RADAR SITUBONDO - Nama Fadia Arafiq menjadi perhatian publik nasional setelah terjerat operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi di wilayah Jawa Tengah pada Selasa (3/3/2026).
Kepala daerah Kabupaten Pekalongan itu diamankan bersama sejumlah pihak lain dan langsung dibawa ke Gedung Merah Putih KPK di Jakarta untuk menjalani pemeriksaan intensif.
Kasus yang menjeratnya hingga kini masih didalami penyidik.
Di balik peristiwa hukum tersebut, Fadia Arafiq memiliki perjalanan hidup yang cukup unik—berawal dari dunia hiburan sebagai penyanyi dangdut hingga menjadi salah satu kepala daerah perempuan berpengaruh di Jawa Tengah.
Lahir dari Keluarga Seniman
Fadia Arafiq lahir di Jakarta pada 23 Mei 1978 dengan nama Laila Fathiah. Ia merupakan putri dari pedangdut legendaris Indonesia, A. Rafiq.
Lingkungan keluarga seni membuatnya akrab dengan dunia hiburan sejak muda. Ia bahkan sempat mengikuti jejak sang ayah sebagai penyanyi dangdut.
Namanya mulai dikenal publik setelah merilis lagu berjudul Cik Cik Bum Bum pada tahun 2000, yang cukup populer di kalangan penggemar musik dangdut saat itu.
Pendidikan dan Latar Akademik
Meski dikenal sebagai artis, Fadia tetap menempuh pendidikan formal hingga jenjang tinggi. Ia mengenyam pendidikan dasar hingga SMA di Jakarta, yakni:
- SD Negeri Karet Tengsin 14 Tanah Abang (1984–1990)
- SMP Negeri 8 Tanah Abang (1990–1993)
- SMA Negeri 58 Ciracas (1993–1996)
Setelah aktif di dunia hiburan, ia melanjutkan studi ke Semarang dan meraih:
- S1 Manajemen Universitas AKI Semarang (2013)
- S2 Manajemen Universitas Stikubank Semarang (2015)
- S3 Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang
Latar pendidikan manajemen tersebut menjadi bekal awalnya memasuki dunia politik dan pemerintahan.
Awal Karier Politik: Wakil Bupati Pekalongan
Karier politik Fadia Arafiq dimulai ketika ia maju dalam Pilkada Kabupaten Pekalongan dan terpilih sebagai Wakil Bupati periode 2011–2016 mendampingi Amat Antono.
Pengalaman sebagai wakil kepala daerah menjadi batu loncatan penting dalam membangun basis politiknya di daerah.
Setelah masa jabatan tersebut berakhir, ia dipercaya menjadi Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Pekalongan periode 2016–2021. Pada periode yang sama, ia juga menjabat Ketua KNPI Jawa Tengah.
Posisi organisasi tersebut memperkuat jaringan politiknya di tingkat regional.
Menjadi Bupati Pekalongan Dua Periode
Popularitas politiknya membawa Fadia memenangkan kontestasi Pilkada dan menjabat sebagai Bupati Pekalongan mulai 2021.
Ia kemudian kembali terpilih untuk periode kedua 2025–2030.
Selama menjabat, sejumlah program unggulan pemerintahannya dikenal luas di masyarakat, antara lain:
- Dalan Alus Rejeki Mulus (pembangunan infrastruktur jalan)
- Kudu Sekolah (dukungan pendidikan masyarakat)
- Kesehatan Gratis cukup pakai KTP
- Bantuan seragam sekolah bagi siswa SD dan SMP
Program-program tersebut menjadi bagian dari strategi peningkatan pelayanan publik di daerah.
OTT KPK dan Penyegelan Kantor Pemkab
Perjalanan politik Fadia Arafiq berubah drastis setelah KPK melakukan operasi senyap di Pekalongan.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, membenarkan bahwa tim penyidik mengamankan sejumlah pihak, termasuk seorang bupati.
Selain penangkapan, penyidik juga menyegel sejumlah ruangan penting di Gedung Sekretariat Daerah Kabupaten Pekalongan.
Ruangan yang disegel meliputi:
- Kantor Bupati
- Ruang Sekretaris Daerah
- Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR)
- Ruang Kepala Dinas PUTR
Segel bertuliskan “DALAM PENGAWASAN KPK” dipasang untuk mengamankan dokumen serta barang bukti yang berkaitan dengan penyidikan.
Dibawa ke Jakarta, Status Hukum Menunggu
Usai OTT, Fadia Arafiq bersama pihak lain langsung diterbangkan ke Jakarta untuk pemeriksaan lanjutan.
KPK memiliki waktu maksimal 1x24 jam untuk menentukan status hukum para pihak yang diamankan. Hingga kini, mereka masih berstatus sebagai terperiksa.
Penyidik masih mendalami dugaan perkara, termasuk sektor proyek maupun nilai transaksi yang diduga terkait kasus tersebut.
Dari Panggung Hiburan ke Panggung Politik Nasional
Perjalanan Fadia Arafiq menunjukkan transformasi karier yang jarang terjadi—dari penyanyi dangdut, aktivis organisasi kepemudaan, wakil kepala daerah, hingga bupati dua periode.
Namun, operasi tangkap tangan KPK kini menjadi titik krusial dalam perjalanan politiknya.
Publik menunggu hasil pemeriksaan resmi lembaga antirasuah untuk mengetahui arah kasus yang menjerat salah satu kepala daerah perempuan paling dikenal di Jawa Tengah tersebut, sekaligus menjadi pengingat pentingnya integritas dalam tata kelola pemerintahan daerah. (*)
Editor : Ali Sodiqin