RADARSITUBONDO.ID - Perbedaan penentuan awal Ramadan antara Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah bukan hal baru di Indonesia. Dinamika ini telah berlangsung sejak kedua organisasi Islam terbesar di Tanah Air tersebut berdiri pada awal abad ke-20.
Muhammadiyah yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 di Yogyakarta sejak awal mengedepankan pendekatan modern dalam sistem penanggalan Islam. Pada dekade 1920-an, KH Ahmad Dahlan menemukan adanya perbedaan antara perhitungan astronomi dengan kalender Aboge yang digunakan Keraton Yogyakarta.
Perbedaan itu mendorong KH Ahmad Dahlan menghadap Sultan Hamengkubuwono VII untuk meminta izin agar Muhammadiyah dapat menetapkan Idul Fitri lebih dahulu berdasarkan metode hisab. Restu dari Sultan menjadi tonggak penting penggunaan metode hisab dalam tradisi Muhammadiyah.
Baca Juga: Alasan Jeruk Mandarin Jadi Hidangan Wajib Saat Imlek, Bukan Buah Lain
Langkah tersebut kemudian diperkuat melalui keputusan resmi pasca Kongres Muhammadiyah ke-26 di Surabaya pada 1926 yang merekomendasikan penggunaan kalender Hijriah berbasis hisab sebagai pedoman organisasi.
Di sisi lain, Nahdlatul Ulama yang berdiri pada 31 Januari 1926 di Surabaya tetap konsisten menggunakan metode rukyatul hilal. Sejak awal, NU mempertahankan tradisi pengamatan langsung hilal sebagaimana dipraktikkan ulama salaf dan empat mazhab besar dalam Islam.
Berdasarkan hasil Muktamar ke-20 tahun 1954, NU menerapkan mekanisme ikhbar, yakni mengikuti penetapan pemerintah setelah melakukan rukyat secara mandiri. Dalam praktiknya, NU menggunakan kriteria Hisab Hakiki Imkan Rukyat dengan batas minimal tinggi hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Baca Juga: Bukan Sekadar Buah, Ini 7 Makna Jeruk Mandarin Saat Imlek
Perbedaan mendasar kedua organisasi terletak pada pemahaman terhadap hadis Nabi Muhammad SAW tentang penentuan awal bulan.
NU menafsirkan rukyat secara tekstual sebagai pengamatan langsung, sementara Muhammadiyah memaknai rukyat juga mencakup pendekatan ilmiah melalui perhitungan astronomi. Kini Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal dengan prinsip kesatuan global.
Dalam 13 tahun terakhir, perbedaan awal Ramadan tercatat terjadi pada 2014, 2022, 2024, dan 2026. Meski kerap berbeda dalam metode, kedua organisasi sepakat bahwa perbedaan tersebut merupakan bagian dari kekayaan khazanah keilmuan Islam di Indonesia yang perlu disikapi dengan saling menghormati.
Editor : Ali Sodiqin