RADARSITUBONDO.ID – Pendapa yang dulu terasa eksklusif mulai dibuka untuk masyarakat. Alun-alun dibenahi, sekolah dan layanan publik diperluas, destinasi wisata bermunculan, hingga komunikasi kepala daerah bergeser ke ruang digital. Begitulah wajah Situbondo yang berubah dari satu periode pemerintahan ke periode berikutnya.
Tahun ini, Kabupaten Situbondo genap berusia 208 tahun. Daerah yang dalam perjalanan sejarahnya pernah dikenal sebagai Kabupaten Besuki dan Panarukan itu telah dipimpin lebih dari 29 bupati.
Dalam momentum Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) ke-208, Jawa Pos Radar Situbondo merangkum jejak sejumlah kepala daerah pascareformasi. Dari Mohammad Diaaman–Soeroto hingga pasangan Yusuf Rio Wahyu Prayogo–Ulfia, setiap periode meninggalkan kebijakan, program, dan warisan pembangunan yang turut membentuk wajah Situbondo hari ini.
Mohammad Diaaman–Soeroto (2000–2005)
Membuka Pendapa untuk Rakyat
Era pascareformasi membawa perubahan besar dalam pola kepemimpinan Situbondo. Mohammad Diaaman menjadi bupati pertama dari kalangan sipil yang dipilih DPRD pada 2000, sekaligus bupati terakhir yang dipilih melalui parlemen.
Menurut Ida Arum Bawana, mantan ajudan Diaaman, sosok Diaaman dikenal sederhana dan memiliki sifat kebapakan. Salah satu perubahan yang paling terasa adalah upayanya mengurangi jarak antara birokrasi dan masyarakat.
Pendapa yang sebelumnya identik dengan kesan eksklusif mulai terbuka. Bahkan, untuk pertama kalinya, pendapa digunakan sebagai tempat Salat Tarawih berjamaah dan masyarakat dari berbagai lapisan dapat masuk ke dalamnya.
“Beliau bupati pertama yang menghilangkan sekat birokrat dengan masyarakat. Juga bupati yang mengikis protokoler kaku,” terang Ida.
Sikap sederhana itu juga terlihat dalam keseharian. Diaaman disebut selalu mengulurkan tangan lebih dulu ketika turun dari kendaraan dinas dan membungkuk kepada orang-orang di sekitarnya saat hendak masuk mobil.
Di bidang pembangunan, sejumlah fasilitas publik mulai dibangun, di antaranya gedung olahraga yang kini dikenal sebagai gedung serba guna, tribun Stadion Mohammad Saleh, ruang Dahlia RSUD Abdoer Rahem, hingga gedung puskeswan di sejumlah titik.
Ismunarso–Soeroso (2005–2010)
Mengubah Wajah Besuki dan Memperluas Pendidikan
Ismunarso–Soeroso tercatat sebagai pasangan pertama yang dipilih langsung oleh masyarakat Situbondo pada 2005. Ismunarso yang berlatar belakang dokter dikenal memiliki kemampuan membangun komunikasi politik.
Salah satu warisannya terlihat di Kecamatan Besuki. Sebagai putra daerah, Ismunarso mendorong pembenahan kawasan tersebut, termasuk mempercantik Alun-Alun Besuki.
Di bidang pendidikan, periode ini juga ditandai dengan pembangunan sejumlah sekolah. Berdirinya SMA Negeri 1 Besuki membuat pelajar di wilayah barat tidak harus pergi jauh untuk melanjutkan pendidikan setelah lulus SMP.
“Jadi siswa-siswa di Besuki kalau sudah lulus SMP tidak perlu lagi sekolah ke kota atau ke Suboh,” terang Dr Fathor Rakhman.
Sejumlah sekolah kejuruan juga dibangun di berbagai wilayah, antara lain SMKN 1 Asembagus, SMKN 1 Situbondo, SMKN 1 Kendit, dan SMKN 1 Suboh.
Ismunarso juga disebut sebagai salah satu kepala daerah yang mulai aktif turun langsung ke desa melalui program Tilik Desa.
Dadang Wigiarto–Rachmad (2010–2015)
Menanam Pondasi Pembangunan Berkelanjutan
Memasuki periode 2010–2015, Situbondo mendapatkan identitas baru sebagai Bumi Sholawat Nariyah, selain julukan Kota Santri.
Di bawah Dadang Wigiarto–Rachmad, pembangunan mulai diarahkan dengan konsep pemerataan yang lebih terstruktur. Salah satunya melalui kuota kecamatan, yakni alokasi APBD yang diberikan secara proporsional untuk kebutuhan masing-masing wilayah.
Rachmad menyebut kebijakan tersebut dibuat karena musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) kerap dianggap sekadar formalitas.
“Dengan kuota tersebut, kecamatan memiliki kuota yang jelas untuk membangun wilayahnya,” paparnya.
Konsep lain yang diperkenalkan adalah second city, dengan Asembagus sebagai kota penyangga wilayah timur dan Besuki di wilayah barat. Fasilitas pelayanan dasar seperti pasar, rumah sakit, taman kota, Damkar, dan Satpol PP diperkuat di dua kawasan tersebut.
Pemerintahan Dadang–Rachmad juga menghadapi pekerjaan rumah besar. Saat awal menjabat, mereka mewarisi persoalan kas daerah sekitar Rp48 miliar yang menjadi catatan BPK.
Namun, sejumlah program kemudian lahir dan bertahan hingga kini. Ancak Agung pertama digelar pada 2011, sedangkan Car Free Day (CFD) dimulai pada 2013.
Ada pula Best Situbondo Carnival (BSC) dan konsep puskesmas tematik yang memberikan layanan khusus sesuai kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.
Dadang Wigiarto–Yoyok Mulyadi (2016–2021)
Mengejar Identitas Wisata di Tengah Ancaman Jalan Tol
Periode kedua Dadang Wigiarto bersama Yoyok Mulyadi membawa perhatian lebih besar terhadap sektor pariwisata dan identitas budaya.
Ancaman pembangunan jalan tol Probolinggo–Banyuwangi menjadi salah satu pertimbangan. Kekhawatirannya, kendaraan yang melintas Situbondo tidak lagi berhenti di jalur pantura.
Karena itu, pemerintah daerah mengembangkan sejumlah destinasi wisata di sepanjang jalur pantura dan mencanangkan 2019 sebagai Tahun Kunjungan Wisata ke Situbondo.
Sekitar 13 destinasi baru dikembangkan dari wilayah barat hingga timur. Di antaranya Kampung Kerapu dan Kampung Blekok.
Kampung Blekok bahkan meraih juara pertama kategori objek kampung wisata rintisan yang digelar Kementerian Pariwisata pada 2021.
“Tempat wisata ini sebenarnya untuk menyambut jalan tol yang akan melintas di Situbondo yang berpotensi orang tidak akan lagi mampir,” jelas Yoyok.
Selain pariwisata, identitas budaya diperkuat melalui pakaian khas Rasok dan Tari Ikon Lajar Pandhalungan.
Di sektor infrastruktur, pembangunan Jalan Lingkar Utara dan pembukaan akses menuju kawasan Alas Bayur Atas dan Bawah turut mengubah konektivitas masyarakat. Akses yang sebelumnya membutuhkan perjalanan berjam-jam melalui Arak-Arak dapat dipangkas menjadi sekitar 15 menit menuju Mlandingan.
Karna Suswandi–Nyai Hj Khoirani (2021–2025)
Infrastruktur Digenjot, Wajah Kota Berubah
Pemerintahan Karna Suswandi–Nyai Hj Khoirani identik dengan pembangunan infrastruktur yang masif.
Pengaspalan jalan menjadi salah satu pembangunan yang paling mudah dirasakan masyarakat. Selain itu, wajah kawasan perkotaan ikut berubah dengan revitalisasi Alun-Alun Situbondo dan Alun-Alun Besuki.
Alun-Alun Situbondo dilengkapi paseban serta air mancur. Pagar Pendapa Bupati Situbondo juga ditata sehingga tampil lebih representatif.
Salah satu proyek yang cukup monumental adalah pembangunan akses menuju Padukuhan Merak yang membelah kawasan Hutan Taman Nasional Baluran. Akses tersebut sekaligus membuka peluang pengembangan wisata alam dan pantai.
Di Panarukan, dibangun gelanggang olahraga yang kemudian dikenal sebagai Gelora Bung Karna.
Penerangan Jalan Umum (PJU) juga diperluas. Pada periode ini, berbagai hiburan dan pertunjukan seni turut digelar, termasuk konser artis ibu kota dan Situbondo Ethnic Festival (SEF) yang menjadi salah satu agenda budaya berskala besar.
Yusuf Rio Wahyu Prayogo–Ulfia (2025–2030)
Bupati Masuk Era Digital, UMKM Jadi Mesin Penggerak
Kepemimpinan Yusuf Rio Wahyu Prayogo bersama Ulfia membawa corak berbeda. Komunikasi kepala daerah dengan masyarakat semakin banyak berlangsung melalui media sosial.
Bupati yang akrab disapa Mas Rio tersebut dikenal aktif menyampaikan berbagai aktivitas dan kebijakan melalui platform digital. Masyarakat pun memiliki kanal yang lebih cepat untuk menyampaikan keluhan maupun aspirasi.
“Bagi saya Mas Rio ini beda dengan bupati-bupati pendahulunya, out of the box dan sangat cocok untuk profil bupati muda masa kini,” ungkap Ichal, pemuda asal Jangkar.
Di sektor ekonomi, Rio–Ulfia memproklamirkan Situbondo sebagai Kabupaten UMKM. Usaha mikro, kecil, dan menengah ditempatkan sebagai salah satu pilar pembangunan sekaligus instrumen pengentasan kemiskinan.
Letak Situbondo di jalur utama menuju Bali dan Banyuwangi dipandang sebagai peluang besar untuk mengembangkan pusat UMKM.
“Setiap hari ribuan orang melintasi Situbondo, baik yang hendak ke Bali maupun kembali. Potensi ini harus kami tangkap untuk menjadikan Situbondo sebagai pusat UMKM,” kata Rio dalam sebuah kesempatan.
Literasi juga menjadi perhatian. Budaya membaca dan akses terhadap pengetahuan didorong sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan masyarakat.
Sementara di sektor pembangunan fisik, revitalisasi Pendapa Pate Alos menjadi salah satu proyek yang menonjol. Wajah kawasan Besuki berubah dan pendapa tersebut diharapkan menjadi kebanggaan masyarakat setempat sekaligus Kabupaten Situbondo secara keseluruhan.
Dari Pendapa hingga Media Sosial
Perjalanan pemerintahan Situbondo selama lebih dari dua dekade menunjukkan satu hal: wajah daerah terus berubah mengikuti zaman.
Era Diaaman ditandai dengan pendapa yang mulai terbuka untuk rakyat. Ismunarso memperkuat pendidikan dan membenahi Besuki. Dadang–Rachmad meletakkan konsep pemerataan pembangunan dan second city. Pada periode berikutnya, Dadang–Yoyok memperkuat wisata dan identitas budaya.
Karna Suswandi melanjutkan pembangunan infrastruktur dalam skala besar, sementara Rio–Ulfia membawa pola komunikasi pemerintahan lebih dekat ke masyarakat melalui ruang digital dan menjadikan UMKM sebagai salah satu fokus pembangunan.
Setiap periode memiliki tantangan dan pendekatan berbeda. Namun, semuanya meninggalkan jejak yang hari ini menjadi bagian dari wajah Situbondo.
Di usia 208 tahun, perjalanan itu belum selesai. Situbondo terus bergerak, dari pendapa yang dahulu terasa jauh dari rakyat hingga komunikasi pemerintahan yang kini bisa berlangsung hanya melalui layar ponsel. (rif/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo