RADARSITUBONDO.ID - Anime legendaris Detective Conan yang selama puluhan tahun melekat di ingatan masa kecil jutaan penggemar di China kini diterpa gelombang penolakan besar.
Protes mencuat setelah pihak produksi mengumumkan kolaborasi visual dengan My Hero Academia dalam rangka memperingati 30 tahun Detective Conan dan 10 tahun My Hero Academia yang dijadwalkan rilis pada 31 Januari 2026.
Alih-alih disambut antusias, kolaborasi tersebut justru memicu kemarahan luas di media sosial China. Pasalnya, My Hero Academia telah lebih dulu diboikot dan dihapus dari berbagai platform video sejak 2020 akibat kontroversi sejarah yang sensitif.
Baca Juga: Kurzawa dan Castel Masuk Daftar Skuad Persib untuk Leg Pertama 16 Besar AFC Champions League Two
Sumber masalah berakar pada penamaan karakter antagonis My Hero Academia, Maruta Shiga, yang dalam alur cerita digambarkan melakukan eksperimen terhadap manusia.
Istilah “Maruta” diketahui merupakan sebutan tidak manusiawi yang digunakan Unit 731 Angkatan Darat Kekaisaran Jepang untuk menyebut korban eksperimen manusia. Sementara nama “Shiga” dikaitkan dengan Kiyoshi Shiga, seorang ahli bakteriologi Jepang.
Unit 731 sendiri merupakan unit medis militer rahasia Jepang yang beroperasi pada 1932–1945 dan dikenal melakukan eksperimen biologis serta tindakan kejam lainnya. Sejumlah laporan sejarah mencatat lebih dari 3.000 tawanan perang dari China, Korea, Soviet, hingga negara Barat menjadi korban.
Baca Juga: Mitos dan Fakta Seputar Bolehkah Ibu Hamil Ziarah ke Kuburan
Dampak dari kemarahan publik ini terasa langsung di lapangan. Sejumlah penyelenggara comic-con di kota besar seperti Beijing, Chongqing, Lanzhou, Xi’an, dan Shenyang mengumumkan larangan cosplay serta penjualan merchandise Detective Conan.
Bahkan, beberapa acara dilaporkan menolak pengunjung yang mengenakan kimono atau sandal kayu karena dianggap memiliki keterkaitan dengan simbol militerisme Jepang.
Menanggapi polemik tersebut, Shanghai Character License Administrative Company selaku agen lisensi resmi Detective Conan di China daratan menyatakan bahwa kolaborasi tersebut tidak mengandung pesan politik dan semata-mata bertujuan mempererat pertukaran budaya antara Jepang dan China.
Namun, klarifikasi itu justru menuai reaksi negatif lanjutan, dengan banyak netizen menilai pernyataan tersebut mengabaikan luka sejarah dan sentimen masyarakat China.
Editor : Ali Sodiqin