radarsitubondo.id - Setelah masa libur Idul Fitri berlalu, proyek Jalan Tol Probowangi kembali dikebut dan masuk tahap penting pada timeline fase infrastruktur.
Salah satu aspek unik dari proyek ini adalah proses "membelah" bukit-bukit di sepanjang rute tol.
Pekerja proyek telah melakukan land clearing dan menggunakan alat berat untuk memecah batuan keras di bukit ini, mengingat kondisi tanah yang berbatu.
Selain Bukit Binor, wilayah Paiton juga menghadapi tantangan geografis lainnya.
Pembangunan tol di daerah ini memerlukan penyesuaian dengan kontur tanah yang berbukit, sehingga metode konstruksi khusus diterapkan untuk memastikan kestabilan struktur jalan tol.
Pembangunan Jalan Tol Probowangi tahap pertama, yang mencakup seksi 1 Kraksaan, seksi 2 Paiton, hingga seksi 3 Besuki, ditargetkan selesai pada November 2025.
Saat ini, progres pembangunan telah mencapai berbagai tahap, dengan seksi-seksi tertentu sudah mulai beroperasi untuk mendukung arus mudik dan balik Lebaran 2025.
Dalam menghadapi tantangan medan yang berat, proyek ini mengimplementasikan beberapa teknologi canggih seperti:
1. Metode Deep Cement Mixing (DCM).
Teknologi DCM ini untuk memperbaiki stabilitas tanah di proyek jalan tol Probowangi yang menghubungkan Probolinggo dan Banyuwangi.
2. Teknologi Building Information Modelling (BIM).
Gampangnya, teknologi BIM bukan cuma gambar bangunan 3D doing.
Teknologi ini lebih kayak sistem informasi lengkap yang bisa dipakai dari tahap perencanaan sampai bangunan selesai dan dipakai.
3. Teknologi Light Detection And Ranging (LiDAR).
Teknologi LiDAR ini tak hanya berguna untuk bidang militer, namun digunakan dalam proyek jalan tol Probowangi dalam hal sensor memetakan topografi secara akurat.
Sementara itu, Proyek ini tidak hanya membelah bukit, tetapi juga mempengaruhi ekosistem lokal.
Mau tidak mau, vegetasi di Bukit Binor dan sekitarnya yang persis dilewati ruas jalan tol harus diratakan.
Meskipun demikian, proyek ini diharapkan dapat meningkatkan konektivitas dan perekonomian di wilayah Jawa Timur.
Jika proyek tol Probowangi sepanjang 175,78 km itu selesai, arus lalu lintas barang dan jasa dari Jakarta hingga Bali akan semakin lancar, dengan peran tol Probowangi dalam jaringan tol Trans Jawa.
Proyek ini menunjukkan bagaimana teknologi dan perencanaan matang dapat mengatasi tantangan geografis dan lingkungan dalam pembangunan infrastruktur besar. (*)
Editor : Bayu Saksono