Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Kisah Kepahlawanan Kiai As’ad, Tongkat Kiai Kholil Bangkalan, dan Asas Pancasila

Redaksi • Jumat, 1 November 2024 | 20:31 WIB
Buku biografi KHR As’ad Syamsul Arifin. (cyberdakwah.com)
Buku biografi KHR As’ad Syamsul Arifin. (cyberdakwah.com)

RadarSitubondo.id – KHR As’ad Syamsul Arifin adalah merupakan sosok kiai yang kharismatik dan bersahaja. Pahlawan dari ujung Pulau Jawa. Dengan gebrakan tangannya penjajah Jepang dan Belanda tunduk padanya.

Memimpin pasukan bekas bromocorah, Kiai As’ad melakukan perlawanan dengan bergerilya bersama barisan Pelopor-nya. Pada akhir Juli 1947 di daerah Gudang Mesiu Dabasah Bondowoso berhasil merampas senjata-senjata milik pasukan Belanda.

Kemudian pada September dan awal Oktober 1945, Kiai As’ad memimpin pelucutan senjata para serdadu Jepang di Garahan, Jember, Jawa Timur. Tindakan tersebut dilakukan setelah pasukan Jepang tidak mau menyerah senjatanya.

“Perang itu harus niat menegakkan agama dan ‘arebbuk negere’ (merebut negara), jangan hanya ‘arebbuk negere! Kalau hanya ‘arebbuk negere’, hanya mengejar dunia, akhiratnya hilang! Niatlah menegakkan agama dan membela negara sehingga kalau kalian mati, akan mati syahid dan masuk surga!”, Begitulah dawuhnya.

Maka ketika pertempuran melawan sekutu pada 10 November 1945 di Surabaya, kiai As’ad mengirim pasukan palopor dan sabilillah tapal kuda untuk bertempur melawan sekutu di Jembatan Merah Surabaya.

Tokoh Sesepuh NU

Dalam pidatonya Kiai As’ad pernah bercerita bahwa disaat beliau masih nyantri di Syaikhona Kholil Bangkalan. Beliau pernah dipanggil oleh kiai Kholil, beliau mengisahkan:

“As’ad ini tongkat antarkan dan berikan kepada Hasyim Asy’ari”. perintah Syaikhona Kholil. Kiai As’ad menjelaskan bahwa Tongkat tersebut adalah Tongkat kayu Musa yang di hargai yang dijual di Makkah.

Kemudian Kiai As’ad melanjutkan ceritanya, bahwa diberi ongkos satu ringgit oleh Syaikhona Kholil. Setelah itu pagi-pagi Ketika kiai As’ad akan berangkat ditambah lagi satu ringgit, jadi dua rupiah uang dulu. Begitu kata beliau. Lalu Syaikhona Kholil Bangkalan membacakan Al-Qu’an surat Thaha ayat 17-23 yang menceritakan mukjizat Nabi Musa as. Kiai Kholil berkata: “Ambil tongkat ini, antarkan ke Hasyim asy’ari”.

Setelah itu, ketika sampai di Pesantren Tebuireng, Jombang, Kiai As’ad sowan kepada Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari sambel menyerahkan tongkat kayu Musa tersebut. Akan tetapi, kiai Hasyim tidak mau menerima. “Nanti dulu, saya mau tanya bagaimana tongkat itu ketika diberikan kepada kamu,” tanya kiai Hasyim.

Lalu kiai As’ad menceritakan: “Bahwa Syaikhona Kholil Bangkalan ketika akan menyerahkan tongkat ini beliau mengangkat tongkat tersebut dan membacakan Al-Qur’an surat Thaha ayat 17-23 yang menceritakan mukjizat Nabi Musa as. Kiai.”

Kemudian kiai Hasyim menerima tongkat tersebut sambil menjawab: “Kalau begini saya mau mimpin umat Islam Ahlussunnah Wal Jamaah.”

Selain mengantarkan tongkat kayu Musa kiai As’ad juga diperintah oleh Syaikhona Kholil untuk mengantarkan tasbih kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Yang menarik adalah ketika perjalanan dari Bangkalan ke Tebuireng kiai As’ad tidak berani menyentuh tasbih yang dikalungkan ke lehernya tersebut dengan tangannya.

Ketika sampai di Tebuireng kiai Hasyim bertanya : “apa yang kiai Kholil katakan saat itu”. Lalu kiai As’ad menjawab: “waktu kiai Kholil akan menyerahkan tasbih, tasbihnya dikibaskan sambal baca: Ya Jabbar Ya Jabbar Ya Jabbar Ya Qahhar Ya Qahhar Ya Qahhar kemudian dikalungkan ke leher saya, Kiai. Maka, sekarang kiai yang melepaskan tasbihnya dari leher saya.

”Kiai Hasyim kemudian berkata, “Allah SWT telah memperbolehkan kita untuk mendirikan jam’iyah.”

Dari perannya sebagai mediator berdirinya NU menjadikan kiai As’ad sebagai tokoh sepuh dalam Jam’iyah Nahdlatul Ulama.

………………

Kiprah dan perjuangan kiai As’ad tidak berhenti sampai di sana. Sekitar tahun 1982, umat Islam Indonesia resah. Akidah mereka merasa ternodai. Dalam pandangan umat Islam, Islam adalah agama yang paling benar dan hanya Islamlah agama yang diridhoi Allah SWT; sebagaimana firman Tuhan, Inna ad-din ‘Inda Allah al-Islam.

Namun dalam buku Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang diajarkan di sekolah disebutkan: Bahwa semua agama pada hakikatnya sama baiknya atau sama benarnya. Kalimat inilah yang membuat kalangan umat Islam resah, begitu pula warga Nahdhiyyin.

Tanpa banyak bicara, kiai As’ad mendatangi Presiden Soeharto. Setelah bertemu dengan Presiden Soeharto, kiai As’ad pun memaparkan bahwa umat Islam sekarang sedang resah.

“Bagaimana Pak, buku PMP ini bisa merusak akidah umat Islam, bukan?” katanya sambil memberi beberapa redaksi kalimat yang patut direvisi.

Beberapa waktu kemudian, buku tersebut mengalami revisi dengan redaksi: Bahwa semua agama pada hakikatnya sama baiknya menurut keyakinan pemeluk agama masing-masing.

Pada tahun 1983, umat Islam Indonesia Kembali resah. Karena pemerintah mau menerapkan asas tunggal Pancasila bagi organisasi social kemasyarakatan, termasuk NU. Kiai Ali Maksum, Rais Aam PBNU mengontak kiai Ahmad Siddiq Jember. Kiai

Ahmad Siddiq lalu sowan kepada Kiai As’ad untuk minta petunjuk. “Bentuk saja tim PBNU dan ketuanya sampean,” saran kiai As’ad.

Setelah itu, Kiai Ahmad Siddiq mendatangi Kiai Ali Maksum. Kiai Ahmad bilang, sudah konsultasi kepada kiai As’ad. Kiai As’ad menyarankan agar dibentuk tim yang membahas asas tunggal Pancasila di PBNU.

Usul tersebut diterima. Lalu diadakan rapat di kantor PBNU. Kiai Ahmad terpilih menjadi ketua dan Gus Dur menjadi sekretaris. Maka, Kiai Ahmad, Gus Dur dan tim yang lain pun membuat konsep.

Setelah konsep terbentuk, lalu Gus Dur memberi tahu kiai As’ad. “Apakah Pancasila nanti akan menggantikan Islam?” tanya Kiai As’ad kepada Gus Dur. “Tak usah khawatir kiai! Salah satu di antara keputusan Munas Alim Ulama NU 1983 nanti adalah Pancasila tidak akan menjadikan pengganti Agama Islam. Pancasila tidak akan dijadikan alat untuk menggantikan Islam dan Pancasila tidak akan melawan kepada Islam,” jawab Gus Dur.

Menurut Gus Dur, Kiai As’ad tidak keberatan, asalkan Pancasila tidak dijadikan pengganti Islam. Padahal sebelumnya, Kiai As’ad termasuk penentang Pancasila. Karena Pada zaman Jepang, Kiai As’ad berbeda pendapat dengan kedua gurunya (Kiai Hasyim asy’ari dan Kiai Wahid Hasyim) tentang Pancasila.

Kedua gurunya, menerima Pancasila sedang kiai As’ad menolak. Mengapa? Dalam penilaian Gus Dur, karena Kiai As’ad saking terlalu berhati-hati memegang teguh agama Islam; jangan sampai luntur diganti Pancasila.

Setelah itu Kiai As’ad pun turun tangan untuk mendukung dalam perumusan konsep asas tunggal Pancasila bersama beberapa kiai sepuh lainnya. Namun, Kiai As’ad bukanlah tipe kiai yang asal dukung, tapi ia ikut cawe-cawe.

Selama beberapa minggu itu, waktunya banyak yang tersita untuk merumuskan hukum penerimaan asas Pancasila. Untuk menghilangkan keragu-raguan tentang asas Pancasila, Kiai As’ad mengadakan musyawarah dengan Kiai Ahmad Siddiq, Kiai A. Wahid Zaini, dan beberapa ulama lainnya.

Setelah mantap tentang ideologi Pancasila, kiai kharismatik asal Sukorejo, Banyuputih, Situbondo ini pun mengadakan pembicaraan dengan Presiden Soeharto. Lalu ia berfatwa: wajib hukumnya bagi umat Islam Indonesia, termasuk alim ulama, menerima ideologi negara Pancasila. Berita tentang pertemuan kiai As’ad dengan Presiden dan berfatwa demikian, sempat menjadi headline beberapa media massa.

Lalu, mengapa umat Islam wajib menerima Pancasila? Karena sila pertama merupakan akidah umat Islam. Sila Ketuhanan yang Maha Esa adalah pencerminan kalimat tauhid, Qul huwa Allahu ahad! Penafsiran Pancasila pun harus dihubungkan dengan Pembukaan UUD 1945, dan Pancasila itu sendiri.

Mengapa? “Kalau umat Islam menafsirkan Ketuhanan Yang Maha Esa berlainan dari akidah tauhid, murtadlah dia!” paparnya.

Karena itu, Kiai As’ad sangat mengharapkan agar rakyat Indonesia benar-benar mengamalkan Pancasila secara murni dan konsekuen. Pancasila juga akan mengantarkan rakyat Indonesia menuju cita-citanya, masyarakat adil dan Makmur. Indonesia tidak perlu menjadi negara Islam.

Namun, kalau masyarakat bisa menjalankan syariat Islam dalam kehidupan sehari-harinya, hal ini menjadi idaman bagi setiap muslim. Karena itu, “Pancasila bisa jadi potret dari Piagam Madinah di zaman modern ini. Insya Allah Indonesia bisa jadi contoh negara-negara lain,” tuturnya.

Begitulah kisah perjuangan dan dedikasi kiai As’ad untuk negara dan umat. Semoga kita sebagai santrinya bisa meneladani beliau dan bisa meneruskan perjuangan beliau dalam membangun bangsa ini.

Karena kiai As’ad berdawuh bahwa; “Saya ingin mempunyai santri seperti santrinya Sunan Ampel, ada yang menjadi negarawan, seniman, fuqaha dan waliyullah. Kiai As’ad tidak ingin santrinya hanya menjadi cadangan pesantren, tapi Kiai As’ad ingin santrinya juga menjadi cadangan pemerintah. (*)

DIAMBIL DARI BUKU KHARISMA KIAI AS’AD DI MATA UMMAT KARYA SYAMSUL A. HASAN.

Editor : Ali Sodiqin
#pahlawan nasional #kiai as'ad #Kiai Kholil Bangkalan #KHR As'ad Syamsul Arifin #presiden soeharto #Nahdlatul Ulama #pancasila