Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

PM Israel Lontarkan Ancaman Terselubung terhadap Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru

Bayu Shaputra • Sabtu, 14 Maret 2026 | 12:10 WIB

Netanyahu.
Netanyahu.

RADARSITUBONDO.ID - Ketegangan di Timur Tengah kembali setelah meningkat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melontarkan pernyataan keras yang dianggap sebagai ancaman terselubung terhadap Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei.

Pernyataan itu disampaikan Netanyahu dalam konferensi pers pertamanya sejak pecahnya perang antara Israel dan Iran, Kamis (12/3).

Dalam konferensi pers yang dilakukan melalui sambungan video dengan latar dua bendera Israel, Netanyahu ditanya mengenai kemungkinan langkah Israel melawan Mojtaba Khamenei serta pemimpin Hizbullah, Naim Qassem. Menanggapi pertanyaan tersebut, Netanyahu memberikan jawaban tegas yang menarik perhatian dunia internasional.

"Saya tidak akan mengeluarkan polis asuransi jiwa untuk pemimpin organisasi teroris mana pun. Saya tidak bermaksud memberikan laporan detail tentang apa yang kami rencanakan atau akan lakukan," ujar Netanyahu.

Baca Juga: Perang Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, Pesan Eropa Diprediksi Bayar Tambahan Rp3,7 Juta per Tahun

Pernyataan itu langsung memberi isyarat kepada banyak pengamat sebagai ancaman tidak langsung terhadap pemimpin baru Iran tersebut. Apalagi, situasi kawasan Timur Tengah berada dalam kondisi sangat tegang setelah rangkaian serangan udara Israel terhadap target-target strategis Iran sejak akhir Februari lalu.

Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer yang dilakukan Israel bersama Amerika Serikat telah memberikan pukulan besar terhadap kekuatan militer Iran. Menurutnya, Iran saat ini berada dalam kondisi yang jauh lebih lemah dibandingkan sebelum konflik terbuka ini terjadi.

Ia menyebutkan bahwa dua kekuatan utama Iran, yakni Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan pasukan paramiliter Basij, telah mengalami kerugian besar akibat serangan udara intensif selama hampir dua pekan terakhir.

“Iran bukan lagi negara yang sama seperti dua minggu lalu,” kata Netanyahu dengan nada percaya diri.

Baca Juga: Meta Lebih Hapus dari 150.000 akun dalam Upaya Pemberantasan Jaringan Penipuan di Asia Tenggara

Dalam kesempatan yang sama, Netanyahu juga melontarkan sindiran tajam kepada Mojtaba Khamenei. Ia menyebut pemimpin baru Iran itu sebagai “boneka IRGC” yang tidak berani muncul di hadapan publik sejak perang pecah.

Mojtaba sendiri merupakan putra dari mantan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan udara Israel pada 28 Februari lalu. Sejak konflik meningkat, Mojtaba belum pernah terlihat langsung di hadapan publik. Seluruh pernyataannya hanya disampaikan melalui siaran televisi pemerintah Iran.

Di sisi lain, pemerintah Iran justru mengeluarkan pernyataan yang tidak kalah kerasnya. Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa negaranya akan terus membalas setiap korban jiwa warga Iran akibat serangan Israel.

Teheran juga meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel dengan ancaman akan menutup jalur pelayaran penting dunia, yakni Selat Hormuz. Jalur laut strategis tersebut dikenal sebagai salah satu urat nadi perdagangan energi global.

Sekitar seperlima pasokan minyak dunia diketahui melewati Selat Hormuz setiap harinya. Penutupan jalur itu secara langsung memicu kekhawatiran besar di pasar energi global.

Ketegangan geopolitik ini berdampak cepat terhadap harga minyak internasional. Dalam perdagangan global terbaru, harga minyak mentah melonjak hingga 9 persen dan menembus angka 100 dolar AS per barel.

Lonjakan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dunia jika konflik terus meluas.

Netanyahu juga mengungkapkan bahwa strategi Israel tidak hanya fokus pada operasi militer, tetapi juga menciptakan tekanan internal di Iran. Ia berharap kondisi tersebut dapat memicu gerakan rakyat Iran untuk merendahkan rezim yang berkuasa di Teheran.

Baca Juga: 5 Hidangan Berat Khas Lebaran yang Wajib Ada di Meja Makan, Opor Ayam hingga Rendang Jadi Favorit Keluarga

Meski demikian, Netanyahu mengakui bahwa tidak dapat dipastikan apakah rakyat Iran akan benar-benar melakukan pemberontakan terhadap pemerintah mereka.

"Rezim biasanya runtuh dari dalam. Kami tidak bisa memastikan rakyat Iran akan melakukannya. Tapi kami bisa membantu menciptakan kondisi yang memungkinkan hal itu terjadi, dan kami sedang melakukannya," ujarnya.

Konflik yang terus meningkat ini telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Hingga saat ini, lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas akibat perang di berbagai wilayah Timur Tengah.

Sekitar 700 di antaranya dilaporkan meninggal di Lebanon yang turut terseret dalam eskalasi konflik regional tersebut.

Baca Juga: Enam Hari Hilang Dihanyut Banjir, Jaelani Ditemukan Tewas Terkubur Lumpur di Pinggir Sungai Kali Basian

Situasi keamanan suatu kawasan diperkirakan masih akan terus memburuk dalam beberapa waktu ke depan. Banyak analis internasional mengkhawatirkan bahwa konflik antara Israel dan Iran berpotensi memicu perang regional yang lebih luas jika tidak segera diatasi melalui jalur diplomasi internasional.

Dengan ketegangan yang semakin memuncak serta ancaman terhadap jalur energi global, dunia kini menyoroti Timur Tengah sebagai titik krisis geopolitik yang dapat berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dan keamanan internasional.

Editor : Agung Sedana
#Konflik Timur Tengah #Benjamin Netanyahu #Mojtaba Khamenei