RADARSITUBONDO.ID - Septian Radit Aldianto, 16, warga Desa Kesambirampak, Kecamatan Kapongan, mengaku ingin seperti teman-teman seusianya yang bisa mengenyam pendidikan. Tidak seperti dirinya yang harus putus sekolah hanya kerena tidak memiliki biaya.
Bagi Radit, jangankan untuk daftar sekolah, menyambung hidup saja sulitnya setengah mati. Dia harus bekerja sendiri.
Radit mengatakan, Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Ibunya juga terpaksa menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Malaysia. Radit dan adiknya, Refan yang masih berusia tujuh tahun harus tinggal bersama kakek neneknya yang sudah lanjut usia.
“Kakek nenek bekerja tapi penghasilannya pas-paspasan hingga tidak bisa menyekolahkan saya, apalagi adik saya. Kalau saya lulus SD tahun 2023, habis itu sudah tidak bisa lanjut ke SMP,” ujar Radit pada koran Jawa Pos Radar Situbondo, Senin (9/2).
Kata dia, sejak lulus SD sudah banting tulang untuk mencari makan. Dia bekerja serabutan demi membantu kebutuhan kakek-nenek dan adik kandungnya. Jika tidak ada pekerjaan, dia hanya menemani adiknya.
“Adik saya masih kecil, tiap hari main dengan saya. kerjaannya ya apa saja, kadang bantu tetanngga bersihkan halaman, kadang ikut ke sawah. ongkosnya ya buat beli beras dan beli lauk untuk makan,” tegas Radit.
Kini harapan Radit sudah terwujud. Sebab keluh kesahnya sudah terdengar telinga pemerintah Kabupaten Situbondo. Radit sudah dijemput oleh Dinas Sosial dan di serahkan ke Unit Pelaksana Teknis Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Anak (UPT PPSAA).
“Alhamdulillah saya sudah satu minggu ada di sini (UPT PPSAA). Selama masuk gedung ini saya masih sering teringat adik dan nenek. Adik saya belum bisa diajak ke sini karena belum bisa lepas dari nenek. Semoga lain kali bisa diajak juga,” tegas Radit.
Fahri Akmal, pekerja sosial di UPT PPSAA Situbondo mengatakan, Radit sudah masuk sejak hari Jumat lalu (5/2). Itu setelah menerima laporan dari Dinas Sosial Kabupaten.
“Begitu diajak Radit langsung mau, kalau pihak keluarganya sempat ragu saat anaknya diminta untuk disekolahkan gratis. Sekarang sudah ikhlas dan berharap anaknya bisa sukses,” katanya.
Fahri menjelaskan, Adit direncanakan masuk di SMP 3 atau di SMP 6. Dalam waktu dekat ini radit masih diajak beradaptasi dengan lingkungan baru.
Selanjutnya pasti akan mengenyam pendidikan sesuai yang diinginkan oleh Radit. “Nanti bakal dikoordinasikan dulu, kira-kira SMP mana yang bisa menerima hingga Radit bisa masuk. Pendaftaran Radit masuk ke periode penerimaaan siswa baru pada bulan Juni 2026,” pungkas Fahri. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono