RADARSITUBONDO.ID – Warga terdampak banjir di Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, mengeluhkan banjir yang terjadi berulang dalam dua bulan terakhir. Mereka menduga bencana alam yang kerap terjadi tersebut tidak lepas dari dampak pembangunan jalan tol yang berada di selatan permukiman warga.
Warga menduga, akibat aktifitas tersebut ada perubahan aliran air dan sistem drainase. Sehingga, memicu genangan air saat hujan deras turun.
Hari, salah satu warga menerangkan, hanya dalam waktu dua bulan banjir telah terjadi tiga kali. Pemukiman warga terendam setiap kali hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Selain itu, lahan pertanian milik warga juga terdampak, sehingga banyak tanaman yang rusak dan tidak bisa dipanen.
“Kalau dilihat dari historisnya, di sini khususnya wilayah Besuki tidak pernah terjadi banjir. Tetapi setelah jalan tol selesai dibangun, justru sering terjadi banjir. Bisa jadi ini dampak dari pembangunan itu,” kata Hari, salah satu warga terdampak banjir di Desa Kalianget, Kamis (12/3).
Dia tidak menampik, daerah tersebut memang pernah mengalami banjir sebelum adanya jalan tol. Namun, itu jarang terjadi dan tidak parah. “Baru bulan Februari kemarin terjadi banjir, sekarang terjadi lagi dan jauh lebih besar dibanding sebelumnya,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi sungai saat ini juga semakin dangkal. Air yang seharusnya mengalir lancar menuju sungai menjadi terhambat. Sungai tidak lagi mampu menampung debit air, akhirnya meluap ke permukiman warga.
“Sungai itu sekarang lebih dangkal. Air yang seharusnya mengalir ke sungai jadi terhambat sehingga sungai tidak muat dan akhirnya meluap ke mana-mana, termasuk di area sini yang menjadi aliran terakhir Sungai Lubawang,” jelasnya.
Hari mengungkapkan, sejak adanya jalan tol, banjir di wilayah Besuki sering terjadi. Meski demikian, dia tidak menampik bahwa faktor cuaca ekstrem juga turut memengaruhi. “Memang cuaca saat ini terlihat sangat ekstrem dan itu bisa menyebabkan banjir. Tetapi kalau dilihat dari fakta di lapangan, yang patut dicurigai adalah jalan yang baru saja selesai dikerjakan, yaitu jalan tol. Itu hanya kecurigaan kami sebagai warga, terlepas dari itu semua ini tetap bencana,” ungkapnya.
Menurut Hari, tahun ini wilayah tersebut menjadi sangat rentan terhadap banjir. Setiap kali hujan deras mengguyur Situbondo, air di sekitar Besuki, terutama di Desa Kalianget, dengan cepat meluap. “Sekarang seolah-olah sangat sensitif. Begitu hujan deras dengan intensitas tinggi, pasti air langsung naik dan banjir,” jelasnya.
Hal senada juga disampaikan Haikal, warga lainnya. Dia menilai kejadian banjir yang terus berulang membuat warga menduga ada kaitannya dengan pembangunan jalan tol. “Kalau dilihat dari pengalaman yang terjadi, faktanya seperti itu. Dulu memang tidak pernah terjadi banjir seperti sekarang,” ujarnya.
Dia berharap, jika hasil analisis nantinya benar menunjukkan adanya dampak dari pembangunan tersebut, maka pihak terkait segera melakukan perbaikan. Misalnya dengan melakukan normalisasi sungai atau memperbaiki aliran air di sekitar kawasan tersebut.
“Kalau memang terbukti, kami berharap ada kepastian perbaikan. Sungai harus diperdalam lagi. Di sekitar bawah jalan tol itu saya rasa sudah dangkal. Harus ada analisis yang benar, dan jika memang membuat wilayah Besuki rawan banjir, harus ada langkah tegas untuk memperbaikinya,” tegasnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono