RadarSitubondo.id – Pedagang gamping atau batu kapur harus ekstra sabar selama berjualan. Sebab, bahan mentah untuk dijadikan bahan cat tembok tradisional tersebut sudah jarang dilirik pembeli.
Dia biasa dipanggil Hadin. Umurnya sudah satu abad lebih. Tepatnya 103 tahun. Dia merupakan salah satu pedagang gamping di Pasar Panji, Situbondo.
Dia mengakui jika gamping saat ini sudah jarang dibeli oleh masyarakat. Sebab itulah pedagang gamping harus serba sabar menunggu pembeli datang.
“Kalau pembeli ya masih ada, tapi sudah jarang. Kadang dua hari tidak ada yang beli sama sekali, kadang satu hari hanya laku dua satu kilo gram (kg) kadang bisa laku hingga lima kg juga dalam sehari. Tergantung rejekinya juga,” kata Hadin, Minggu (31/3).
Hadit menceritakan, masyarakat yang masih membeli gamping kebanyakan dari orang yang membuka usaha cuci kulit sapi. Selain itu, adalah warga yang memiliki pagar dari bambu.
“Sepuluh tahun lalu, orang ngecat tembok rumahnya masih banyak menggunakan gamping. Sekarang sudah tidak ada. Paling dibuat cat pagar dari bambu saja,” ucapnya.
Hadin akan terus berjualan gamping meskipun peminatnya terus menurun. Sebab, pekerjaan tersebut masih membuatnya bertahan hidup.
Di sisi lain, saingan yang berjualan di Pasar Panji juga tidak ada.
“Sekarang usia saya sudah tua, pekerjaan paling gampang ya jualan ini (gamping). Apalagi yang jualan hanya saya, kalau punya rejeki insyaallah pasti ada yang beli, belinya juga pasti ke saya,” pungkasnya. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono