Mengerikan! Wabah Ebola di Kongo Makin Tak Terkendali, WHO Khawatir Bisa Pecahkan Rekor Kematian

Titin Wulandari • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 12:00 WIB
VIRUS : Wabah Ebola di Kongo mengkhawatirkan WHO beri peringatan keras.(Foto:Pixabay)
VIRUS : Wabah Ebola di Kongo mengkhawatirkan WHO beri peringatan keras.(Foto:Pixabay)

Radarsitubondo.id - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. Penyebaran virus Bundibugyo berlangsung cepat di sejumlah wilayah dan menghadapkan petugas kesehatan pada tantangan besar untuk mengendalikan penularan.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah meningkatkan dukungan terhadap pemerintah Kongo dan Uganda. WHO juga menetapkan wabah Ebola akibat virus Bundibugyo sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC) pada 17 Mei 2026.

Kekhawatiran semakin besar karena wabah ini terjadi di wilayah yang menghadapi persoalan keamanan, keterbatasan infrastruktur kesehatan, serta tingginya mobilitas penduduk.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Hari Ini 14 Agustus 2026, Ada yang Harus Waspada Soal Cinta!

Data terbaru WHO per 15 Juli 2026 menunjukkan terdapat 2.124 kasus Ebola terkonfirmasi di Republik Demokratik Kongo, dengan 828 kematian. Kasus telah ditemukan di 46 zona kesehatan yang tersebar di lima provinsi, yakni Ituri, North Kivu, South Kivu, Haut-Uele dan Tshopo.

Sebanyak 38 dari 46 zona kesehatan tersebut masih dikategorikan aktif karena melaporkan kasus dalam 21 hari terakhir.

WHO mencatat peningkatan angka kasus juga dipengaruhi oleh semakin luasnya pengawasan, pemeriksaan laboratorium, serta kemampuan diagnosis. Karena itu, tidak seluruh kasus yang baru dilaporkan berarti merupakan infeksi yang baru terjadi pada hari yang sama.

Wabah kali ini disebabkan oleh virus Ebola Bundibugyo, salah satu spesies Ebola yang relatif jarang ditemukan.

Baca Juga: Nikita Willy Ungkap Realita Jadi Ibu Tak Harus Sempurna, yang Penting Anak Bahagia

Salah satu persoalan paling serius adalah belum tersedianya vaksin berlisensi maupun terapi spesifik yang secara khusus disetujui untuk virus Bundibugyo. WHO menyebut pengembangan dan pengujian sejumlah kandidat vaksin serta terapi masih terus dilakukan.

Meski demikian, WHO menekankan bahwa perawatan suportif secara dini tetap berperan penting dalam meningkatkan peluang pasien untuk bertahan hidup.

Wabah ini secara resmi diumumkan oleh pemerintah Republik Demokratik Kongo pada 15 Mei 2026, setelah pemeriksaan laboratorium mengonfirmasi virus Bundibugyo pada sejumlah sampel.

WHO sebelumnya menerima laporan mengenai penyakit dengan tingkat kematian tinggi di wilayah Mongbwalu, Provinsi Ituri. Pemeriksaan lebih lanjut kemudian memastikan bahwa penyebabnya adalah virus Bundibugyo. Hasil penyelidikan juga menunjukkan bahwa penyebaran kemungkinan telah berlangsung sebelum wabah diumumkan secara resmi. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat upaya pengendalian semakin sulit.

Tantangan di lapangan tidak hanya berasal dari karakteristik virus. Petugas kesehatan juga harus bekerja di wilayah yang memiliki akses terbatas serta menghadapi persoalan keamanan.

Baca Juga: War Tiket Upacara HUT ke-81 RI di Istana Tembus 336 Ribu Orang, Pemerintah Tambah 3.400 Undangan!

WHO mencatat keterbatasan dalam pelacakan kontak, sistem isolasi dan rujukan pasien, serta kondisi tidak aman di sejumlah wilayah menjadi hambatan dalam penanganan wabah.

Situasi tersebut berisiko memperlambat identifikasi pasien dan orang yang melakukan kontak erat dengan penderita.

Di sisi lain, tenaga kesehatan juga menjadi kelompok yang menghadapi risiko tinggi. Hingga pertengahan Juli, puluhan tenaga kesehatan dan pekerja perawatan telah tercatat terinfeksi dalam rangkaian wabah ini.

Pada awalnya, kasus terkonsentrasi di Provinsi Ituri. Namun, penularan kemudian meluas ke North Kivu dan South Kivu, serta beberapa wilayah lainnya.

Kondisi geografis dan tingginya mobilitas masyarakat menjadi tantangan tersendiri. Ituri juga memiliki hubungan pergerakan penduduk dan perdagangan dengan wilayah sekitar, termasuk Uganda dan Sudan Selatan.

Uganda sendiri sebelumnya melaporkan kasus yang berkaitan dengan wabah dari Kongo. Namun, WHO menyebut tidak ada kasus baru di Uganda sejak 21 Juni 2026 dan negara tersebut mulai memasuki periode pengawasan intensif untuk memastikan wabah benar-benar berhenti.

WHO menilai penguatan respons di tingkat lokal menjadi kunci untuk menghentikan penyebaran Ebola.

Langkah yang dilakukan mencakup peningkatan pengawasan penyakit, pelacakan kontak, pemeriksaan laboratorium, penguatan pencegahan dan pengendalian infeksi, penyediaan fasilitas perawatan, distribusi perlengkapan medis serta pelibatan masyarakat.

WHO juga terus mendorong dukungan internasional agar pemerintah dan petugas di lapangan memiliki sumber daya yang cukup untuk menghadapi wabah.

Wabah Ebola Afrika Barat pada 2014-2016 merupakan salah satu wabah Ebola paling mematikan yang pernah tercatat dan menewaskan lebih dari 11 ribu orang.

Karena itu, laju penyebaran wabah Bundibugyo di Kongo menjadi perhatian serius komunitas kesehatan dunia.

WHO hingga kini terus memantau perkembangan kasus dan memperkuat respons di wilayah terdampak. Dengan masih aktifnya penularan di puluhan zona kesehatan, pengendalian wabah menjadi perlombaan melawan waktu.(*)

Editor : Titin Wulandari
wabah Ebola Kongo Ebola 2026 Ebola WHO