Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Menilik Keteladanan Martir Blambangan Wong Agung Wilis

Ali Sodiqin • Rabu, 21 Agustus 2024 | 19:26 WIB
Oleh: DENDY WAHYU ANUGRAH*
Oleh: DENDY WAHYU ANUGRAH*

KEMERDEKAAN bukanlah sepotong roti yang selalu siap setiap pagi. Ia harus diraih. Pun dalam meraih kemerdekaan, manusia harus bersimbah darah dan jatuh-bangun berkali-kali.

Karena dalam sisi mana pun, para penjajah tidak dibenarkan menindas bangsa kita. Maka sudah pasti perlawanan timbul di Nusantara.

Salah satu daerah yang memiliki martir dan legacy (warisan) perlawanan terhadap penjajah ialah Blambangan.

Kedatangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) tahun 1602, membuat sebagian besar wilayah Nusantara, termasuk Blambangan berada di bawah kekuasaannya. Segala praktik penindasan, pemerasan, dan perbudakan rakyat dilakukan VOC.

Secara historis, bentuk resistensi rakyat Blambangan tersebut pernah dilakukan oleh Wong Agung Wilis atau Pangeran Agung Wilis atau nama aslinya Mas Sirna.

Dalam Babad Blambangan (BR. 384), perlawanan rakyat Blambangan (Perang Wilis) yang dipelopori anak dari pasangan Prabu Danurejo dan putri dari Bali tersebut tahun 1767-1768.

Gerakan sosial-politik kala itu memiliki beberapa alasan. Nurmania (2017) menyebutkan beberapa alasan perlawanan Agung Wilis antara lain:

Pertama, adanya laporan telik sandi utusan VOC yang menyatakan, pada Agustus 1766 terdapat tiga kapal besar Inggris yang membawa pelaut Bugis dan Madura tiba di Blambangan.

Rombongan tersebut di bawah komando Erward Coles, anggota English East India Company (EIC). Tujuan EIC untuk memasarkan senjata, opium, kapas, dan kain dengan harga relatif murah.

Beberapa saat berselang, Blambangan menjadi ramai dikunjungi para pedagang Tiongkok, Bugis, Mandar, Melayu dan sebagainya.

Blambangan menjadi tidak kondusif. Selain itu, berdasarkan surat dinas Kapten Blanke yang dikirim ke Gubernur Johanes Vos di Batavia pada Maret 1767, bendera Belanda berhasil dikibarkan untuk pertama kali di Bumi Blambangan.

Kedua, terdapat faktor politik. Kompeni menunjuk Mas Anom dan Mas Uno untuk menjadi pemimpin Blambangan yang baru. Karena hal tersebut, situasi politik mulai bergejolak.

Ketiga, faktor agama. Praktik “pemaksaan” memeluk agama tertentu (Islam dan Kristen) juga terjadi. Penduduk lokal menentang, sebab mayoritas rakyat Blambangan merupakan pemeluk agama Hindu.

Keempat, faktor ekonomi. Pada 1699, VOC mulai memperkenalkan komoditas perkebunan kepada Blambangan. Berbagai bibit diperkenalkan, mulai kopi, teh, tebu, dan lain-lain.

Akhirnya, perkebunan mulai digarap VOC dengan mempekerjakan penduduk lokal. Dari sini penderitaan rakyat Blambangan bermula.

VOC memaksa rakyat membuat jalan dan membabat pohon di hutan, untuk dijadikan perkebunan. Pekerjaan tersebut dilakukan penduduk tanpa jatah makan.

Bukan hanya fisik diperas, hasil panen dan bahan pokok penduduk juga dirampas.

Kekuasaan Kompeni di Blambangan berjalan kurang-lebih selama enam bulan. Setelah itu muncul perlawanan rakyat.

Keadaan demikian digambarkan dalam Babad Wilis (1980): “Lima puluh orang setiap hari diwajibkan bekerja untuk Kompeni dan menyerahkan (kepada Kompeni) lembu dan sapi”.

Dari beberapa faktor tersebuth, perlawanan rakyat Blambangan yang dipelopori Wong Agung Wilis memuncak pada 1768.

Menurut Babad Wilis (1980), Agung Wilis melakukan berbagai cara sebelum akhirnya memimpin gerakan massa. Langkah perdana ialah melakukan agitasi dan propaganda kepada penduduk untuk tidak melaksanakan kerja paksa.

 Kemudian, Agung Wilis melakukan perjalanan ke beberapa daerah untuk membagi uang dan senjata dari Inggris.

Perlawanan Agung Wilis terhadap Kompeni dimulai pada 18 Februari 1768. Serangan ini fokus untuk merebut benteng Kompeni di Ulupampang.

Agung Wilis berhasil menumbangkan Kompeni dan mengambil alih benteng, bahkan  memenggal beberapa mata-mata Kompeni di Ulupampang.

Selanjutnya 14 Mei 1768 Kompeni melancarkan serangan sengit dan berhasil melumpuhkan Ulupampang. Pasukan Agung Wilis dijadikan tawanan.

Encik Kamis, pimpinan pasukan Agung Wilis melarikan diri dengan terluka parah.

Selang beberapa hari, 18 Mei 1768, Kompeni menyerang ke Kotalateng. Namun, belum sampai penyerangan dilakukan, Kompeni kewalahan.

Kompeni tidak dapat menembus pasukan Agung Wilis yang berjumlah 6.000 orang tersebut. Tiba-tiba terdapat pengkhianatan dari pasukan Agung Wilis dan menyerang pasukannya.

Akhirnya, Kotalateng berhasil ditaklukkan oleh Kompeni. Wong Agung Wilis ditahan dan meninggal di Bali tahun 1780.

Perlawanan Wong Agung Wilis dan rakyat Blambangan meninggalkan segudang warisan berharga, khususnya bagi masyarakat Banyuwangi.

Spirit perjuangan tiada henti yang dilakukan oleh Wong Agung Wilis dan pasukan merupakan warisan sangat berharga.

Sudah seharusnya, kita mewarisi kegigihan, keberanian, dan spirit perjuangan Wong Agung Wilis sebagai bentuk penghargaan atas perjuangannya selama ini.

Kita tidak lagi melawan Kompeni. Juga tidak melakukan perlawanan secara fisik.

Namun, kita dapat mewarisi dan mengaktualisasikan spirit Agung Wilis di era kontemporer.

Seperti menumpas segala bentuk ketidakadilan, terus mengejar cita-cita luhur tanpa henti, dan menjadi martir-martir kontemporer dengan cara melakukan tindakan yang dapat mengembangkan potensi diri.

Sekaligus meraih kehidupan sejahtera dan harmonis di dalam kehidupan bangsa dan negara. (*)

*) Pemuda Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#kemerdekaan #VOC #blambangan #dagang