RADARSITUBONDO.ID - Pemerintah Thailand melayangkan protes resmi kepada Iran setelah sebuah kapal berbendera Thailand diserang di perairan strategis Selat Hormuz.
Insiden yang terjadi pada Rabu (11/3) itu menyebabkan tiga kapal awak dilaporkan hilang dan memicu kekhawatiran baru atas keselamatan pelayaran internasional di kawasan Timur Tengah yang tengah dilanda konflik.
Kementerian Luar Negeri Thailand pada Kamis (12/3) memanggil Duta Besar Iran untuk Thailand, Nassereddin Heidari, guna meminta klarifikasi terkait serangan tersebut.
Langkah riset ini diambil menyusul meningkatnya ketegangan di kawasan setelah rangkaian serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan berbagai serangan balasan.
Baca Juga: Perang Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, Pesan Eropa Diprediksi Bayar Tambahan Rp3,7 Juta per Tahun
Kapal yang menjadi sasaran serangan adalah Mayuree Naree, sebuah kapal niaga yang membawa 23 pelaut asal Thailand. Saat kejadian terjadi, kapal tersebut sedang berlayar dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, menuju India.
Menurut laporan media Thai Enquirer, kapal tersebut terkena serangan ketika melintas di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia. Serangan itu terjadi di tengah situasi keamanan yang semakin memburuk akibat konflik regional yang terus meluas.
Setelah serangan terjadi, angkatan laut Oman segera melakukan operasi penyelamatan di lokasi kejadian. Dari total 23 kapal awak, sebanyak 20 orang berhasil diselamatkan. Sementara itu, tiga pelaut lainnya masih dinyatakan hilang dan diduga berada di ruang mesin kapal saat serangan berlangsung.
Operasi pencarian dan penyelamatan masih terus dilakukan hingga saat ini. Otoritas maritim Oman bersama pihak terkait berupaya menemukan pelaut ketiga tersebut di tengah kondisi laut yang sulit.
Baca Juga: Meta Lebih Hapus dari 150.000 akun dalam Upaya Pemberantasan Jaringan Penipuan di Asia Tenggara
Pemerintah Thailand menyatakan mencakup secara mendalam atas kejadian tersebut. Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Thailand menyatakan bahwa situasi keamanan di Timur Tengah kini menimbulkan ancaman serius bagi keselamatan warga sipil, termasuk warga negara Thailand yang bekerja di sektor pelayaran dan energi di kawasan itu.
Selain membahayakan keselamatan manusia, eskalasi konflik juga dinilai mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Jalur laut ini merupakan salah satu koridor perdagangan energi paling vital di dunia, tempat jutaan barel minyak melintas setiap harinya.
Bangkok juga mendorong semua pihak yang terlibat konflik untuk menahan diri dan menghindari langkah-langkah yang dapat memperburuk situasi. Pemerintah Thailand menilai bahwa eskalasi militer berpotensi memperluas dampak konflik hingga sektor ekonomi global dan perdagangan internasional.
Insiden yang menimpa kapal Thailand ini terjadi di tengah meningkatnya konflik antara Iran di satu sisi dan Amerika Serikat serta Israel di sisi lain. Sejak 28 Februari, serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel melaporkan tabrakan sejumlah sasaran di Iran.
Menurut berbagai laporan internasional, serangan tersebut telah menewaskan sekitar 1.300 orang. Korban termasuk sejumlah pejabat tinggi Iran, warga sipil, serta puluhan pelajar perempuan yang menjadi korban dalam serangan di wilayah organisasi.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan drone dan rudal ke berbagai wilayah di Timur Tengah. Sasaran serangan termasuk Israel, Yordania, Irak, serta beberapa negara Teluk yang menampung fasilitas militer Amerika Serikat.
Ketegangan juga meningkat setelah Iran secara efektif memblokir Selat Hormuz sejak awal Maret. Langkah ini memperketat kontrol terhadap lalu lintas kapal di jalur perairan strategis tersebut.
Baca Juga: Menteri Pigai Menyiapkan Kelas HAM Khusus untuk Jurnalis
Korps Garda Revolusi Islam Iran bahkan menyatakan bahwa setiap kapal yang ingin melintas di Selat Hormuz kini harus mendapatkan izin dari Teheran. Pernyataan itu memicu kekhawatiran luas di kalangan pelaku industri pelayaran global karena berpotensi mengganggu rantai pasokan energi dunia.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah Thailand juga terus melakukan upaya evakuasi warga negaranya dari kawasan konflik. Pada Kamis (12/3), kelompok terbaru yang terdiri dari 34 warga negara Thailand berhasil tiba di tanah air setelah dievakuasi dari Iran melalui Turki.
Proses evakuasi ini memastikan bagian dari langkah pemerintah Thailand untuk keselamatan warganya yang berada di wilayah Timur Tengah.
Data yang dihimpun Anadolu Agency menunjukkan bahwa sejak konflik meletus pada 28 Februari, setidaknya 19 warga dari berbagai negara Asia telah tewas atau hilang.
Korban tersebut meliputi empat warga Bangladesh, masing-masing tiga orang dari Pakistan, Thailand, dan India, serta masing-masing satu orang dari China, Nepal, dan Filipina. Selain itu, tiga warga Indonesia juga dilaporkan masih hilang hingga saat ini.
Insiden serangan terhadap kapal Thailand di Selat Hormuz menjadi pengingat nyata bahwa konflik di Timur Tengah kini tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga menimbulkan risiko bagi pelayaran internasional dan keselamatan warga sipil dari berbagai negara.
Editor : Agung Sedana