RADARSITUBONDO.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Kesambirampak, Kecamatan Kapongan, Situbondo, menuai sorotan. Pasalnya, salah satu menu MBG yang dibagikan kepada penerima manfaat ditemukan hewan jenis ulat dan beberapa ekor semut. Selain itu, kondisi ompreng atau wadah makanan juga dinilai kurang bersih.
Temuan tersebut pertama kali diketahui oleh penerima MBG di salah satu sekolah Desa Gebbangan, Jumat (7/2). Dia merasa curiga dengan kondisi lauk yang disajikan. Setelah diperiksa, ditemukan ulat dan semut pada menu makanan tersebut.
Tak hanya itu, ompreng yang digunakan untuk menyajikan makanan juga terlihat kotor. Seperti tidak memenuhi standar kebersihan. Kejadian tersebut kemudian dilaporkan kepada salah satu guru di sekolah.
Salah satu guru yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa atas kejadian tersebut. Menurutnya, program MBG seharusnya lebih memperhatikan aspek kebersihan dan kualitas makanan karena menyangkut kesehatan, khususnya anak-anak. “Awalnya curiga, ternyata di sayurnya ada ulat. Apalagi omprengnya juga tercium bau tidak sedap,” katanya.
Dia menambahkan, bukan hanya ditemukan hewan pada sayuran, tetapi juga terdapat sisa makanan di wadah nasi yang terlihat kurang bersih. Menurutnya, kondisi tersebut jelas tidak layak. “Keluhan ini bukan hanya dari satu atau dua orang. Banyak wali murid yang juga mengeluhkan hal serupa,” bebernya.
Diakui, program MBG sendiri bertujuan untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat, terutama pelajar. Namun demikian, warga berharap pelaksanaannya tidak hanya berfokus pada distribusi, melainkan juga pada kualitas, keamanan, serta kebersihan makanan yang disajikan.
“Keluhan ini sudah disampaikan sejak kemarin oleh orang tua siswa, dan hari ini kembali terjadi,” jelasnya.
Guru tersebut juga menegaskan perlunya peringatan dan evaluasi serius terhadap pelaksanaan program MBG. Ia menilai, dengan anggaran yang besar baik untuk makanan maupun upah pekerja pelaksanaan program seharusnya dilakukan secara maksimal dan bertanggung jawab.
“Program ini niatnya baik, tapi kalau kebersihannya seperti ini tentu sangat disayangkan dan bisa membahayakan,” tambahnya.
Dia berharap kejadian tersebut benar-benar dievaluasi dan tidak dianggap sepele. Menurutnya, pelaksana program harus mengedepankan tanggung jawab karena menyangkut kesehatan ratusan anak.
“Kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, siapa yang akan bertanggung jawab? Jangan sampai anak-anak ini seperti dijadikan mainan dan tidak mendapat perhatian serius,” pungkasnya.
Sementara itu, pihak SPPG PP Nurul Hikam, Desa Kesambirampak, Kecamatan Kapongan, enggan memberikan komentar. RadarSitubondo.id telah mencoba menghubungi pihak terkait melalui sambungan telepon. Namun, sambungan tersebut terputus sebelum wartawan sempat menanyakan identitas narasumber maupun alasan pemutusan sambungan.
Orang yang menerima telepon tersebut berdalih sedang sibuk dan memiliki banyak pekerjaan. “Bisa langsung ke pihak berwenang,” katanya singkat. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono