RADARSITUBONDO.ID - Kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, di Jalan Kutai Utara Nomor 1, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, mendadak menjadi sorotan publik. Rumah pribadi mantan kepala negara itu kini viral di media sosial dengan julukan unik: “Tembok Ratapan Solo”.
Istilah tersebut bermula dari guyonan warganet yang kemudian menyebar luas. Sebutan itu merupakan analogi dari Western Wall di Yerusalem, lokasi suci tempat umat Yahudi menyelipkan doa di sela-sela batu dinding kuno.
Analogi ini dianggap relevan karena banyak warga datang ke rumah Jokowi membawa harapan—mulai dari surat permohonan bantuan, proposal usaha, hingga aduan persoalan hukum.
Baca Juga: Kapan Awal Puasa 2026 Ditetapkan? Ini Jadwal Sidang Isbat Kemenag
Fenomena ini tidak hanya melibatkan masyarakat umum. Sejumlah pejabat publik, kepala daerah, hingga tokoh politik juga tercatat berkunjung. Ada yang sekadar bersilaturahmi, meminta masukan, bahkan mencari restu politik.
Situasi tersebut dinilai menjadi sindiran halus terhadap budaya politik yang masih berorientasi pada figur, bukan semata pada sistem dan institusi.
Secara fisik, rumah bernuansa putih itu mudah dikenali. Temboknya bertuliskan “Gg. Kutai Utara No. 1” dan kini menjadi spot favorit pengunjung untuk berfoto. Lokasinya pun gampang ditemukan melalui aplikasi peta digital dengan mengetik kata kunci “rumah Jokowi Solo”.
Momentum libur Natal dan Tahun Baru turut mendongkrak jumlah kunjungan. Wisatawan dari berbagai daerah, seperti Bangka Belitung hingga Madiun, mengaku sengaja menyempatkan diri datang setelah menelusuri rute menggunakan GPS.
Baca Juga: Imlek 2026 Jatuh Tanggal Berapa? Simak Jadwal Libur dan Tradisinya
Petugas Paspampres yang berjaga disebut tetap bersikap ramah dan membantu pengunjung yang ingin berfoto di depan gerbang. Jokowi sendiri merespons fenomena ini secara santai.
Ia mengaku tidak terganggu dan menganggapnya sebagai bentuk antusiasme masyarakat. Bahkan, beberapa pengunjung beruntung dapat bertemu langsung dan berfoto bersama saat Jokowi keluar rumah menerima tamu.
Meski demikian, tidak ada jadwal resmi untuk bertemu mantan presiden tersebut. Warga biasanya datang pada pagi hari sekitar pukul 09.00–10.30 WIB atau sore pukul 18.00–19.00 WIB untuk meningkatkan peluang berpapasan.
Pada akhirnya, julukan “Tembok Ratapan Solo” bukan sekadar lelucon media sosial. Fenomena ini menjadi gambaran tentang bagaimana sebagian masyarakat masih memaknai kedekatan personal dengan pemimpin sebagai jalan mencari solusi, sekaligus cermin dinamika budaya politik di Indonesia.
Editor : Ali Sodiqin