara di kawasan Teluk.
Baca Juga: 4 Hari Hilang Terseret Banjir, Warga Jatibanteng Ditemukan Tewas Membusuk Nyangkut di Pohon Sungai
Di sisi lain, dampak kemanusiaan dari konflik juga semakin besar.
Perwakilan Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) di Lebanon, Karolina Lindholm Billing, menyebutkan bahwa lebih dari 100.000 orang mengungsi hanya dalam 24 jam terakhir akibat serangan dan perintah evakuasi dari militer Israel.
Dengan tambahan tersebut, jumlah warga yang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka akibat konflik ini kini mencapai hampir 700.000 jiwa.
“Kami melihat deretan mobil panjang di jalan-jalan dengan orang-orang yang tidur di dalam kendaraan mereka,” kata Billing.
Banyak keluarga meninggalkan rumah dengan tergesa-gesa tanpa sempat membawa barang berharga.
Sebagian besar pengungsi kini mencari perlindungan di Beirut, wilayah Gunung Lebanon, Lebanon Utara, serta sejumlah wilayah di Lembah Bekaa.
Organisasi kemanusiaan yang memerangi tantangan besar dalam menyediakan tempat penampungan, makanan, dan layanan kesehatan bagi para pengungsi yang terus datang.
Baca Juga: 4 Hari Hilang Terseret Banjir, Warga Jatibanteng Ditemukan Tewas Membusuk Nyangkut di Pohon Sungai
Konflik yang meluas juga mulai berdampak pada sistem perdagangan global.
Jean-Martin Bauer, Direktur Layanan Analisis Pangan dan Gizi Program Pangan Dunia (WFP), memperingatkan bahwa situasi di dua jalur pelayaran strategis dunia semakin berbahaya.
Dua titik yang menjadi perhatian utama adalah Selat Hormuz di Teluk Persia dan Selat Bab el-Mandeb di lepas pantai Tanduk Afrika.
Jalur kedua merupakan jalur penting dalam pengiriman energi dan bahan pangan global.
“Pembatasan dan peningkatan risiko keamanan membuat banyak perusahaan pelayaran mengalihkan rute layanan mereka,” jelas Bauer.
Selain itu, perusahaan pengiriman kini harus menanggung biaya tambahan yang besar untuk asuransi risiko perang.
Biaya tersebut diperkirakan mencapai 2.000 hingga 4.000 dolar AS per kontainer, yang berpotensi meningkatkan harga barang secara global.
Baca Juga: Ngutang Rp 1 Juta Berujung Tagihan Rp 32 Juta, Pasutri di Situbondo Dilaporkan ke Polisi
Para pejabat PBB menegaskan bahwa konflik yang sedang berlangsung tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga berpotensi menimbulkan krisis kemanusiaan dan ekonomi yang lebih luas.
Polusi udara lintas negara, gelombang pengungsi, serta gangguan jalur perdagangan global dinilai dapat memicu ketidakstabilan di berbagai wilayah.
Badan-badan PBB kini mendesak semua pihak untuk menjaga diri dan memastikan perlindungan terhadap warga sipil serta infrastruktur sipil sesuai hukum internasional.
Jika konflik terus meluas, para analis memperingatkan bahwa dampaknya bisa melampaui wilayah Timur Tengah dan mempengaruhi stabilitas ekonomi serta keamanan global.
Editor : Agung Sedana