Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Apakah Melihat Video 18+ Saat Puasa Membatalkan Ibadah? Simak Hukumnya

Bayu Shaputra • Selasa, 17 Februari 2026 | 09:45 WIB
Ilustrasi menonton video dewasa.
Ilustrasi menonton video dewasa.

RADARSITUBONDO.ID - Puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, ibadah ini menuntut setiap Muslim menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat.

Di tengah kemudahan akses digital, muncul pertanyaan yang kerap dibahas: bagaimana hukum menonton video berkonten dewasa saat berpuasa?

Para ulama sepakat, menonton video 18+ tidak secara otomatis membatalkan puasa. Secara fikih, puasa dinyatakan batal apabila ada sesuatu yang masuk ke dalam rongga tubuh, seperti makan, minum, atau muntah dengan sengaja. Namun demikian, konten pornografi tetap tergolong perbuatan dosa besar yang dilarang dalam ajaran Islam.

 Baca Juga: ByteDance Luncurkan Doubao 2.0: Pesaing Berat GPT 5.2 dengan Harga Kali Lebih Murah

Walau tidak membatalkan puasa, tindakan tersebut berpotensi besar mengurangi pahala ibadah. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad, puasa disebut sebagai perisai.

Artinya, orang yang berpuasa dianjurkan menahan diri dari perkataan kotor dan perbuatan sia-sia. Mengakses konten dewasa justru memicu syahwat dan mencederai nilai kesucian puasa.

Selain itu, Islam memerintahkan umatnya menjaga pandangan. Dalam Al-Qur'an Surah An-Nur ayat 30, kaum mukmin diperintahkan menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.

Mata sebagai salah satu anggota tubuh memiliki peran penting dalam menjaga kualitas ibadah. Melihat konten pornografi dinilai dapat merusak kekhusyukan dan mengganggu hubungan spiritual dengan Allah SWT.

 Baca Juga: Sabung Ayam Dibubarkan di Panarukan, Polres Situbondo Amankan 17 Motor untuk Lacak Pelaku

Bagi mereka yang terlanjur melakukannya, para ulama menyarankan segera bertaubat dengan sungguh-sungguh, memperbanyak istighfar, dan meningkatkan kualitas ibadah. Puasa tetap sah dan wajib dilanjutkan hingga waktu berbuka, tetapi harus disertai taubat nasuha agar tidak kehilangan esensi dan pahala ibadah.

Menjaga pandangan menjadi bagian penting dari kesempurnaan puasa. Di era digital, kontrol diri dan kedisiplinan spiritual menjadi tantangan sekaligus kunci agar ibadah tetap bermakna.

Editor : Ali Sodiqin
#Menahan hawa nafsu #Ramadan 1447 Hijriah