RADARSITUBONDO.ID - Krisis energi yang memicu konflik geopolitik di Timur Tengah kini menjalar cepat ke Asia Selatan. Sri Lanka menjadi salah satu negara yang paling terdampak, sehingga harus mengambil langkah ekstrem dengan memangkas hari kerja menjadi hanya empat hari dalam sepekan demi menghemat cadangan bahan bakar dan gas yang kian menipis.
Kebijakan itu diambil setelah situasi pasokan energi memburuk akibat terganggunya jalur distribusi utama di Selat Hormuz. Jalur vital tersebut praktis terhenti selama dua pekan terakhir setelah diblokade oleh Iran sebagai respons atas serangan militer Amerika Serikat dan Israel.
Dampaknya terasa luas. Negara-negara di Asia Selatan yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan Teluk kini menghadapi kelangkaan bahan bakar dan LPG. Kondisi ini berdampak pada berbagai sektor, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga industri besar.
Baca Juga: Anwar Usman Akhiri Masa Jabatan, Bacakan Putusan Terakhir di Mahkamah Konstitusi
Di Sri Lanka, pemerintah memutuskan bahwa mulai Rabu, seluruh institusi negara, termasuk sekolah dan universitas, hanya beroperasi empat hari dalam seminggu. Para pegawai negeri juga didorong untuk bekerja dari rumah guna menekan konsumsi energi.
Komisaris Jenderal Layanan Penting Sri Lanka, Prabath Chandrakeerthi, menegaskan bahwa kebijakan ini diharapkan diikuti sektor swasta. Pemerintah bahkan mendorong agar hari Rabu dijadikan hari libur nasional sementara.
Situasi di lapangan mulai menunjukkan tanda-tanda krisis serius. Antrean panjang kendaraan terlihat di berbagai stasiun pengisian bahan bakar.
Pemerintah memberlakukan ketat, di mana setiap kendaraan hanya diperbolehkan mengisi maksimal 15 liter per minggu. Sementara itu, transportasi umum mendapat alokasi khusus hingga 200 liter.
Baca Juga: Pemenang Piala Oscar 2026 Lengkap, Film One Battle After Another Dominasi Academy Awards
Cadangan bahan bakar Sri Lanka disebut hanya cukup untuk bertahan sekitar enam minggu. Pemerintah memperingatkan bahwa gangguan tambahan terhadap pasokan dapat membahayakan kondisi dan mengancam pemulihan ekonomi pasca krisis 2022.
Presiden Anura Kumara Dissanayake dalam rapat darurat meminta seluruh pejabat bersiap menghadapi skenario terburuk. Pernyataan tersebut menyatakan kekhawatiran serius pemerintah terhadap situasi global.
Dampak krisis energi juga meluas ke negara-negara tetangga. Bangladesh mengambil langkah dengan mempercepat libur listrik Ramadhan untuk universitas serta memperkuat pemadaman bergilir guna menjaga pasokan energi bagi industri garmen yang menjadi tulang punggung ekonomi.
Baca Juga: Iran Tegaskan Tak Pernah Minta Gencatan Senjata, Abbas Araghchi: Kami Siap Bertahan
Sementara itu, Pakistan mengalihkan kegiatan belajar ke sistem yang berani dan menaikkan harga bahan bakar untuk mencegah penimbunan. Negara tersebut diketahui sangat bergantung pada jalur energi melalui Selat Hormuz.
Di India, dampak krisis terlihat dari antrean panjang tabung LPG di berbagai kota. Banyak restoran terpaksa menutup usaha atau mengurangi menu, terutama makanan yang membutuhkan waktu memasak yang lama. Industri perhotelan dan manufaktur pun mulai memberi sinyal ancaman lemahnya operasional.
Meski demikian, Perdana Menteri Narendra Modi berupaya menenangkan masyarakat dengan menyatakan bahwa pasokan LPG masih terkendali dan masyarakat tidak perlu panik.
Baca Juga: Persija Gagal Kejar Persib Usai Ditahan Imbang Dewa United
India juga mengklaim keberhasilan diplomasi setelah dua kapal tanker pembawa gas berhasil melewati Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Subrahmanyam Jaishankar menyebut negosiasi langsung dengan Iran menjadi kunci keberhasilan tersebut.
Namun, para analis menilai situasi ini masih jauh dari stabil. Ketergantungan tinggi negara-negara Asia Selatan terhadap impor energi menjadikan kawasan ini sangat rentan terhadap gejolak geopolitik global.
Jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut dan jalur distribusi energi belum sepenuhnya pulih, bukan tidak mungkin krisis ini akan berkembang menjadi krisis ekonomi regional yang lebih luas.
Editor : Agung Sedana