RADARSITUBONDO.ID - Pemerintah memastikan ketahanan energi nasional selama periode Ramadhan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah dalam kondisi aman.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan stok bahan bakar minyak (BBM), liquefied petroleum gas (LPG), serta minyak mentah masyarakat tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan, khususnya di wilayah Jawa bagian barat yang menjadi pusat mobilitas selama musim mudik Lebaran.
Kepastian tersebut disampaikan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman saat melakukan kunjungan kerja ke PT Pertamina Patra Niaga Subholding Downstream Refinery Unit (RU) VI Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (12/3).
Dalam peninjauan tersebut, pemerintah mengadakan pertemuan langsung kesiapan infrastruktur energi dan distribusi bahan bakar menjelang puncak arus mudik.
Laode menegaskan, pemerintah bersama Pertamina telah menyiapkan berbagai langkah strategi untuk memastikan masyarakat tidak mengalami kesulitan mendapatkan energi selama Ramadhan dan Lebaran. Menurutnya, kondisi stok saat ini berada pada level aman dan distribusi berjalan sesuai rencana.
Ia menyampaikan bahwa ketersediaan energi, mulai dari minyak mentah hingga produk turunan seperti BBM dan LPG, telah diperhitungkan secara matang berdasarkan proyeksi kebutuhan masyarakat selama masa libur panjang. Dengan demikian, masyarakat diharapkan tidak perlu khawatir mengenai potensi kelangkaan energi.
"Baik itu untuk minyak mentah, kemudian juga untuk stok BBM dan LPG, semuanya tersedia dan masyarakat tidak perlu panik dengan kondisi saat ini. Kita juga terus melakukan berbagai inovasi untuk memastikan pemanfaatan BBM berjalan optimal sesuai kebutuhan," ujar Laode dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Selain memastikan kecukupan stok, pemerintah juga mengumumkan kesiapan jaringan distribusi energi di wilayah Jawa bagian barat. Kawasan ini menjadi salah satu wilayah dengan tingkat konsumsi energi tertinggi selama musim mudik karena menjadi jalur utama mobilitas menuju masyarakat berbagai daerah di Pulau Jawa.
Untuk menunjang distribusi tersebut, Pertamina telah menyiapkan infrastruktur energi yang cukup luas di wilayah Regional Jawa Bagian Barat. Infrastruktur tersebut meliputi 1.620 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), 439 Pertashop, 2.331 agen LPG, 206 Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE), serta dua agen minyak tanah.
Baca Juga: Kapal Kargo Thailand Jadi Sasaran di Selat Hormuz, 20 Awak Dievakuasi Selamat, Tiga Masih Dicari
Menurut Laode, selain fasilitas utama tersebut, Pertamina juga menyiapkan berbagai layanan tambahan yang bersifat situasional untuk mendukung kebutuhan masyarakat selama masa Ramadhan dan Idul Fitri atau periode RAFI. Layanan ini dirancang khusus untuk mencegah konsumsi energi serta meningkatkan mobilitas kendaraan di jalur mudik.
Pertamina menyediakan sejumlah layanan siaga yang meliputi SPBU yang beroperasi selama 24 jam, layanan pengantaran BBM melalui motoris, hingga layanan posko energi di berbagai titik strategi jalur mudik. Fasilitas ini diharapkan mampu membantu masyarakat memperoleh bahan bakar dengan lebih mudah, terutama di jalur padat kendaraan.
Total terdapat 427 SPBU yang disiapkan beroperasi 24 jam selama periode RAFI. Selain itu, sebanyak 2.180 agen LPG juga disiagakan untuk memastikan ketersediaan gas rumah tangga bagi masyarakat selama bulan Ramadhan.
Di sisi lain, Pertamina juga menyiapkan 18 titik layanan BBM dan Kios Pertamina Siaga yang ditempatkan di jalur-jalur dengan potensi kepadatan tinggi.
Layanan ini diperkuat dengan kehadiran 52 unit motor atau Pertamina Delivery Service (PDS) BBM yang dapat menjangkau kendaraan yang kehabisan bahan bakar di perjalanan.
Untuk pendistribusian LPG nonsubsidi, Pertamina juga menyiagakan 563 agen PDS Bright Gas. Selain itu, sebanyak 62 mobil tangki disiapkan untuk berjaga-jaga di SPBU guna memastikan pasokan bahan bakar dapat segera ditambah apabila terjadi permintaan.
Pertamina juga menghadirkan 11 titik Serambi MyPertamina yang dapat dimanfaatkan oleh para pemudik sebagai tempat beristirahat. Fasilitas tersebut dilengkapi berbagai layanan seperti area istirahat, mini klinik, ruang bermain anak, hingga layanan kendaraan.
Baca Juga: BGN Hentikan Sementara SPPG Pamekasan Usai Viral Menu MBG Lele Mentah di SMAN 2 Pamekasan
Berdasarkan data historis serta proyeksi kebutuhan energi selama periode 9 Maret hingga 1 April 2026 di wilayah Jawa bagian barat, permintaan bahan bakar jenis bensin atau bensin diperkirakan mengalami peningkatan sebesar 9,6 persen. Peningkatan ini dipicu oleh meningkatnya mobilitas kendaraan pribadi saat arus mudik dan arus balik Lebaran.
Sementara itu, permintaan bahan bakar pesawat atau avtur juga diproyeksikan mengalami kenaikan meskipun relatif tipis, yakni sekitar 0,5 persen. Peningkatan tersebut sejalan dengan bertambahnya frekuensi penerbangan domestik selama masa libur Lebaran.
Kebutuhan LPG juga diprediksi meningkat sebesar 2,86 persen. Lonjakan ini terutama dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas rumah tangga selama bulan Ramadhan, ketika konsumsi makanan dan kegiatan memasak cenderung lebih tinggi dibandingkan hari biasa.
Baca Juga: BMKG Prediksi Idul Fitri 1447 H Jatuh 21 Maret 2026, Hilal 19 Maret Belum Penuhi Kriteria MABIMS
Di sektor industri, permintaan BBM diperkirakan naik sebesar 7,9 persen. Hal ini berkaitan dengan aktivitas produksi dan distribusi barang yang tetap berjalan untuk memenuhi kebutuhan pasar selama Ramadhan.
Namun demikian, tidak semua jenis bahan bakar mengalami peningkatan konsumsi. Jumlah solar diperkirakan mengalami penurunan cukup signifikan hingga 27,3 persen. Penurunan ini terjadi karena tidak berfungsinya operasional kendaraan logistik pada periode arus mudik dan arus balik Lebaran.
Dalam kunjungan tersebut, pemerintah juga menyoroti peran strategis Kilang Balongan dalam mendukung ketahanan energi nasional. Refinery Unit VI Balongan merupakan salah satu kilang utama Pertamina yang memiliki kapasitas pengolahan sebesar 150 ribu barel minyak per hari atau juta barel aliran per hari (MBSD).
Baca Juga: Tebar Harapan Ramadhan, Kemenag Situbondo Salurkan Zakat Fitrah kepada ratusan Mustahik
Kilang ini juga memiliki Nelson Complexity Index (NCI) sebesar 11,9 yang menjadikannya sebagai salah satu unit pengolahan minyak mentah dengan tingkat kompleksitas tertinggi di Indonesia.
Tingginya tingkat kompleksitas tersebut memungkinkan kilang memproses berbagai jenis minyak mentah menjadi produk bahan bakar dengan nilai tambah tinggi.
Sebagian besar produksi Kilang Balongan didistribusikan ke wilayah Jakarta dan Jawa Barat yang merupakan pusat konsumsi energi terbesar di Indonesia.
Sekitar 82 persen produk kilang disalurkan ke Terminal Terpadu Balongan, Terminal BBM Cikampek, serta Terminal Terpadu Jakarta atau Plumpang.
Sementara itu, sekitar 12 persen produk lainnya didistribusikan ke berbagai wilayah lain di Indonesia. Sisanya sekitar 6 persen berupa Decant Oil diekspor ke Singapura sebagai bagian dari aktivitas perdagangan energi internasional.
Dengan berbagai kesiapan tersebut, pemerintah optimistis kebutuhan energi masyarakat selama Ramadhan hingga Idul Fitri dapat terpenuhi dengan baik.
Kementerian ESDM bersama Pertamina akan terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap kondisi pasokan dan distribusi energi guna memastikan kelancaran aktivitas selama musim mudik Lebaran 2026.
Editor : Agung Sedana