RADARSITUBONDO.ID - Kekalahan kesakitan harus diterima Manchester City saat menjamu Real Madrid dalam leg kedua babak 16 besar Liga Champions di Etihad Stadium, Rabu pagi WIB. Namun di tengah hasil buruk tersebut, pelatih Pep Guardiola justru memilih berdiri di garis depan untuk melindungi anak asuhnya, khususnya Bernardo Silva.
Laga yang diharapkan menjadi titik balik justru berubah menjadi mimpi buruk sejak menit awal. Pada menit ke-20, Bernardo Silva harus meninggalkan lapangan lebih cepat setelah menerima kartu merah langsung.
Keputusan itu diambil wasit usai gelandang asal Portugal tersebut dinilai menghentikan peluang gol lewat sentuhan tangan di dalam kotak penalti, ketika mencoba menghalau sepakan Vinicius Junior.
Tanpa ragu, dia menunjuk titik putih dan mengusir Silva. Penalti yang didapat tim tamu semakin memperberat langkah The Citizens yang sejak awal sudah tertinggal agregat. Situasi tersebut menjadi titik krusial yang mengubah jalannya pertandingan secara drastis.
Baca Juga: Sapi Limosin Rp16 Juta Dijagal Maling di Mangaran, Pemilik Syok: Tersisa Tulang dan Usus di Kandang
Namun Guardiola menolak melihat kejadian itu sebagai kesalahan fatal. Pelatih asal Spanyol tersebut menilai tindakan yang dilakukan Silva lebih kepada reaksi spontan daripada pelanggaran yang disengaja.
Menurutnya, momen tersebut adalah refleksi alami seorang pemain dalam situasi genting. Ia bahkan menegaskan bahwa kartu merah tersebut merupakan yang pertama dalam karier Silva bersama tim, sehingga tidak pantas dijadikan kambing hitam atas hasil akhir.
Guardiola dengan tegas menyatakan bahwa dirinya tidak akan menyalahkan pemain yang telah memberikan kontribusi besar selama bertahun-tahun. Baginya, loyalitas dan dedikasi Silva jauh lebih penting dibandingkan satu insiden dalam pertandingan besar.
Kekalahan ini sekaligus memastikan langkah Manchester City terhenti di Liga Champions musim ini. Lebih menyakitkan lagi, hasil tersebut memperpanjang tren negatif City saat berhadapan dengan Real Madrid di fase gugur kompetisi elite Eropa.
Dalam tiga musim terakhir, The Citizens selalu gagal melangkah lebih jauh ketika bertemu raksasa Spanyol tersebut. Dominasi Los Blancos kembali terbukti, menegaskan status mereka sebagai salah satu tim paling berpengalaman di kompetisi ini.
Padahal, kenangan manis sempat tercipta beberapa musim lalu ketika Manchester City mampu menyingkirkan Real Madrid dalam perjalanan menuju gelar Liga Champions pertama mereka. Saat itu, performa impresif skuad biru langit berlanjut hingga partai final dan berakhirnya trofi bersejarah.
Baca Juga: Aksi Kemanusiaan! RS Elizabeth Turun ke Banyuglugur, Beri Pengobatan Gratis untuk Korban Banjir
Kini, cerita berbeda harus diterima. Kekalahan telak dengan agregat mencolok menjadi pengingat bahwa persaingan di Liga Champions tidak pernah mudah, bahkan bagi tim dengan kedalaman skuad dan kualitas seperti Manchester City.
Guardiola pun tampak lebih memilih menatap ke depan ketimbang larut dalam mengecewakan. Sikapnya yang enggan menyalahkan individu menunjukkan bahwa kekalahan ini dianggap sebagai tanggung jawab bersama, bukan karena satu kesalahan semata.
Di tengah tekanan dan ekspektasi tinggi, pendekatan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Manchester City akan mencoba bangkit, meski bayang-bayang Real Madrid kembali menjadi mimpi buruk yang belum berhasil menghapusnya sepenuhnya.
Editor : Agung Sedana